Seberang Sana
Indahnya rembulan itu Nona
Memandangi kita kala bercengkrama
Sepasang jari menyatu dengan erat
Menghiasi hati hamba hingga terpikat
Bel alarm sudah berbunyi
Akankah kita berjumpa kembali?
Dalam naungan pelukan renjana
Hamba rasa itu bukan fatamorgana
Aduhai Nona di seberang sana
Sekarang kita bercerita di layar kaca
Apakah Nona akan baik-baik saja?
Karena jarak yang selalu memisahkan kita
Bila Nona saat ini sedang sendu
Hamba selalu bahagia menemanimu
Meski kini bola mata tak saling tertuju
Hanya sandyakala menjadi saksi bisu
2023
Analisis Puisi:
Puisi “Seberang Sana” karya S.H. Fashawi menggambarkan kisah dua insan yang terpisah jarak, tetapi tetap menjaga rasa cinta dan perhatian satu sama lain. Melalui diksi sederhana dan romantis, penyair menghadirkan suasana rindu yang hangat sekaligus sendu.
Tema
Tema utama puisi ini adalah cinta jarak jauh dan kerinduan. Selain itu, terdapat pula tema kesetiaan, harapan, serta ketulusan dalam menjaga hubungan meski terhalang jarak.
Makna Tersirat
Makna tersirat dalam puisi ini adalah bahwa cinta sejati tidak selalu membutuhkan kedekatan fisik. Hubungan yang dipisahkan oleh jarak tetap dapat bertahan apabila dipenuhi ketulusan, perhatian, dan rasa saling menjaga.
Selain itu, puisi ini juga menyiratkan bahwa kenangan indah dapat menjadi kekuatan untuk menghadapi rasa rindu dan kesepian.
Suasana dalam Puisi
Suasana yang terasa dalam puisi ini antara lain:
- Romantis, terutama pada bagian awal ketika penyair mengenang kebersamaan di bawah rembulan.
- Sendu, karena adanya perpisahan jarak.
- Hangat dan penuh kasih, saat penyair tetap ingin menemani orang yang dicintainya.
Amanat / Pesan yang Disampaikan
Amanat yang dapat diambil dari puisi ini adalah pentingnya menjaga ketulusan dan kesetiaan dalam hubungan, walaupun dipisahkan oleh jarak dan keadaan. Selain itu, puisi ini juga mengajarkan bahwa perhatian kecil dan kehadiran emosional tetap berarti bagi orang yang kita sayangi.
Puisi “Seberang Sana” karya S.H. Fashawi menghadirkan kisah cinta jarak jauh yang dipenuhi kerinduan dan ketulusan. Dengan bahasa yang lembut dan romantis, penyair berhasil menggambarkan bahwa jarak bukan penghalang bagi dua hati yang saling menjaga rasa.
Karya: S.H. Fashawi
Biodata S.H. Fashawi:
S.H. Fashawi lahir pada tanggal 15 Oktober 2002 di Bagansiapiapi. Buku kuotes tunggal pertama adalah Ataraxia Perjalanan Menuju Keseimbangan Diri (2023). Ia terpilih menjadi salah satu peserta di ajang Pertemuan Penyair Nusantara XIII di Jakarta. Selain itu karya-karyanya bisa dijumpai di Pura-Pura Penyair, Festival Buitenzorg 2 Bogor Book Party, dan Zine Refleksi Palestine rilisan Bentang Pustaka.