Puisi: Sehabis Kututup Pintu (Karya Iman Budhi Santosa)

Puisi “Sehabis Kututup Pintu” karya Iman Budhi Santosa menggambarkan momen ketika seseorang berhadapan dengan dirinya sendiri dan dengan sesuatu ...
Sehabis Kututup Pintu

Sehabis kututup pintu dan terdiam sesaat
hanyalah diriku, segalanya terbenam dalam jiwaku
begitu cepat, atas nama-Mu, atas nama Kesunyian
seluruh kehidupan menyatu, kehidupan dengan bahasa satu
ketiadaan yang kekal berbunyi: Mu

Di mana hari-hari yang lampau kutinggalkan
kenapa masih juga di sini, membuktikan
nama-nama yang sama di luar pengamatan, kembali
terbit untuk tidak mengecewakan perhitungan zaman yang telah pasti

Sehabis kututup pintu dan terdiam, sesaat
tampaklah diriku, ada
di mana-mana
di setiap benda

1969

Sumber: Dunia Semata Wayang (2005)

Analisis Puisi:

Puisi “Sehabis Kututup Pintu” karya Iman Budhi Santosa merupakan puisi reflektif yang menyoroti pengalaman batin manusia dalam keheningan. Dengan bahasa yang sederhana namun sarat makna spiritual, puisi ini menggambarkan momen ketika seseorang berhadapan dengan dirinya sendiri dan dengan sesuatu yang lebih luas dari dirinya.

Tema

Tema utama puisi ini adalah perenungan diri dan pengalaman spiritual dalam keheningan.

Puisi ini bercerita tentang seseorang yang, setelah menutup pintu dan terdiam, memasuki ruang batin yang sunyi. Dalam kesunyian tersebut, ia merasakan bahwa segala sesuatu menyatu dalam dirinya—masa lalu, kehidupan, bahkan makna keberadaan. Ia juga mempertanyakan jejak waktu dan kenangan yang seolah masih hadir, meskipun telah berlalu. Pada akhirnya, penyair menemukan dirinya hadir di mana-mana, menyatu dengan semesta.

Makna Tersirat

Makna tersirat puisi ini adalah bahwa dalam keheningan, manusia dapat menemukan kesatuan antara diri, waktu, dan Tuhan. Kesunyian bukanlah kekosongan, melainkan ruang untuk memahami hakikat keberadaan.

Suasana dalam Puisi

Suasana puisi ini terasa hening, khusyuk, dan kontemplatif, dengan nuansa spiritual yang kuat.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Puisi ini menyampaikan pesan agar manusia meluangkan waktu untuk merenung dan menyelami dirinya sendiri, karena di dalam keheningan terdapat pemahaman yang lebih dalam tentang kehidupan dan makna keberadaan.

Imaji

Puisi ini menghadirkan imaji yang bersifat abstrak namun kuat:
  • Imaji visual: “menutup pintu”, “terdiam sesaat” sebagai simbol memasuki ruang batin.
  • Imaji perasaan: kesunyian, ketenangan, dan kesadaran diri.
  • Imaji konseptual: “menyatu”, “di mana-mana”, “di setiap benda” menggambarkan kesatuan eksistensi.

Majas

Beberapa majas yang digunakan dalam puisi ini:
  • Metafora: “menutup pintu” sebagai simbol memisahkan diri dari dunia luar untuk masuk ke dalam diri.
  • Personifikasi: “ketiadaan yang kekal berbunyi” memberi sifat hidup pada konsep abstrak.
  • Simbolisme: kesunyian sebagai lambang ruang spiritual dan perenungan.
  • Repetisi: pengulangan frasa “sehabis kututup pintu” untuk menegaskan momen penting refleksi.
  • Paradoks: ketiadaan yang justru “berbunyi”, menunjukkan makna dalam kekosongan.
Puisi “Sehabis Kututup Pintu” merupakan perjalanan batin menuju kesadaran diri dan spiritualitas. Iman Budhi Santosa menghadirkan pengalaman kontemplatif yang mendalam, mengajak pembaca untuk memahami bahwa dalam kesunyian, manusia dapat menemukan makna hidup yang paling hakiki.

Iman Budhi Santosa
Puisi: Sehabis Kututup Pintu
Karya: Iman Budhi Santosa

Biodata Iman Budhi Santosa:
  • Iman Budhi Santosa pada tanggal 28 Maret 1948 di Kauman, Magetan, Jawa Timur, Indonesia.
  • Iman Budhi Santosa meninggal dunia pada tanggal 10 Desember 2020 (pada usia 72 tahun) di Dipowinatan, Yogyakarta, Indonesia.
© Sepenuhnya. All rights reserved.