Puisi: Sejak Lama (Karya Ajamuddin Tifani)

Puisi “Sejak Lama” karya Ajamuddin Tifani menghadirkan pergulatan batin manusia dalam mencari makna cinta, ketuhanan, dan kehidupan yang sejati.
Sejak Lama
zikir bersama la bastari

sejak lama aku tak percaya kepada ketenteraman
dan sorga hanya bagi si pengharap yang menunggui
kehidupan dengan gairah pedagang: betapa kecil
upah derita jika untuknya dipersembahkan surga
atau neraka

kuidamkan nyeri hingga ke sumsum
dan pada puncaknya aku mendesahkanmu dengan gairah
bercumbu, luruh dalam kelenjarmu, dan cukup puas
hanya dengan cinta
yang melingkupi segala cinta

kuidamkan sesentuh ‘nun’ untuk datang menepati janji
bagi isyarat dari berbagai isyarat yang kau lamatkan
di timbunan debu-debu waktu, yang belum sempat terbaca
seluruhnya, serta menjawab pertanyaan sendiri ini
pertanyaan sepi ini
sambil menyerahkan kerakapku
yang tumbuh di batu-Mu

Sumber: Tanah Perjanjian (2005)

Analisis Puisi:

Puisi “Sejak Lama” karya Ajamuddin Tifani merupakan puisi reflektif yang bernuansa spiritual dan sufistik. Penyair menghadirkan pergulatan batin manusia dalam mencari makna cinta, ketuhanan, dan kehidupan yang sejati. Dengan bahasa yang padat simbol dan penuh perenungan, puisi ini mengajak pembaca memasuki pengalaman spiritual yang mendalam.

Puisi ini tidak hanya berbicara tentang hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga tentang pencarian makna hidup yang melampaui imbalan surga atau ancaman neraka.

Tema

Tema utama puisi ini adalah spiritualitas dan pencarian cinta sejati kepada Tuhan. Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema kegelisahan batin, ketulusan iman, dan pencarian makna kehidupan.

Puisi ini bercerita tentang seseorang yang sejak lama tidak percaya pada ketenteraman semu dan konsep ibadah yang hanya mengharapkan surga atau takut pada neraka.

Penyair merasa bahwa kehidupan tidak seharusnya dijalani seperti pedagang yang menghitung untung-rugi pahala. Ia justru menginginkan pengalaman spiritual yang mendalam hingga ke “sumsum”.

Dalam puisi ini, cinta digambarkan sebagai sesuatu yang melingkupi segala cinta. Penyair mendambakan penyatuan batin dan kedekatan spiritual yang murni.

Pada bagian akhir, penyair menghadirkan simbol “nun”, debu waktu, dan kerakap di batu Tuhan sebagai gambaran perjalanan panjang manusia dalam mencari jawaban atas kesunyian dan pertanyaan hidupnya.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini adalah bahwa cinta kepada Tuhan seharusnya lahir dari ketulusan, bukan karena mengharap balasan.

Puisi ini juga menyiratkan bahwa manusia sering terjebak dalam cara berpikir materialistis bahkan dalam urusan spiritual, seperti menganggap surga sebagai upah.

Selain itu, penyair menunjukkan bahwa perjalanan spiritual adalah proses sunyi dan panjang untuk memahami diri sendiri serta makna kehidupan.

Simbol “nun” dapat dimaknai sebagai tanda spiritual atau rahasia ilahi yang ingin dipahami manusia.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi ini terasa khusyuk, sunyi, reflektif, dan penuh kerinduan spiritual. Ada nuansa mistis dan kontemplatif yang sangat kuat.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Pesan yang dapat dipetik dari puisi ini adalah bahwa manusia perlu menjalani kehidupan dan ibadah dengan ketulusan hati, bukan sekadar mengejar imbalan.

Puisi ini juga mengajarkan bahwa cinta sejati bersifat luas dan mendalam, melampaui kepentingan pribadi.

Selain itu, penyair mengingatkan bahwa pencarian makna hidup membutuhkan kesabaran, perenungan, dan keberanian menghadapi kesunyian batin.

Imaji

Puisi ini memiliki beberapa imaji yang kuat, antara lain:
  • Imaji perasaan, menghadirkan rasa rindu spiritual, sepi, dan pencarian makna.
  • Imaji visual, terlihat pada debu-debu waktu, kerakap di batu, dan simbol-simbol sunyi.
  • Imaji peraba, tampak pada “nyeri hingga ke sumsum”.
  • Imaji suasana, memperlihatkan nuansa hening dan kontemplatif.
  • Imaji gerak batin, terlihat pada proses penyerahan diri dan pencarian jawaban hidup.

Majas

Beberapa majas yang digunakan dalam puisi ini antara lain:
  • Metafora, pada ungkapan “kehidupan dengan gairah pedagang”, “nyeri hingga ke sumsum”, dan “kerakapku yang tumbuh di batu-Mu”.
  • Simbolisme, simbol “nun” melambangkan rahasia atau tanda spiritual.
  • Paradoks, terlihat pada penolakan terhadap ketenteraman dan surga demi pencarian cinta yang lebih murni.
  • Personifikasi, tampak pada debu waktu yang menyimpan isyarat-isyarat kehidupan.
  • Hiperbola, digunakan untuk memperkuat pengalaman spiritual dan emosional.
  • Religius simbolik, terlihat dari penggunaan kata surga, neraka, dan batu-Mu yang mengarah pada pengalaman ketuhanan.
Puisi “Sejak Lama” karya Ajamuddin Tifani adalah puisi spiritual yang menggambarkan pencarian cinta dan makna hidup secara mendalam. Penyair menolak pandangan ibadah yang bersifat untung-rugi dan lebih memilih ketulusan cinta kepada Tuhan. Dengan bahasa simbolik dan nuansa sufistik yang kuat, puisi ini menghadirkan pengalaman membaca yang reflektif dan penuh perenungan.

Puisi: Sejak Lama
Puisi: Sejak Lama
Karya: Ajamuddin Tifani

Biodata Ajamuddin Tifani:
  • Ajamuddin Tifani lahir di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, pada tanggal 23 September 1951.
  • Ajamuddin Tifani meninggal dunia di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, pada tanggal 6 Mei 2002.
© Sepenuhnya. All rights reserved.