Puisi: Sekuntum Gelisah dalam Sepekan (Karya Pulo Lasman Simanjuntak)

Puisi “Sekuntum Gelisah dalam Sepekan” karya Pulo Lasman Simanjuntak menyiratkan bahwa kegaduhan dunia luar dapat memengaruhi dunia batin seorang ...
Sekuntum Gelisah dalam Sepekan

sekuntum gelisah disodorkan
dari oma tua pandai bicara
di belakang rumah dalam sepekan ini

lewat ketukan palu
tukang berwajah beton
bertalu-talu diliputi ketakutan

sunyi-Mu lalu terjebak dalam kayu
sehingga sang pujangga
hanya bisa menulis syair celaka ini

Pamulang, Minggu 26/9/2021

Analisis Puisi:

Puisi “Sekuntum Gelisah dalam Sepekan” karya Pulo Lasman Simanjuntak merupakan puisi pendek yang sarat makna simbolik dan suasana batin yang muram. Dengan larik-larik singkat, penyair menghadirkan gambaran kegelisahan, ketakutan, dan keterasingan manusia di tengah perubahan atau situasi yang tidak nyaman.

Meskipun sederhana dalam bentuk, puisi ini mengandung kedalaman makna yang mengajak pembaca merenungkan hubungan antara manusia, kesunyian, dan proses kreatif seorang penyair.

Tema

Tema utama puisi ini adalah kegelisahan batin dan keterasingan manusia. Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema ketakutan, perubahan, dan keresahan seorang penyair terhadap keadaan di sekitarnya.

Puisi ini bercerita tentang suasana penuh kegelisahan yang dirasakan penyair selama sepekan. Kegelisahan itu muncul dari “oma tua” di belakang rumah yang digambarkan seolah memiliki kehidupan dan mampu “pandai bicara”.

Kemudian hadir gambaran suara ketukan palu dari tukang berwajah beton yang bertalu-talu dan dipenuhi ketakutan. Situasi tersebut menciptakan suasana yang bising sekaligus menekan batin penyair.

Pada bagian akhir, penyair menggambarkan bahwa “sunyi” seakan terjebak dalam kayu sehingga dirinya hanya mampu menulis “syair celaka”. Hal ini menunjukkan kondisi batin yang kacau, tertekan, dan kehilangan ketenangan.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini dapat dipahami sebagai kritik terhadap perubahan atau pembangunan yang menghilangkan ketenangan hidup manusia.

“Oma tua” kemungkinan melambangkan masa lalu, kenangan, atau sesuatu yang akrab dan penuh sejarah. Sementara bunyi palu dan tukang berwajah beton dapat dimaknai sebagai simbol pembangunan, kekerasan kehidupan modern, atau tekanan sosial yang mengikis ketenangan batin.

Puisi ini juga menyiratkan bahwa kegaduhan dunia luar dapat memengaruhi dunia batin seorang manusia, bahkan mengganggu proses berpikir dan berkarya.

Suasana dalam Puisi

Suasana yang terasa dalam puisi ini antara lain:
  • Gelisah dan muram.
  • Sunyi tetapi menekan.
  • Penuh ketakutan dan kecemasan.
  • Reflektif serta emosional.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Beberapa amanat yang dapat diambil dari puisi ini yaitu:
  • Manusia perlu menjaga ketenangan batin di tengah perubahan hidup.
  • Kegaduhan dan tekanan lingkungan dapat memengaruhi kondisi jiwa seseorang.
  • Perubahan zaman jangan sampai menghilangkan nilai-nilai kemanusiaan dan kedamaian.
  • Karya sastra sering lahir dari pergulatan batin dan kegelisahan penyair.

Imaji dalam Puisi

Puisi ini memiliki beberapa jenis imaji yang cukup kuat.
  • Imaji Auditori: Pembaca seolah dapat mendengar suara ketukan palu yang bertalu-talu. Contoh: “lewat ketukan palu”.
  • Imaji Visual: Pembaca dapat membayangkan sosok “tukang berwajah beton” dan suasana rumah tua di belakang rumah. Contoh: “tukang berwajah beton”.
  • Imaji Perasaan: Puisi ini sangat kuat menghadirkan perasaan gelisah, takut, dan tertekan. Contoh: “bertalu-talu diliputi ketakutan”.

Majas dalam Puisi

Beberapa majas yang digunakan dalam puisi ini antara lain:
  • Personifikasi: “Oma tua” digambarkan dapat berbicara seperti manusia. Contoh: “oma tua pandai bicara”. Selain itu, “sunyi” juga digambarkan seperti sesuatu yang bisa terjebak. “sunyi-Mu lalu terjebak dalam kayu”
  • Metafora: “Sekuntum gelisah” merupakan metafora yang menggambarkan kegelisahan sebagai sesuatu yang hidup dan tumbuh seperti bunga.
  • Simbolisme: “Tukang berwajah beton” menjadi simbol kerasnya kehidupan modern atau pembangunan yang terasa dingin dan tidak manusiawi.
Puisi “Sekuntum Gelisah dalam Sepekan” karya Pulo Lasman Simanjuntak menggambarkan kegelisahan batin manusia melalui simbol-simbol yang puitis dan penuh makna. Dengan suasana muram dan reflektif, penyair menyampaikan keresahan terhadap perubahan, kegaduhan hidup, serta hilangnya ketenangan batin di tengah dunia yang terus bergerak.

Lasman Simanjuntak
Puisi: Sekuntum Gelisah dalam Sepekan
Karya: Pulo Lasman Simanjuntak

Biodata Pulo Lasman Simanjuntak:
    Pulo Lasman Simanjuntak lahir pada tanggal 20 Juni 1961 di Surabaya. Ia pernah menempuh pendidikan di Sekolah Tinggi Publisistik (STP/IISIP-Jakarta). Ia belajar sastra secara otodidak. Hasil karya sajaknya pertama kali dipublikasikan sewaktu masih duduk di bangku SMP, yakni dimuat di ruang sanjak anak-anak Harian Umum Kompas tahun 1977.
      Pada tahun 1980 sampai tahun 2022 sajak-sajaknya mulai disiarkan di Majalah Keluarga, Dewi, Nova, Monalisa, Majalah Mahkota, Harian Umum Merdeka, Suara Karya, Jayakarta, Berita Yudha, Media Indonesia, Harian Sore Terbit, Harian Umum Seputar Indonesia (Sindo), SKM. Simponi, SKM. Inti Jaya, SKM. Dialog, HU. Bhirawa (Surabaya), Koran Media Cakra Bangsa (Jakarta), Majalah Habatak Online, dan masih banyak lainnya.
        Buku kumpulan sajak tunggalnya yang sudah terbit Traumatik (1997), Kalah atau Menang (1997), Taman Getsemani(2016), Bercumbu Dengan Hujan (2021), Tidur di Ranjang Petir (2021), Mata Elang Menabrak Karang (2021), dan Rumah Terbelah Dua (2021).
          Sajaknya juga termuat dalam 15 Buku Antologi Puisi Bersama Penyair di seluruh Indonesia.
            Namanya juga telah masuk dalam Buku Pintar Sastra Indonesia Halaman 185-186 diterbitkan oleh Kompas (PT. Kompas Media Nusantara) cetakan ketiga tahun 2001 dengan Editor Pamusuk Eneste, serta Buku Apa & Siapa Penyair Indonesia halaman 451 diterbitkan oleh Yayasan Puisi Indonesia dengan Editor Maman S Mahayana dan Kurator Sutardji Calzoum Bahchri, Abdul Hadi W.M, Rida K. Liamsi, Ahmadun Y Herfanda, dan Hasan Aspahani.
              Lasman Simanjuntak saat ini menjabat sebagai Ketua Komunitas Sastra Pamulang (KSP), dan bekerja sebagai wartawan media online.
              © Sepenuhnya. All rights reserved.