Puisi: Sendiri-Sendiri (Karya Rusli Marzuki Saria)

Puisi ini bercerita tentang pengalaman batin manusia dalam berbagai fase: mulai dari suasana religius pada hari Jumat, di mana manusia tunduk ...
Sendiri-Sendiri
Sebaris-Sebaris

Hari Jumat yang tenang belibis turun berenang
Tuhan berfirman dalam Qur'an
Muhammad berpesan dalam Hadits
Kita merunduk hingga lutut.

Hari ini alam telentang di rumput. Bernafas
dalam. Kita bernafas dalam. Terhempas
dari gurun sepi
Sendiri-sendiri

Malaikat hinggap di sini
Di daun meja tulisku
Jatuh sajak di tengah malam yang rawan
Sebaris-sebaris.

***

Dinihari hujan
Sebuah vas bunga. Angin tergerai rawan
Bunga. Angin. Sepi di ujung jalan
Di luar jalanan. Rasul-rasul berjalan
Zaman emas kenabian.

Dinihari hujan
Kita bersarong. Kedinginan
Bunga. Angin. Usia menggelai di lutut
Jalan, di luar kain pintu melambai
Bukittinggi – Padang sama menunggu.

***

Kita makin tua rumah ditumbangkan angin
Dan tahun-tahun sudah tak kita punya
Kau usap pipiku bergaris
Kita tidak ‘kan diterima laut kembali
Angin berpusar-pusar badai menggila
Rimba perburuan telah lupakan kita
Di pematang hutan ini kita usap mata bagai sudah mimpi
Di tubir tanah tapakkan babi hutan dulu

Sumber: Parewa (1998)

Analisis Puisi:

Puisi “Sendiri-Sendiri Sebaris-Sebaris” karya Rusli Marzuki Saria merupakan puisi yang kaya akan nuansa spiritual, refleksi waktu, serta kesadaran akan keterasingan manusia. Dengan struktur yang terbagi dalam beberapa bagian, puisi ini menghadirkan perjalanan batin yang bergerak dari ketenangan religius menuju kesadaran akan usia, kesepian, dan kefanaan.

Tema

Tema utama puisi ini adalah perjalanan spiritual manusia yang berujung pada kesadaran akan kesendirian dan kefanaan hidup.

Puisi ini bercerita tentang pengalaman batin manusia dalam berbagai fase: mulai dari suasana religius pada hari Jumat, di mana manusia tunduk kepada Tuhan, hingga pengalaman kontemplatif di tengah alam dan waktu yang terus berjalan. Kehadiran malaikat, hujan dinihari, dan kenangan masa lalu memperkaya perjalanan tersebut.

Pada bagian akhir, puisi beralih pada kesadaran akan usia yang menua, kehilangan tempat berpijak, serta keterasingan dari alam dan masa lalu. Ada kesan bahwa manusia berjalan sendiri-sendiri dalam hidupnya, dan pada akhirnya hanya menyisakan kenangan yang perlahan memudar.

Makna Tersirat

Makna tersirat puisi ini adalah bahwa manusia, meskipun hidup dalam kebersamaan dan keyakinan spiritual, pada akhirnya akan menghadapi kesendirian dan kefanaan secara pribadi. Waktu menghapus banyak hal—rumah, kenangan, bahkan identitas—hingga manusia harus berdamai dengan kenyataan tersebut.

Suasana dalam Puisi

Suasana puisi ini terasa hening, reflektif, dan melankolis, dengan pergeseran dari ketenangan religius menuju kesedihan yang mendalam akibat kesadaran akan usia dan kehilangan.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Puisi ini menyampaikan pesan agar manusia menyadari keterbatasan hidup, menghargai waktu, serta memperkuat hubungan spiritual sebagai bekal menghadapi kesendirian dan kefanaan.

Imaji

Puisi ini sangat kaya dengan imaji:
  • Imaji visual: “belibis turun berenang”, “malaikat hinggap di daun meja”, “hujan dinihari”, “rumah ditumbangkan angin”.
  • Imaji auditif: suasana hening yang diisi oleh desah napas dan alam.
  • Imaji perasaan: kesepian, ketenangan, dan kelelahan usia.
  • Imaji gerak: “angin berpusar-pusar”, “rasul-rasul berjalan”.

Majas

Beberapa majas yang digunakan dalam puisi ini:
  • Metafora: “sendiri-sendiri sebaris-sebaris” sebagai gambaran perjalanan hidup manusia yang terpisah namun sejajar.
  • Personifikasi: “angin menggila”, “alam telentang” memberi sifat manusia pada alam.
  • Simbolisme: hujan, angin, dan jalan melambangkan perjalanan hidup dan perubahan waktu.
  • Repetisi: pengulangan kata seperti “dinihari hujan” untuk menegaskan suasana.
  • Alusi religius: penyebutan Qur’an, Hadits, dan rasul-rasul sebagai rujukan spiritual.
Puisi ini merupakan refleksi mendalam tentang kehidupan manusia dari sudut pandang spiritual dan eksistensial. Rusli Marzuki Saria menghadirkan perjalanan yang sunyi namun penuh makna, mengajak pembaca untuk merenungkan posisi dirinya di antara waktu, iman, dan kesendirian yang tak terelakkan.

Rusli Marzuki Saria
Puisi: Sendiri-Sendiri
Karya: Rusli Marzuki Saria

Biodata Rusli Marzuki Saria:
  • Rusli Marzuki Saria lahir pada tanggal 26 Februari 1936 di Kamang, Bukittinggi.
© Sepenuhnya. All rights reserved.