Sepasang Hikayat
Semestinya tak ada yang dilenyapkan dengan angkara. Semesta adalah kelengangan yang menumbuhkan ilalang di antara gandum. Para penuai masih terlelap sebab anggur terbaik yang terminum semalam disisihkan tuan rumah hingga akhir pesta. Di sisi Nuh, Lot ikut menengadah. Anggur dalam tempayan terakhir telah habis ditenggak. Setelah air setelah api, mereka sama menanti, apa lagi yang akan dimuntahkan langit ke atas mezbah yang kehilangan puja-puji?
Naimata, 2011-2014
Sumber: Lelaki Bukan Malaikat (Gramedia Pustaka Utama, 2015)
Analisis Puisi:
Puisi “Sepasang Hikayat” karya Mario F. Lawi merupakan puisi reflektif yang sarat simbol religius dan filosofis. Dalam puisi ini, penyair memadukan kisah-kisah kitab suci dengan renungan tentang kehancuran, kesabaran, dosa manusia, dan penantian terhadap masa depan.
Bahasa yang digunakan padat dan simbolik, sehingga puisi terasa seperti sebuah renungan spiritual yang mendalam.
Tema
Tema utama puisi ini adalah kehancuran dan penantian spiritual. Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema dosa manusia, penghakiman, dan harapan setelah bencana atau kehancuran.
Puisi ini bercerita tentang keadaan dunia yang penuh kekosongan dan kehilangan makna spiritual. Penyair membuka puisi dengan pernyataan bahwa tidak seharusnya ada sesuatu yang dimusnahkan dengan angkara atau kebencian.
Kemudian semesta digambarkan sebagai kelengangan yang menumbuhkan ilalang di antara gandum. Gambaran ini menunjukkan adanya keburukan yang tumbuh berdampingan dengan kebaikan.
Tokoh-tokoh religius seperti Nuh dan Lot dihadirkan sebagai simbol manusia yang pernah menghadapi murka Tuhan berupa air bah dan api. Mereka digambarkan sedang menengadah dan menunggu apa lagi yang akan “dimuntahkan langit”.
Pada bagian akhir, puisi menghadirkan mezbah yang kehilangan puja-puji, menandakan dunia yang mulai kehilangan nilai spiritual dan penghormatan terhadap Tuhan.
Makna Tersirat
Makna tersirat dalam puisi ini adalah bahwa manusia hidup di tengah dunia yang penuh kehancuran moral dan spiritual.
Ilalang di antara gandum melambangkan kejahatan yang tumbuh di antara kebaikan. Tokoh Nuh dan Lot menjadi simbol pengalaman manusia menghadapi hukuman dan ujian besar.
Puisi ini juga menyiratkan kecemasan terhadap masa depan manusia yang kehilangan kesadaran spiritual, sehingga hanya bisa menunggu bencana berikutnya.
Selain itu, mezbah yang kehilangan puja-puji menunjukkan krisis iman dan hilangnya hubungan manusia dengan nilai-nilai suci.
Suasana dalam Puisi
Suasana dalam puisi ini terasa muram, hening, kontemplatif, dan penuh penantian. Ada nuansa spiritual sekaligus kegelisahan terhadap nasib manusia.
Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi
Pesan yang dapat dipetik dari puisi ini adalah bahwa manusia harus menjaga nilai kemanusiaan dan spiritualitas agar tidak terjerumus dalam kehancuran. Puisi ini juga mengingatkan bahwa kebencian dan keserakahan hanya akan melahirkan kerusakan.
Selain itu, penyair mengajak pembaca untuk merenungkan kembali hubungan manusia dengan Tuhan dan kehidupan yang dijalani.
Imaji
Puisi ini memiliki beberapa imaji yang kuat, antara lain:
- Imaji visual, terlihat pada ilalang, gandum, tempayan anggur, langit, dan mezbah.
- Imaji suasana, menghadirkan kesan sunyi, kosong, dan menegangkan.
- Imaji perasaan, memperlihatkan rasa cemas, pasrah, dan penantian.
- Imaji gerak, tampak pada langit yang seolah akan “memuntahkan” sesuatu ke bumi.
Majas
Beberapa majas yang digunakan dalam puisi ini antara lain:
- Metafora, pada “semesta adalah kelengangan” dan “langit memuntahkan”.
- Personifikasi, terlihat pada langit yang seolah memiliki kemampuan memuntahkan sesuatu.
- Simbolisme, ilalang melambangkan keburukan, gandum melambangkan kebaikan, sedangkan mezbah melambangkan spiritualitas.
- Alusi religius, tampak pada penyebutan Nuh dan Lot yang merujuk pada kisah kitab suci.
- Paradoks, terlihat pada keberadaan ilalang di antara gandum sebagai simbol kebaikan dan keburukan yang hidup berdampingan.
- Hiperbola, digunakan untuk memperkuat suasana kehancuran dan penantian besar.
Puisi “Sepasang Hikayat” karya Mario F. Lawi adalah puisi reflektif yang memadukan simbol religius dan renungan filosofis tentang kondisi manusia. Dengan menghadirkan kisah Nuh dan Lot, penyair menggambarkan dunia yang berada di antara harapan dan kehancuran. Bahasa simbolik dan suasana hening dalam puisi ini menjadikannya kaya makna serta mengajak pembaca merenungkan kehidupan, moralitas, dan spiritualitas manusia.
Karya: Mario F. Lawi
- Mario F. Lawi lahir pada tanggal 18 Februari 1991 di Kupang, NTT.