Puisi: Sesudah Pemakaman (Karya Rayani Sriwidodo)

Puisi "Sesudah Pemakaman" karya Rayani Sriwidodo menciptakan atmosfer yang hening dan penuh kesedihan setelah sebuah pemakaman. Penyair ...
Sesudah Pemakaman
(In memoriam Asneli Lutan)

tak ada angin sore ini, tak ada angin
layang termangu

daun antar pohon kepribadian kita
tak lagi angguk, tak saling silang esok lusa
sebagaimana ke makam-makam lama
apa lagi pintu bersapa

di terik pulang
kami patah lidah menyebutmu sang mendiang
berlompatan kenangan
sekian pelajaran kesiaan
laut dalam gelas

Sumber: Horison (Juli, 1984)

Analisis Puisi:

Puisi "Sesudah Pemakaman" karya Rayani Sriwidodo menciptakan atmosfer yang hening dan penuh kesedihan setelah sebuah pemakaman. Penyair mengeksplorasi tema kehilangan, kesunyian, dan kenangan yang tetap hidup setelah seseorang meninggal.

Deskripsi Atmosfer Setelah Pemakaman: Puisi ini dibuka dengan gambaran atmosfer setelah pemakaman yang sunyi dan hening. Ungkapan "tak ada angin sore ini, tak ada angin" menciptakan kesan keheningan dan ketenangan yang mencerminkan suasana pasca-pemakaman.

Metafora Layang yang Termangu: Layang yang termangu di tengah-tengah keheningan dapat diartikan sebagai simbol kehilangan dan kekosongan. Layang yang tidak lagi bergerak atau "termangu" menciptakan citra tentang ketidakmampuan untuk melanjutkan perjalanan, seolah-olah kehilangan telah membekukan waktu.

Daun Antar Pohon Kepribadian: Metafora "daun antar pohon kepribadian kita" menyiratkan hubungan yang terputus atau distorsi dalam hubungan personal. Daun yang tak lagi bergerak atau bersilangan menciptakan gambaran ketidakmampuan untuk menyambungkan ikatan setelah kepergian seseorang.

Pemakaman Sebagai Metafora Terhadap Kepergian: Penyair menggunakan gambaran "sebagaimana ke makam-makam lama" untuk merujuk pada keadaan yang tidak lagi bersilangan, mengarahkan pikiran pembaca ke makna simbolis tentang kepergian dan pemisahan. Pintu yang tidak lagi bersapa menciptakan gambaran ketidakmampuan untuk berkomunikasi atau menyambungkan hubungan.


Ekspresi Kesedihan di Terik Pulang: Ungkapan "di terik pulang" memberikan citra panas teriknya suasana pulang setelah pemakaman. Penyair menyampaikan betapa sulitnya merangkai kata-kata dan menyebut nama sang mendiang. "Kami patah lidah menyebutmu sang mendiang" menciptakan kesan kesedihan dan kehilangan yang mendalam.

Berlompatan Kenangan sebagai Pelajaran Kesiaan: Pernyataan "berlompatan kenangan" menciptakan citra bahwa kenangan meloncat-loncat, muncul dan menghilang dalam ingatan. Kata-kata ini memberikan nuansa pelajaran tentang kesiaan dan kehancuran yang terjadi setelah pemakaman.

Simbolisme Laut Dalam Gelas: Puisi ini diakhiri dengan simbolisme laut dalam gelas. "Laut dalam gelas" bisa diartikan sebagai kandungan kehidupan yang terus berkembang meskipun dalam keterbatasan atau kesempitan. Simbolisme ini menciptakan gambaran tentang keabadian dan kesinambungan kehidupan meskipun kematian telah terjadi.

Bahasa yang Menggugah Emosi: Rayani Sriwidodo menggunakan bahasa yang menggugah emosi dengan memilih kata-kata yang mampu menciptakan citra dan nuansa perasaan. Penyair berhasil menyampaikan suasana hati yang penuh kesedihan dan kehilangan.

Penggunaan Metafora dan Simbolisme yang Kuat: Puisi ini menggunakan metafora dan simbolisme yang kuat untuk menyampaikan makna yang mendalam. Layang, daun, makam, dan laut dalam gelas semuanya berfungsi sebagai simbol-simbol yang mengandung banyak makna terkait kehidupan, kepergian, dan keabadian.

Kesimpulan Puisi sebagai Refleksi Kehidupan: "Sesudah Pemakaman" bisa dianggap sebagai refleksi terhadap kehidupan setelah kehilangan. Puisi ini menyentuh tema keheningan, kekosongan, dan pengalaman berduka, mengajak pembaca untuk merenung tentang arti kehidupan dan hubungan manusia.

Puisi "Sesudah Pemakaman" menciptakan gambaran yang dalam dan melibatkan pembaca dalam atmosfer sedih setelah kepergian seseorang. Dengan penggunaan bahasa yang indah dan simbolisme yang kuat, Rayani Sriwidodo berhasil menyampaikan perasaan kehilangan dan kesedihan yang universal.

Rayani Sriwidodo
Puisi: Sesudah Pemakaman
Karya: Rayani Sriwidodo

Biodata Rayani Sriwidodo:
  • Rayani Lubis lahir di Kotanopan, Tapanuli Selatan, pada tanggal 6 November 1946.
  • Rayani Lubis meniadakan marga di belakang nama setelah menikah dengan pelukis Sriwidodo pada tahun 1969 dan menambahkan nama suaminya di belakang namanya sehingga menjadi Rayani Sriwidodo.
© Sepenuhnya. All rights reserved.