Puisi: Siapa (Karya Faisal Ismail)

Puisi “Siapa” karya Faisal Ismail merupakan refleksi eksistensial yang kuat tentang perjalanan manusia dalam menghadapi arah hidup, ketidakpastian, ..
Siapa

Siapa berjalan sendirian ke arah barat
Di suatu sore yang gerimis
Ia tampak lelah di suatu tikungan
Berhenti sejenak memutar pikiran
Tapi ia tidak menoleh ke belakang
Tak ada akses ke jalan lain
Tanpa kaca mata di matanya
Tidak ada jam kota di depannya

Siapa berjalan sendirian ke arah timur
Di suatu senja yang redup
Ia tidak membaca ke mana arah awan bergerak
Tak mengetahui ke mana arah kembara mengelana
Ia hanya melihat mayat-mayat hasrat
Bergelimpangan dengan bau busuk yang menyengat
Bibit penyakit menghambur dan menjamur
Dimakan gagak hitam musim gugur

Siapa berjalan sendirian ke arah utara
Di suatu musim panas yang meranggas
Lalu ia melihat matahari yang gerhana
Di atas kuburan orang-orang yang fana
Tak ada lagi sebongkah tanah yang tertinggal
Untuk sebuah nyawa
Untuk sebuah makna

Siapa berjalan sendirian le arah selatan
Di suatu malam gelap gulita
Ia mendengar suara rusuh yang jauh
Isyarat aib nasib akan menggerogoti seluruh tubuh
Ia berhenti sejenak memutar pikiran
Membaca tanda-tanda akhir
Membaca takdir

Yogya, 2013

Sumber: Majalah Sabana (Oktober, 2014)

Analisis Puisi:

Puisi “Siapa” karya Faisal Ismail merupakan refleksi eksistensial yang kuat tentang perjalanan manusia dalam menghadapi arah hidup, ketidakpastian, dan keterbatasan makna. Dengan struktur repetitif dan simbol arah mata angin, puisi ini membangun narasi kontemplatif yang menggambarkan kesendirian dan pencarian jati diri.

Tema

Tema utama puisi ini adalah pencarian makna hidup dalam kesendirian dan ketidakpastian arah. Selain itu, terdapat tema tentang kefanaan, kehampaan, dan krisis eksistensial manusia.

Puisi ini bercerita tentang seseorang yang berjalan sendirian ke berbagai arah: barat, timur, utara, dan selatan. Setiap arah menghadirkan pengalaman berbeda, tetapi semuanya mengandung unsur keterasingan, kebingungan, dan kehampaan.
  • Ke arah barat, ia tampak lelah dan kehilangan orientasi.
  • Ke arah timur, ia menghadapi kehancuran hasrat dan bau kebusukan kehidupan.
  • Ke arah utara, ia menyaksikan kefanaan manusia yang telah menjadi bagian dari kematian.
  • Ke arah selatan, ia mulai membaca tanda-tanda takdir dan kemungkinan akhir hidupnya.
Perjalanan ini bukan sekadar geografis, melainkan simbol perjalanan batin manusia.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini meliputi:
  • “berjalan sendirian” → kesendirian eksistensial; manusia pada akhirnya menghadapi hidup sendiri.
  • “tak ada akses ke jalan lain” → keterbatasan pilihan atau takdir yang mengikat.
  • “mayat-mayat hasrat” → keinginan yang gagal atau mati.
  • “kuburan orang-orang fana” → kesadaran bahwa semua manusia akan berakhir sama.
  • “membaca takdir” → usaha memahami arah hidup dan nasib.
Puisi ini menyiratkan bahwa hidup adalah perjalanan penuh ketidakpastian, di mana manusia harus menghadapi pilihan, kehilangan, dan akhirnya kematian.

Suasana dalam Puisi

Suasana yang terasa adalah suram, gelap, dan reflektif. Ada nuansa kelelahan, kehampaan, serta kecemasan terhadap masa depan dan takdir.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Puisi ini menyampaikan bahwa:
  • Manusia harus menyadari bahwa hidup adalah perjalanan yang penuh risiko dan ketidakpastian.
  • Penting untuk merenungkan arah hidup dan memahami konsekuensi dari setiap pilihan, sebelum semuanya berakhir.

Imaji

Puisi ini kaya akan imaji yang kuat:
  • Imaji visual: gerimis sore, mayat-mayat hasrat, kuburan, malam gelap gulita.
  • Imaji penciuman: “bau busuk yang menyengat”.
  • Imaji gerak: berjalan, berhenti, mengelana.
  • Imaji suasana: senja redup, musim gugur, gerhana.
  • Imaji perasaan: lelah, takut, bingung.

Majas

Beberapa majas yang digunakan:
  • Repetisi: pengulangan kata “Siapa berjalan sendirian…” untuk menegaskan tema kesendirian.
  • Metafora: “mayat-mayat hasrat”.
  • Simbolisme: arah mata angin sebagai simbol pilihan hidup.
  • Personifikasi: “musim gugur memakan” (implisit dalam gambaran gagak dan musim).
Melalui puisi “Siapa”, Faisal Ismail menghadirkan refleksi mendalam tentang arah hidup manusia yang penuh ketidakpastian. Dengan simbol arah mata angin, puisi ini menegaskan bahwa ke mana pun manusia melangkah, ia tetap akan berhadapan dengan pertanyaan mendasar tentang makna, pilihan, dan akhir kehidupan. Sebuah karya yang mengajak pembaca untuk merenung: sebenarnya, ke mana arah langkah itu ditujukan?

Faisal Ismail
Puisi: Siapa
Karya: Faisal Ismail

Biodata Faisal Ismail:
  • Faisal Ismail lahir pada tanggal 15 Mei 1947 di Prembun, Sumenep, Madura.
© Sepenuhnya. All rights reserved.