Puisi: Sore Hari (Karya Bambang Darto)

Puisi “Sore Hari” karya Bambang Darto menyiratkan bahwa cinta yang gagal dapat membawa manusia ke dalam kegelapan batin, tetapi juga membuka ...
Sore Hari

Hujan turun di saat jam rusak
dan matahari menggelap
Hari tanpa angin
dan ketika geludug menggedor dada
hatiku luka

Ah, cinta yang tak saling berkabar
separo garam separo air tawar merembes ke akar.
Kapan aku tak melihat daun-daun kuning: berguguran
kapan aku tak terkena racun cinta
yang dipelihara lampu lima watt
untuk akhirnya dijadikan korban!

Tapi ini ungkapan februari tergelap
yang ditinggal mata tercerdas
di mana jalan setapak yang menuju bukit itu berkabut
Lebih ke sana sedikit, hanya kenangan
jauh ke sana lagi, hei mari bangkit lagi
dan bukan penantian seperti ini.

Mataku pun lebih nanar
menatap keseluruhan sore
dan membangunnya kembali di malam hari
sebelum akhirnya benar-benar terjun ke laut
: esok hari.

Sumber: Kota Terbayang (Taman Budaya Yogyakarta, 2017)

Analisis Puisi:

Puisi “Sore Hari” karya Bambang Darto menghadirkan potret batin yang kompleks melalui lanskap alam yang muram. Dengan perpaduan antara citraan cuaca dan emosi, puisi ini menggambarkan pergulatan cinta, kehilangan, dan upaya bangkit dari keterpurukan.

Tema

Tema utama puisi ini adalah kekecewaan cinta dan pergulatan batin dalam menghadapi kehilangan. Selain itu, terdapat tema tentang keinginan untuk bangkit dari kondisi emosional yang gelap.

Puisi ini bercerita tentang seseorang yang mengalami luka batin akibat cinta yang tidak berjalan baik. Suasana sore yang digambarkan tidak biasa—hujan turun, matahari menggelap, dan hari terasa tanpa angin—menjadi latar emosional dari kegelisahan tersebut.

Penyair merasakan hubungan yang tidak lagi saling berkabar, cinta yang “beracun”, dan kenangan yang terus membayang. Namun, di tengah kegelapan itu, muncul dorongan untuk bangkit dan tidak terus terjebak dalam penantian yang menyakitkan.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini meliputi:
  • “hujan di saat jam rusak” → waktu yang terasa kacau dan tidak berjalan normal.
  • “matahari menggelap” → hilangnya harapan atau kebahagiaan.
  • “cinta tak saling berkabar” → hubungan yang renggang atau terputus.
  • “separo garam separo air tawar” → ketidakseimbangan dalam hubungan.
  • “racun cinta” → cinta yang justru menyakitkan.
  • “lampu lima watt” → harapan kecil yang redup.
  • “jalan setapak berkabut” → masa depan yang tidak jelas.
  • “terjun ke laut: esok hari” → kemungkinan keputusan besar atau perubahan drastis.
Puisi ini menyiratkan bahwa cinta yang gagal dapat membawa manusia ke dalam kegelapan batin, tetapi juga membuka peluang untuk bangkit dan melanjutkan hidup.

Suasana dalam Puisi

Suasana yang terasa adalah muram, gelisah, dan emosional, kemudian perlahan berubah menjadi reflektif dan penuh tekad.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Puisi ini menyampaikan bahwa:
  • Tidak semua cinta membawa kebahagiaan; ada yang justru melukai.
  • Manusia perlu memiliki keberanian untuk bangkit dari luka dan tidak terjebak dalam penantian yang sia-sia.

Imaji

Puisi ini kaya akan imaji yang kuat:
  • Imaji visual: hujan, matahari gelap, daun kuning berguguran, jalan berkabut.
  • Imaji auditif: “geludug menggedor dada”.
  • Imaji perasaan: luka, kecewa, rindu.
  • Imaji gerak: berguguran, merembes, terjun.

Majas

Beberapa majas yang digunakan:
  • Personifikasi: “geludug menggedor dada”.
  • Metafora: “racun cinta”, “jam rusak” sebagai kondisi waktu batin.
  • Simbolisme: hujan, kabut, dan sore sebagai simbol kondisi emosional.
  • Hiperbola: intensitas luka dan kegelapan yang dilebihkan.
  • Kontras: antara kegelapan dan dorongan untuk bangkit.
Melalui puisi “Sore Hari”, Bambang Darto menghadirkan refleksi tentang luka cinta yang mendalam sekaligus harapan untuk pulih. Puisi ini mengajarkan bahwa meskipun hidup pernah diliputi kegelapan, manusia tetap memiliki kemampuan untuk membangun kembali dirinya dan melangkah menuju hari berikutnya.

Bambang Darto
Puisi: Sore Hari
Karya: Bambang Darto

Biodata Bambang Darto:
  • Bambang Darto lahir di Nganjuk, pada tanggal 26 Februari 1950.
  • Bambang Darto meninggal dunia di Yogyakarta pada tanggal 20 Januari 2018.
© Sepenuhnya. All rights reserved.