Puisi: Suara Minor (Karya Pulo Lasman Simanjuntak)

Puisi “Suara Minor” karya Pulo Lasman Simanjuntak menggambarkan suasana kehidupan yang keras, penuh kebisingan, luka batin, dan kegelisahan sosial.
Suara Minor

pertama mendarat di sini
rakus berdandan parfum
bau tetanus
di perut kaki gulungan logam: sepi yang menggelepar!

mencangkul lantai rumah
kicau bekicot terdengar merdu
lagu pop cinta itu birahi luka
tiap minggu bersekutu, ujar batuk knalpot
mampu memuntahkan dendam
ke rusuk-rusuk ranjang

berselingkuh dia dalam sarung
penghuni sudah berlari
mendaki mulut hutan belantara
sampai kapan pun
dia harus dipasung
mata bor


Jakarta, September 2022

Analisis Puisi:

Puisi “Suara Minor” karya Pulo Lasman Simanjuntak merupakan puisi yang penuh simbol, kritik sosial, dan nuansa kelam. Penyair menggunakan diksi yang tidak biasa untuk menggambarkan suasana kehidupan yang keras, penuh kebisingan, luka batin, dan kegelisahan sosial.

Tema

Tema puisi ini adalah kritik terhadap kehidupan sosial yang rusak, kegelisahan batin, dan kehancuran moral manusia modern. Puisi juga menggambarkan suasana hidup yang penuh kebisingan, kepalsuan, dan penderitaan.

Puisi ini bercerita tentang lingkungan kehidupan yang kacau dan menyesakkan. Kehidupan digambarkan dipenuhi suara-suara bising, kemarahan, luka, serta perilaku manusia yang kehilangan arah moral.

Penggunaan kata-kata seperti “gulungan logam”, “batuk knalpot”, dan “mata bor” memberi gambaran dunia modern yang keras dan mekanis. Sementara itu, manusia di dalamnya tampak hidup dalam kegelisahan dan ketidaktenangan.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini menunjukkan kritik terhadap kehidupan modern yang penuh kepalsuan dan kerusakan batin. “Parfum” yang disandingkan dengan “bau tetanus” menggambarkan usaha menutupi kebusukan dengan penampilan luar.

Puisi ini juga menyiratkan bahwa kebisingan dunia modern dapat melahirkan rasa sepi, dendam, dan kehampaan dalam diri manusia. Selain itu, terdapat sindiran terhadap moral manusia yang mulai rusak dan kehilangan nilai kemanusiaan.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi terasa gelap, penuh tekanan, dan suram. Ada kesan bising sekaligus sepi yang muncul bersamaan, sehingga menciptakan nuansa batin yang tidak nyaman dan penuh kegelisahan.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Puisi ini menyampaikan pesan agar manusia lebih sadar terhadap kerusakan sosial dan moral di sekitarnya. Penyair seolah mengingatkan bahwa kehidupan modern yang penuh kepalsuan dan kebisingan dapat menghancurkan ketenangan batin manusia.

Selain itu, puisi ini juga mengajak pembaca untuk lebih peka terhadap nilai kemanusiaan dan tidak terjebak dalam kehidupan yang hanya bersifat lahiriah.

Imaji

Puisi ini mengandung beberapa jenis imaji, antara lain:
  • Imaji Pendengaran: Tampak pada ungkapan “kicau bekicot terdengar merdu”, “ujar batuk knalpot”. Pembaca seolah mendengar suara-suara aneh dan bising dalam puisi.
  • Imaji Visual: Terlihat pada “gulungan logam”, “mulut hutan belantara”, “mata bor”. Ungkapan tersebut menghadirkan gambaran suasana keras dan menyeramkan.
  • Imaji Perasaan: Tampak pada “sepi yang menggelepar”, “memuntahkan dendam”. Pembaca dapat merasakan tekanan batin dan kemarahan yang kuat.

Majas

Puisi ini menggunakan beberapa majas, di antaranya:
  • Metafora: “bau tetanus” melambangkan kebusukan atau penyakit sosial. “mata bor” dapat dimaknai sebagai kekuatan keras yang menekan kehidupan manusia.
  • Personifikasi: “sepi yang menggelepar” membuat sepi seolah hidup dan bergerak. “batuk knalpot” memberi sifat manusia pada benda.
  • Paradoks: “kicau bekicot terdengar merdu” menghadirkan sesuatu yang tidak lazim dan bertentangan dengan kenyataan.
Puisi “Suara Minor” karya Pulo Lasman Simanjuntak merupakan puisi simbolik yang kuat dalam menggambarkan kegelisahan sosial dan kerusakan moral manusia modern. Dengan pilihan kata yang unik dan penuh metafora, penyair menghadirkan suasana gelap, bising, dan penuh tekanan batin. Puisi ini mengajak pembaca untuk merenungkan kondisi kehidupan modern yang sering kali menjauhkan manusia dari ketenangan dan nilai kemanusiaan.

Pulo Lasman Simanjuntak
Puisi: Suara Minor
Karya: Pulo Lasman Simanjuntak

Biodata Pulo Lasman Simanjuntak:
    Pulo Lasman Simanjuntak lahir di Surabaya, 20 Juni 1961. Ia menempuh pendidikan di Sekolah Tinggi Publisistik (STP/IISIP-Jakarta). Lasman Simanjuntak belajar sastra secara otodidak. Hasil karya sajaknya pertama kali dipublikasikan sewaktu masih duduk di bangku SMP, yakni dimuat di ruang sanjak anak-anak Harian Umum Kompas tahun 1977.

    Kemudian pada tahun 1980 sampai tahun 2022 sajak-sajaknya mulai disiarkan di Majalah Keluarga, Dewi, Nova, Monalisa, Majalah Mahkota, Harian Umum Merdeka, Suara Karya, Jayakarta, Berita Yudha, Media Indonesia, Harian Sore Terbit, Harian Umum Seputar Indonesia (Sindo), Koran Media Cakra Bangsa (Jakarta), Majalah Habatak Online, dan banyak lagi lainya.

    Selain di Media Online dan Media Offline, sajaknya juga termuat dalam 17 Buku Antologi Puisi Bersama Penyair di seluruh Indonesia.

    Buku kumpulan sajak tunggalnya yang sudah terbit Traumatik (1997), Kalah atau Menang (1997), Taman Getsemani (2016), Bercumbu dengan Hujan (2021), Tidur di Ranjang Petir (2021), Mata Elang Menabrak Karang (2021), Rumah Terbelah Dua (2021).

    Pada saat ini Pulo Lasman Simanjuntak sedang mempersiapkan penerbitan buku Antologi Puisi Tunggal ke-8 berjudul Bila Sunyiku Ikut Terluka (2022).

    Beberapa karya puisinya juga telah diterjemahkan (dialihaksarakan) kepada penulisan aksara Arab Melayu.

    Pada Minggu 18 September 2022 puisinya berjudul Pohon Itu Kesunyian atau The Tree Was Silent mendapat sertifikat keunggulan dari Global Poetry Forum karena dinilai puisi tersebut luar biasa.

    Namanya juga telah masuk dalam buku Pintar Sastra Indonesia (2001) yang disunting oleh Pamusuk Eneste, serta buku Apa & Siapa Penyair Indonesia (2017) yang disunting oleh Maman S. Mahayana bersama Sutardji Calzoum Bahchri, Abdul Hadi W.M, Rida K.Liamsi, Ahmadun Y. Herfanda, dan Hasan Aspahani.

    Pada tahun 2021 ia mendapat piagam dan medali penghargaan Setya Sastra Nagari (30 tahun Kesetiaan Sastra Indonesia) oleh Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia.

    Pada bulan Juni dan Juli 2022 berturut-turut karya puisinya memperoleh juara III dan juara II Puisi Pilihan Terbaik oleh Komunitas Sastra SNW ( Sastra Nusa Widhita).

    Saat ini Lasman Simanjuntak aktif sebagai anggota Dapur Sastra Jakarta (DSJ), Komunitas dari Negeri PociSastera Sahabat Kita (berpusat di Sabah Malaysia) serta Ketua Komunitas Sastra Pamulang (KSP).
    © Sepenuhnya. All rights reserved.