Surat dari Muara Teweh
Aku datang di sini mendaki pinggir kota yang landai
Bertiup angin kering pucuk pohonan yang tunduk
Bumi berpunggung-punggung rengkah
Bagai dahagaku yang rindu kerna kautinggal dalam resah
Musim adalah selalu hadir atas kita
Tapi tidak sangsi sekali berpaling dari berburu cinta
Kerna aku telah bertolak
Dari kota tinggal sedari kaki mulai berpijak
Memang adalah terlalu jauh mata air membawa hati kita
Dan sebuah tangan mengunjuk bagai mengisyarat kata terdengar
Kau pun tinggal sepi, Farida
Aku datang di sini dan berdiri di tanah tinggi
Bila malam tiba
Yang ingin kulengos kata-kata samar yang tak ingin kudengar
Aku sangat rindu
Kehendak adalah tantangan dari kota sepi yang kutinjau
Kemilau yang membakar matahari musim kemarau
Begitu mereka tajam-tajam menampar dan bisiknya begini:
Ah, kapan kau pulang, yamani
1959
Sumber: Tanah Huma (1978)
Analisis Puisi:
Puisi “Surat dari Muara Teweh” karya Hijaz Yamani merupakan puisi yang sarat dengan nuansa kerinduan, keterasingan, dan pergulatan batin. Penyair menggunakan gambaran alam serta suasana kota yang kering untuk memperkuat emosi penyair yang sedang berada jauh dari seseorang yang dicintainya.
Melalui diksi yang puitis dan penuh simbol, puisi ini menghadirkan pengalaman emosional tentang perpisahan dan kerinduan yang mendalam.
Tema
Tema utama puisi ini adalah kerinduan dan perjalanan hidup. Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema keterasingan, cinta, dan pergulatan batin seseorang yang berada jauh dari kampung halaman maupun orang yang dicintai.
Puisi ini bercerita tentang seseorang yang datang ke sebuah tempat bernama Muara Teweh dan merasakan kesepian yang mendalam. Penyair mengenang seseorang bernama Farida sambil menghadapi suasana kota yang kering dan sunyi.
Perjalanan fisik yang dilakukan penyair tampaknya juga menjadi perjalanan emosional. Ia meninggalkan tempat asalnya, tetapi justru membawa rasa rindu yang semakin besar.
Makna Tersirat
Makna tersirat dalam puisi ini adalah bahwa jarak dan perjalanan hidup sering kali membawa manusia pada kesunyian batin. Walaupun seseorang pergi untuk mengejar tujuan tertentu, kenangan dan cinta tetap sulit dilupakan.
Puisi ini juga menunjukkan bahwa kerinduan dapat hadir melalui alam, suasana kota, maupun kesunyian malam. Rasa rindu menjadi sesuatu yang terus mengikuti ke mana pun seseorang pergi.
Suasana dalam Puisi
Suasana dalam puisi ini cenderung sendu, sepi, dan penuh kerinduan. Gambaran tentang angin kering, bumi yang rengkah, dan malam yang sunyi memperkuat nuansa kesepian penyair.
Di beberapa bagian, suasana juga terasa gelisah karena penyair tampak mengalami pergulatan batin antara keinginan untuk bertahan dan dorongan untuk pulang.
Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi
Pesan yang dapat diambil dari puisi ini adalah bahwa perjalanan hidup tidak selalu membawa kebahagiaan. Terkadang, semakin jauh seseorang pergi, semakin besar pula rasa rindu dan kehampaan yang dirasakan.
Puisi ini juga mengingatkan bahwa hubungan emosional dengan seseorang atau kampung halaman memiliki kekuatan yang sulit dipisahkan dari kehidupan manusia.
Imaji
Puisi ini memiliki beberapa jenis imaji yang kuat, antara lain:
- Imaji penglihatan, seperti pada larik “Bertiup angin kering pucuk pohonan yang tunduk” dan “Bumi berpunggung-punggung rengkah”.
- Imaji perasaan, tampak pada ungkapan kerinduan dan kesepian penyair.
- Imaji pendengaran, terlihat pada bagian “bisiknya begini: Ah, kapan kau pulang, yamani”.
Imaji-imaji tersebut membuat pembaca dapat merasakan suasana kota yang gersang sekaligus kesedihan batin penyair.
Majas
Beberapa majas yang terdapat dalam puisi ini antara lain:
- Personifikasi, pada larik “Bumi berpunggung-punggung rengkah” karena bumi digambarkan seperti makhluk hidup yang memiliki punggung.
- Metafora, pada ungkapan “mata air membawa hati kita” yang melambangkan harapan atau perasaan cinta.
- Simile, pada kalimat “Bagai dahagaku yang rindu” yang membandingkan kerinduan dengan rasa dahaga.
- Hiperbola, pada ungkapan “Kemilau yang membakar matahari musim kemarau” untuk mempertegas suasana panas dan kerasnya kehidupan.
Puisi “Surat dari Muara Teweh” karya Hijaz Yamani menggambarkan kerinduan mendalam seseorang yang berada jauh dari orang yang dicintai dan dari tempat asalnya. Dengan penggunaan bahasa yang puitis serta gambaran alam yang kuat, puisi ini berhasil menghadirkan suasana sunyi dan emosional yang menyentuh pembaca.
