Puisi: Tercerai dari Laut (Karya Bambang Darto)

Puisi “Tercerai dari Laut” karya Bambang Darto merupakan puisi reflektif yang mengangkat tema keterpisahan, perubahan, dan pencarian makna hidup.
Tercerai dari Laut

Jika mawar lesi tak memerah kembali
apa yang dibisikkan musim pada matahari
Jika bulan tak muncul dan bintang-bintang tak berhamburan
apa yang dibisikkan musim pada malam

Mawar pun berkata: "kawan tercerai dari kawan
ikan tercerai dari lautnya
di dunia ini mana yang abadi."

Betapa mimpi mengungguli tidur
betapa jalan mengungguli rencana

Adakah seseorang harus menunduk
untuk membayangkan langit!

Saat itu mustinya aku kembali ke laut
mukjizat luas yang mengajariku untuk lebih hidup dan dewasa!

Sumber: Kota Terbayang (Taman Budaya Yogyakarta, 2017)

Analisis Puisi:

Puisi “Tercerai dari Laut” karya Bambang Darto merupakan puisi reflektif yang mengangkat tema keterpisahan, perubahan, dan pencarian makna hidup. Dengan memanfaatkan simbol alam seperti mawar, laut, dan langit, penyair menghadirkan perenungan filosofis tentang ketidakkekalan dan proses pendewasaan manusia.

Tema

Tema utama puisi ini adalah keterpisahan dan ketidakkekalan dalam kehidupan. Selain itu, terdapat tema tentang pencarian jati diri dan proses pendewasaan.

Puisi ini bercerita tentang perenungan seseorang terhadap berbagai fenomena alam yang berubah dan tidak selalu berjalan sebagaimana mestinya.

Pertanyaan-pertanyaan retoris tentang mawar yang tak memerah, bulan yang tak muncul, dan bintang yang tak bersinar menunjukkan kegelisahan terhadap perubahan.

Kemudian, muncul pernyataan bahwa dalam kehidupan, segala sesuatu bisa terpisah—seperti kawan dengan kawan, atau ikan dengan lautnya. Pada bagian akhir, penyair menyadari pentingnya kembali ke “laut”, yang menjadi simbol asal, pembelajaran, dan kedewasaan.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini antara lain:
  • Tidak ada yang abadi dalam kehidupan, semua dapat berubah dan terpisah.
  • Keterpisahan adalah bagian dari proses hidup, yang mengajarkan kedewasaan.
  • Laut sebagai simbol asal-usul dan kebijaksanaan, tempat manusia belajar tentang kehidupan.
  • Mimpi dan realitas memiliki hubungan yang kompleks, di mana keinginan bisa melampaui rencana.
  • Manusia perlu kembali pada hakikat dirinya untuk menemukan makna hidup.

Suasana dalam Puisi

Suasana puisi ini bersifat kontemplatif, tenang, namun juga melankolis. Ada nuansa perenungan yang mendalam terhadap kehidupan.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Pesan yang dapat ditangkap antara lain:
  • Manusia harus menerima perubahan dan keterpisahan sebagai bagian dari hidup.
  • Penting untuk kembali pada sumber atau nilai dasar kehidupan, agar dapat tumbuh dan dewasa.
  • Jangan terjebak dalam rencana semata, karena hidup sering berjalan di luar dugaan.

Imaji

Puisi ini menghadirkan imaji yang kuat dan simbolik, seperti:
  • Imaji visual: “mawar tak memerah”, “bulan tak muncul”, “bintang tak berhamburan”, “laut luas”.
  • Imaji suasana: perubahan musim dan ketidakpastian.
  • Imaji simbolik: laut sebagai ruang pembelajaran dan kedewasaan.
Imaji tersebut memperkuat kesan filosofis puisi.

Majas

Beberapa majas yang digunakan dalam puisi ini antara lain:
  • Metafora: “ikan tercerai dari lautnya” sebagai simbol keterpisahan yang mendalam.
  • Personifikasi: musim yang “membisikkan” sesuatu pada matahari dan malam.
  • Simbolisme: laut (asal-usul), mawar (keindahan), langit (cita-cita).
  • Paradoks: “mimpi mengungguli tidur”, “jalan mengungguli rencana”.
Puisi “Tercerai dari Laut” merupakan refleksi filosofis tentang perubahan, keterpisahan, dan perjalanan menuju kedewasaan. Bambang Darto menghadirkan pemikiran bahwa hidup tidak pernah statis, dan justru melalui keterpisahan serta perubahan, manusia belajar memahami dirinya dan dunia. Puisi ini mengajak pembaca untuk menerima dinamika hidup serta kembali pada sumber makna yang lebih dalam.

Bambang Darto
Puisi: Tercerai dari Laut
Karya: Bambang Darto

Biodata Bambang Darto:
  • Bambang Darto lahir di Nganjuk, pada tanggal 26 Februari 1950.
  • Bambang Darto meninggal dunia di Yogyakarta pada tanggal 20 Januari 2018.
© Sepenuhnya. All rights reserved.