Puisi: Tol-Tol Itu sampai ke Laut (Karya Faris Al Faisal)

Puisi "Tol-Tol Itu sampai ke Laut" karya Faris Al Faisal memberikan gambaran tentang dampak pembangunan infrastruktur terhadap lanskap dan lingkungan.
Tol-Tol Itu sampai ke Laut

Jalan baru: tol-tol itu sampai ke laut, ke
warna kebiruan yang memeluk tubuh. 
Selancar bagi roda-roda kendaraan, meninggalkan
bebatu di dermaga yang kedinginan.
Dan kau mengucap perpisahan, kepada pelabuhan. 
Setelah ledakan terjadi, mungkin dari pipa minyak  
—100 tahun, 1000 tahun.
Jalur dari teluk dan tanjung, ke pulau ke banyak negara.
Hubungan yang erat, 
di atas kejaran lari ombak.
Seseorang telah merancangnya, pada mimpi.
Anasir bagi dunia, yang diciptakan.

Indramayu, 2021

Analisis Puisi:

Puisi "Tol-Tol Itu sampai ke Laut" karya Faris Al Faisal membawa pembaca ke dalam refleksi tentang perubahan dan perkembangan, terutama dalam konteks pembangunan infrastruktur modern.

Pembangunan Infrastruktur dan Perubahan Lanskap: Puisi membuka dengan gambaran jalan tol yang mengarah ke laut, mengekspresikan transformasi dan pembangunan yang melibatkan lautan dan pelabuhan. Pembangunan jalan tol diarahkan menuju warna biru laut, menciptakan gambaran perubahan lanskap yang signifikan.

Keselarasan Warna dan Hubungan dengan Alam: Puisi menyatukan warna kebiruan laut dengan pembangunan jalan tol, menciptakan keselarasan antara kemajuan manusia dan alam. Penggabungan ini mungkin mencerminkan aspirasi untuk mencapai keseimbangan antara perkembangan teknologi dan keberlanjutan alam.

Perlambatan di Dermaga yang Kedinginan: Gambaran bebatu di dermaga yang kedinginan menciptakan atmosfer lambat dan seakan waktu berhenti. Ini bisa diartikan sebagai refleksi terhadap dampak pembangunan terhadap keadaan lingkungan lokal, di mana kemajuan dapat memunculkan pertanyaan tentang keseimbangan ekologi.

Perpisahan dengan Pelabuhan: Ucapan perpisahan kepada pelabuhan menambah dimensi emosional pada puisi. Ini dapat diartikan sebagai representasi hubungan antara manusia dan tempat-tempat yang memiliki makna historis atau sentimental, yang mungkin terganggu oleh perkembangan infrastruktur.

Ledakan dan Pipa Minyak: Referensi terhadap ledakan, kemungkinan dari pipa minyak, menciptakan gambaran dampak industri dan penggunaan sumber daya alam. Ini dapat diartikan sebagai peringatan terhadap risiko dan kerentanan lingkungan akibat pembangunan.

Jalur dari Teluk dan Tanjung ke Banyak Negara: Puisi menciptakan gambaran jalur dari teluk dan tanjung ke banyak negara, menyoroti keterhubungan global yang dibawa oleh pembangunan infrastruktur. Ini menciptakan citra hubungan internasional yang erat melalui jaringan transportasi.

Rancangan Mimpi dan Anasir bagi Dunia: Puisi diakhiri dengan menyebutkan bahwa seseorang telah merancangnya pada mimpi, menciptakan rancangan yang menjadi anasir bagi dunia. Ini bisa diartikan sebagai dorongan kreatif dan imajinatif manusia untuk menciptakan perubahan dan perbaikan dalam dunia yang dihuninya.

Puisi "Tol-Tol Itu sampai ke Laut" karya Faris Al Faisal memberikan gambaran tentang dampak pembangunan infrastruktur terhadap lanskap dan lingkungan. Dengan menggunakan imaji yang kaya, puisi ini mengajak pembaca untuk merenungkan konsekuensi pembangunan modern dan peran manusia dalam merancang masa depan bumi.

Puisi: Tol-Tol Itu sampai ke Laut
Puisi: Tol-Tol Itu sampai ke Laut
Karya: Faris Al Faisal

Biodata Faris Al Faisal:

Faris Al Faisal lahir dan berdikari d(ar)i Indramayu, Jawa Barat, Indonesia. Bergiat di Komite Sastra, Dewan Kesenian Indramayu (DKI) dan Lembaga Kebudayaan Indramayu (LKI). Namanya masuk buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia” Yayasan Hari Puisi. Pada “World Poetry Day March 21” menuntaskan 1 Jam Baca Puisi Dunia di Gedung Kesenian Mama Soegra Dewan Kesenian Indramayu (2021).

Puisinya mendapat Hadiah Penghargaan dalam Sayembara Menulis Puisi Islam ASEAN Sempena Mahrajan Persuratan dan Kesenian Islam Nusantara ke-9 Tahun 2020 di Membakut, Sabah, Malaysia, Juara 1 Lomba Cipta Puisi Anugerah RD. Dewi Sartika dan mendapat Piala bergilir Anugerah RD. Dewi Sartika, Bandung (2019), mendapatkan juga Anugerah “Puisi Umum Terbaik” Disparbud DKI 2019 dalam Perayaan 7 Tahun Hari Puisi Indonesia Yayasan Hari Puisi, dan pernah Juara 1 Lomba Cipta Puisi Kategori Umum Tingkat Asia Tenggara Pekan Bahasa dan Sastra 2018 Universitas Sebelas Maret, Surakarta.

Tersiar pula puisi-puisinya di surat kabar Indonesia dan Malaysia. Buku puisi keduanya “Dari Lubuk Cimanuk ke Muara Kerinduan ke Laut Impian” penerbit Rumah Pustaka (2018).
© Sepenuhnya. All rights reserved.