Tonggak Tua
Tonggak tua digirik kumbang berlobang di tengah-tengah
Warga rumah gedang ini cuma mendoa tasbih di tangan
Demi rantau dan kotanya, betapa diriku nanar sesudah mimpi
Masa silam kenyang oleh derita yaitu perang
Kujenguk juga mereka yang berwajah limau kering
kujawat tangannya dalam, tanda turut berduka
Keras hidup tak bisa dibagi dengan matahari
Teguh imannya di sini hidup kembali bersemi
1963
Sumber: Horison (Oktober, 1969)
Analisis Puisi:
Puisi “Tonggak Tua” karya Rusli Marzuki Saria merupakan karya yang sarat dengan nuansa historis, sosial, dan spiritual. Melalui simbol “tonggak tua”, penyair menghadirkan refleksi tentang masa lalu yang penuh penderitaan, serta keteguhan masyarakat dalam mempertahankan iman dan kehidupan.
Tema
Tema utama puisi ini adalah keteguhan hidup di tengah penderitaan dan jejak sejarah masa lalu. Selain itu, terdapat tema tentang ingatan kolektif terhadap masa perang dan daya tahan masyarakat.
Puisi ini bercerita tentang sebuah lingkungan atau komunitas (rumah gedang) yang menyimpan jejak masa lalu, khususnya penderitaan akibat perang.
Simbol “tonggak tua” menggambarkan sesuatu yang telah lama berdiri, namun kini mulai rapuh dan berlubang—seperti kenangan atau sejarah yang telah dimakan waktu. Penyair menyaksikan kehidupan masyarakat yang tetap bertahan, berdoa, dan menjalani kehidupan meskipun pernah mengalami kesulitan besar.
Makna Tersirat
Makna tersirat dalam puisi ini antara lain:
- Sejarah meninggalkan luka, tetapi juga membentuk keteguhan manusia.
- Ketahanan masyarakat tradisional, yang tetap berpegang pada iman dan kebersamaan.
- Waktu yang menggerus segalanya, termasuk simbol-simbol kekuatan masa lalu.
- Harapan yang tumbuh kembali, meskipun dari kondisi yang penuh derita.
Suasana dalam Puisi
Suasana puisi ini cenderung sendu, reflektif, namun juga penuh keteguhan. Ada kesedihan yang terasa, tetapi tidak kehilangan harapan.
Amanat / pesan yang disampaikan puisi
Pesan yang dapat ditangkap antara lain:
- Manusia perlu menghargai sejarah dan penderitaan masa lalu.
- Keteguhan iman dan kebersamaan menjadi kekuatan utama dalam menghadapi kesulitan.
- Kehidupan harus tetap dijalani dengan harapan, meskipun pernah mengalami masa kelam.
Imaji
Puisi ini menghadirkan imaji yang kuat dan khas, seperti:
- Imaji visual: “tonggak tua berlubang”, “rumah gedang”, “wajah limau kering”.
- Imaji suasana: kesunyian, doa, dan keletihan hidup.
- Imaji sentuhan: “menjabat tangan” sebagai simbol empati.
Imaji tersebut memperkuat kesan kehidupan yang nyata dan emosional.
Majas
Beberapa majas yang digunakan dalam puisi ini antara lain:
- Metafora: “tonggak tua” sebagai simbol sejarah atau kekuatan yang mulai rapuh.
- Personifikasi: waktu yang “menggerik” atau merusak tonggak.
- Simbolisme: “tasbih” (iman), “rumah gedang” (tradisi/komunitas).
- Hiperbola: penggambaran penderitaan akibat perang.
- Kontras: antara masa lalu yang penuh derita dan masa kini yang mulai bangkit.
Puisi “Tonggak Tua” merupakan refleksi mendalam tentang hubungan antara sejarah, penderitaan, dan ketahanan hidup manusia. Rusli Marzuki Saria menghadirkan gambaran bahwa meskipun waktu telah merapuhkan banyak hal, nilai-nilai seperti iman, kebersamaan, dan harapan tetap mampu menjaga kehidupan agar terus bersemi.
Puisi: Tonggak Tua
Karya: Rusli Marzuki Saria
Biodata Rusli Marzuki Saria:
- Rusli Marzuki Saria lahir pada tanggal 26 Februari 1936 di Kamang, Bukittinggi.