Puisi: Trotoar Jalan (Karya Pramesetya Aniendita)

Puisi “Trotoar Jalan” karya Pramesetya Aniendita menyiratkan bahwa di tengah modernitas kota, masih banyak manusia yang hidup tanpa perhatian dan ...

Trotoar Jalan

Trotoar jalan ini tak asing bagi hujan,
ia selalu tiba dengan langkah pelan.
Mengusap tikar plastik yang dijadikan ranjang,
mengusap pipi bocah yang tertidur dalam dingin panjang.

Di bawah lampu jalan yang berkedip lemah,
seorang anak bersandar pada kardus lusuh.
Tangannya memeluk boneka tanpa kepala,
hadiah dari dunia yang tak sempat mendengar namanya.

Dari balik helm dan kaca mobil mewah,
tak ada yang tahu nama si kecil.
Ia menjual senyum dalam bentuk tisu,
di antara klakson dan sumpah serapah lalu lintas pagi itu.

Ibunya duduk tak jauh,
menjahit harap dengan benang yang nyaris putus.
Tangannya cekatan merangkai bunga plastik,
matanya kosong menatap masa depan yang kabur.

Trotoar ini panggung,
bukan hanya untuk langkah-langkah tergesa,
tapi juga untuk mereka yang kehilangan pijakan
di rumah yang disebut negara.

Malam turun tanpa permisi,
dan mereka tetap di sana, tanpa lampu tidur,
tanpa dongeng pengantar lelap,
hanya suara hujan dan nyamuk jalanan yang menyanyikan sepi.

Di setiap tetes, ada tanya yang luruh
mengapa dunia hanya memeluk yang bersih dan bersinar?
Sedang yang bernoda oleh debu kenyataan,
harus belajar bertahan tanpa dipandang sebagai manusia? 

Dan trotoar pun menangis bersama hujan,
menggigil dalam sunyi yang tak ada jeda.
Tapi tetap ia hamparkan ruang, meski sempit,
bagi mereka yang ditolak semua pintu.

Bandar Lampung, 9 Mei 2026

Analisis Puisi:

Puisi “Trotoar Jalan” karya Pramesetya Aniendita merupakan puisi sosial yang menggambarkan kerasnya kehidupan masyarakat marginal di ruang perkotaan. Puisi ini menyoroti kehidupan anak jalanan, kemiskinan, dan ketidakpedulian sosial di tengah hiruk-pikuk kota.

Tema

Tema utama puisi ini adalah kemiskinan dan kehidupan kaum marginal di perkotaan. Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema ketidakadilan sosial, kemanusiaan, dan perjuangan hidup.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini meliputi:
  • “trotoar jalan” → simbol ruang hidup kaum miskin dan tersisih.
  • “boneka tanpa kepala” → simbol masa kecil yang rusak dan kehilangan kebahagiaan.
  • “menjual senyum dalam bentuk tisu” → gambaran perjuangan hidup yang dipaksakan sejak kecil.
  • “rumah yang disebut negara” → kritik sosial terhadap negara yang belum mampu melindungi rakyat kecil.
  • “dunia hanya memeluk yang bersih dan bersinar” → sindiran terhadap masyarakat yang lebih menghargai kemewahan daripada kemanusiaan.
  • “trotoar pun menangis bersama hujan” → simbol kesedihan kolektif atas penderitaan kaum marginal.
Puisi ini menyiratkan bahwa di tengah modernitas kota, masih banyak manusia yang hidup tanpa perhatian dan harus bertahan di ruang-ruang yang seharusnya bukan tempat tinggal manusia.

Suasana dalam Puisi

Suasana puisi ini terasa sendu, pilu, dan penuh empati. Di beberapa bagian juga muncul suasana getir dan kritik sosial yang tajam.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Puisi ini menyampaikan bahwa:
  • Kemiskinan bukan sekadar persoalan ekonomi, tetapi juga persoalan kemanusiaan.
  • Masyarakat dan negara seharusnya lebih peduli terhadap kaum marginal.
  • Setiap manusia, termasuk anak jalanan dan kaum miskin, berhak diperlakukan dengan martabat dan kasih sayang.
Melalui puisi “Trotoar Jalan”, Pramesetya Aniendita menghadirkan potret menyentuh tentang kehidupan kaum marginal di kota besar. Puisi ini bukan hanya menggambarkan kemiskinan, tetapi juga menjadi kritik sosial terhadap ketidakpedulian masyarakat dan negara. Dengan bahasa yang emosional dan penuh simbol, puisi ini mengajak pembaca untuk melihat bahwa di balik trotoar yang sering diabaikan, ada manusia-manusia yang terus berjuang mempertahankan hidup dan martabatnya.

Pramesetya Aniendita
Puisi: Trotoar Jalan
Karya: Pramesetya Aniendita

Biodata Pramesetya Aniendita:

Pramesetya Aniendita, atau yang akrab disapa Dita, merupakan 10 besar Duta Anugerah Competer Indonesia 2026. Ia kerap menjuarai lomba puisi, antara lain Juara 3 Lomba Puisi SIP Publishing bersama Nana Sastrawan (2024), Juara 2 AIS (2025), serta Juara 1 Event Senandika bersama Tuang Aksara (2026), dan berbagai kompetisi literasi lainnya. Dita juga produktif berkarya. Ia telah menelurkan 13 buku solo serta berkontribusi lebih dari 100 buku antologi. Karya-karyanya pun telah terpublikasi di berbagai media online. Yuk, kenal lebih dekat dengan Dita melalui Instagram @book.wormholic.

© Sepenuhnya. All rights reserved.