Untuk Palestina
Tak terhitung lagi
banyaknya doa yang berguguran.
Juga air mata
di antara puing-puing reruntuhan.
Para wanita berdoa,
semoga hari ini bukan anak mereka
yang dibawa lari
ke padang para malaikat,
tempat segala mimpi diciptakan.
Tapi misil-misil masih kelaparan
menunaikan tugas, menuai kematian.
Malaikat maut enggan beranjak,
membebaskan jiwa ke dunia yang semarak.
Tuhan pun seakan diam dalam penantian,
membiarkan mahaduka meraja di antara kematian.
Anak-anak menangis
dalam dekap kegelapan,
sambil menanti-nanti
kapankah peluru terakhir
dilepaskan dari dasar dendam.
Di Palestina,
doa-doa beku
dalam kelopak sang waktu
yang tak henti memekarkan tangis.
Adakah Tuhan berdiam diri dalam keabadian?
Sudut Kota, Minggu, 18 Januari 2009
Sumber: Memoria (Indie Book Corner, 2013)
Analisis Puisi:
Puisi “Untuk Palestina” karya Mario F. Lawi merupakan puisi kemanusiaan yang menggambarkan penderitaan rakyat Palestina akibat perang dan kekerasan. Dengan bahasa yang puitis namun menyayat, penyair menghadirkan suasana duka, ketakutan, dan harapan yang seolah membeku di tengah konflik berkepanjangan. Puisi ini menjadi suara empati terhadap korban perang, terutama perempuan dan anak-anak.
Tema
Tema utama puisi ini adalah kemanusiaan, penderitaan akibat perang, dan harapan akan perdamaian. Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema doa, kehilangan, dan kritik terhadap kekerasan.
Puisi ini bercerita tentang penderitaan rakyat Palestina yang hidup di tengah perang dan serangan misil. Penyair menggambarkan banyaknya doa dan air mata yang jatuh di antara reruntuhan bangunan.
Perempuan-perempuan digambarkan terus berdoa agar anak mereka tidak menjadi korban perang. Namun, kekerasan tetap berlangsung dan misil terus “menuai kematian”.
Anak-anak hidup dalam ketakutan dan tangisan sambil menunggu kapan perang akan berakhir. Pada bagian akhir, penyair mempertanyakan mengapa Tuhan seolah diam melihat penderitaan yang terus terjadi.
Makna Tersirat
Makna tersirat dalam puisi ini adalah kritik terhadap perang dan kekerasan yang merenggut kemanusiaan. Penyair menunjukkan bahwa konflik tidak hanya menghancurkan bangunan, tetapi juga menghancurkan harapan, mimpi, dan kehidupan manusia.
Puisi ini juga menyiratkan rasa putus asa dan pertanyaan spiritual tentang keadilan Tuhan di tengah penderitaan yang berkepanjangan.
Selain itu, doa-doa yang “beku” menggambarkan harapan rakyat yang tertahan oleh situasi perang yang tidak kunjung selesai.
Suasana dalam Puisi
Suasana dalam puisi ini terasa sedih, muram, mencekam, dan penuh keputusasaan. Gambaran reruntuhan, tangisan anak-anak, dan kematian menciptakan nuansa duka yang sangat kuat.
Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi
Pesan yang dapat dipetik dari puisi ini adalah bahwa perang hanya membawa penderitaan dan kehilangan bagi manusia, terutama rakyat sipil yang tidak bersalah.
Puisi ini juga mengajak pembaca untuk memiliki rasa empati, kepedulian kemanusiaan, dan harapan terhadap perdamaian dunia.
Imaji
Puisi ini memiliki banyak imaji yang kuat, antara lain:
- Imaji visual, terlihat pada gambaran “puing-puing reruntuhan”, “anak-anak menangis”, dan “misil-misil”.
- Imaji pendengaran, tampak pada tangisan anak-anak dan suasana perang yang mencekam.
- Imaji perasaan, menghadirkan rasa sedih, takut, kehilangan, dan putus asa.
- Imaji gerak, terlihat pada misil yang “menuai kematian” dan anak-anak yang menanti perang berakhir.
Majas
Beberapa majas yang digunakan dalam puisi ini antara lain:
- Personifikasi, pada ungkapan “misil-misil masih kelaparan”, “doa-doa beku”, dan “waktu memekarkan tangis”.
- Metafora, pada “padang para malaikat” sebagai simbol kematian atau alam akhirat.
- Simbolisme, Palestina menjadi simbol penderitaan kemanusiaan akibat konflik berkepanjangan.
- Pertanyaan retoris, terlihat pada kalimat “Adakah Tuhan berdiam diri dalam keabadian?” yang menegaskan kegelisahan batin penyair.
Puisi “Untuk Palestina” karya Mario F. Lawi adalah puisi kemanusiaan yang menyuarakan duka dan penderitaan rakyat Palestina akibat perang. Dengan bahasa yang penuh simbol dan emosi, penyair menghadirkan gambaran tentang kehilangan, doa, serta harapan yang membeku di tengah kekerasan. Puisi ini tidak hanya menjadi ungkapan kesedihan, tetapi juga seruan moral agar manusia lebih menghargai perdamaian dan kemanusiaan.
Karya: Mario F. Lawi
Biodata Mario F. Lawi:
- Mario F. Lawi lahir pada tanggal 18 Februari 1991 di Kupang, NTT.