Puisi: Yang Pertama dan Akhirnya (Karya Iman Budhi Santosa)

Puisi “Yang Pertama dan Akhirnya” karya Iman Budhi Santosa merupakan puisi filosofis yang menggambarkan perjalanan hidup manusia menuju pengenalan ...
Yang Pertama dan Akhirnya

waktu yang jatuh mengusik mimpi-mimpi itu
adalah setasiun pertama, di mana hidup mulai bergerak
di atas roda-roda peristiwa demi peristiwa
aku pun menjulurkan kepala untuk melihatnya
siapakah dia yang tiba-tiba menyelinap
                  di batas tidur dan jaga
serta diam-diam mengatur rencana perjalanan ini
menjeritkan peluit pada dunia
untuk menerima kuntum-kuntum bunga merah
                  yang bakal dirangkai
                  dalam karangan sejarah.

sebab dia bagai cahaya yang berpendar-pendar
                  di sela jeruji gerbang itu
dan sesampainya aku di sana tiba-tiba mengumpul
                  dan memanjang-manjang
bagai sebuah jembatan gantung
                  yang menghubungkan dua makna
ada dan tiada; langit yang tidak ubahnya
                  warna-warna hitam
yang merapat di atas kepala, dengan langit
                yang melengkung
dan senantiasa membungkus sampai ke bawah dunia
sedangkan apa yang kudapat hanyalah segenggam udara
yang mengalir ke dalam tungku peparu
menghidupkan kelima perlambang yang satu
dari hidupku.

maka jadilah dinding-dinding daging itu
                  dinding-dinding penjara
dinding-dinding yang paling kubenci
                  serta dinding-dinding
                  yang paling ramah
                  memberi arti
                  pada diri sendiri
menerima dengan hati-hati tanpa dendam
ke arah matahari terbit
                  hingga saat-saatnya tenggelam
aku tidak mengenal tenaga apa
                 yang melemparkan
                 sang matahari itu
sebab aku pun matahari yang terpelanting
                 dan berpusing
di antara bintang-bintang yang bergerak
                 cepat serta menghilang
masuk ke dalam dunia hakikat
                 yang terang benderang.

maka waktu itu pun telah membeku
                dan mengeras
                memberat di ujung tali-tali
                hidupku
yang sebentar lagi akan terlepas direnggutnya
sementara ia rangkaikan kata demi kata di udara
dan membisikkannya dengan halus pada telinga kanan
gerbang itu telah terbuka, dan aku pun melihat
istana yang megah dari kerajaan dunia.

tiba-tiba seluruhnya telah lenyap
                bagai seribu warna yang lebur
lalu ketakutan-ketakutan dari kehendak
                yang senantiasa terkendali
serta kecintaan-kecintaan
                yang telah terkubur di bumi ini
mencoba berkenalan, kadang bersembunyi
                di balik pintu jantung
membacakan mantera setiap saat
                angkasa memekik-mekik
                bagai raksasa
tidak ubahnya suara setengah dewa
                yang menggaung
serta mengalir langsung
        dari mata-air jiwa
jadi inilah baris pertama
                yang tersusun dari
                aneka peperangan
yang kabur dan senantiasa terkandung
        semenjak engkau rahasiakan
        hubungan kita
jadi inilah tanganku
                tangan yang sia-sia berjabat
setelah terlambat sepenuhnya merenung
        kegaiban hidup
        sebagai mahkota
senantiasa aku pun bangkit
        untuk mengenal diri sendiri
                lebih dekat, lewat matahari
membunyikan harapan-harapan
                di atas langit-langit kenyataan
untuk kembali berpijak
                di tanah
                asing.

Ungaran, 1976-1986

Sumber: Tonggak 3 (1987)

Analisis Puisi:

Puisi “Yang Pertama dan Akhirnya” karya Iman Budhi Santosa merupakan puisi reflektif dan filosofis yang membahas perjalanan hidup manusia, pencarian jati diri, waktu, serta hubungan manusia dengan hakikat kehidupan. Puisi ini kaya akan simbol, metafora, dan perenungan spiritual sehingga menghadirkan makna yang mendalam bagi pembaca.

Melalui perjalanan yang digambarkan seperti perjalanan kereta, cahaya, gerbang, hingga matahari, penyair mengajak pembaca memahami kehidupan sebagai proses panjang menuju pengenalan diri dan kesadaran hakiki.

Tema

Tema utama puisi ini adalah perjalanan hidup dan pencarian hakikat diri manusia. Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema tentang waktu, kematian, spiritualitas, dan kesadaran eksistensial.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini adalah bahwa hidup merupakan perjalanan panjang yang dipenuhi pengalaman, penderitaan, harapan, dan pencarian makna. Manusia sering kali terjebak dalam tubuh dan dunia nyata, tetapi pada akhirnya akan mencari hakikat dirinya sendiri.

Ungkapan tentang “gerbang”, “jembatan”, dan “dunia hakikat” menyiratkan adanya perjalanan spiritual dari kehidupan dunia menuju kesadaran yang lebih tinggi. Sementara “dinding-dinding daging” melambangkan tubuh manusia yang sekaligus menjadi batas dan tempat pengalaman hidup berlangsung.

Puisi ini juga mengandung refleksi tentang hubungan manusia dengan waktu dan kematian. Waktu digambarkan dapat membeku, mengeras, dan akhirnya melepaskan hidup manusia dari dunia fana.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Amanat yang dapat dipetik dari puisi ini adalah bahwa manusia perlu mengenal dirinya sendiri dan memahami makna kehidupan secara lebih mendalam. Hidup bukan hanya tentang peristiwa lahiriah, tetapi juga tentang perjalanan batin menuju kesadaran dan kebijaksanaan.

Puisi ini juga mengingatkan bahwa manusia harus menerima perjalanan hidup dengan lapang hati, termasuk penderitaan, perubahan, dan keterbatasan diri.

Imaji

Puisi ini memiliki berbagai jenis imaji yang kuat, antara lain:
  • Imaji visual: Tampak pada gambaran gerbang, jembatan gantung, matahari, langit, bintang, dan istana.
  • Imaji gerak: Terlihat dalam kata-kata seperti “bergerak”, “menjulurkan kepala”, “terpelanting”, “berpusing”, dan “menghilang”.
  • Imaji pendengaran: Hadir melalui ungkapan “menjeritkan peluit”, “membisikkan”, dan “angkasa memekik-mekik”.
  • Imaji perasaan: Puisi menghadirkan rasa takut, harapan, kegelisahan, dan pencarian spiritual.

Majas

Beberapa majas yang digunakan dalam puisi ini antara lain:
  • Majas metafora: “Roda-roda peristiwa”, “dinding-dinding daging”, dan “matahari yang terpelanting” merupakan metafora perjalanan hidup manusia.
  • Majas personifikasi: Waktu digambarkan dapat “jatuh”, “membeku”, dan “mengeras”.
  • Majas simbolik: Gerbang, matahari, cahaya, dan jembatan menjadi simbol perjalanan spiritual dan pencarian makna hidup.
  • Majas hiperbola: Ungkapan seperti “angkasa memekik-mekik bagai raksasa” memberi kesan dramatis dan kuat.
Puisi “Yang Pertama dan Akhirnya” karya Iman Budhi Santosa merupakan puisi filosofis yang menggambarkan perjalanan hidup manusia menuju pengenalan diri dan hakikat kehidupan. Dengan simbol-simbol yang kaya dan suasana spiritual yang kuat, penyair mengajak pembaca merenungkan waktu, kehidupan, kematian, serta hubungan manusia dengan dirinya sendiri. Puisi ini menghadirkan pengalaman batin yang mendalam sekaligus refleksi tentang makna keberadaan manusia di dunia.

Iman Budhi Santosa
Puisi: Yang Pertama dan Akhirnya
Karya: Iman Budhi Santosa

Biodata Iman Budhi Santosa:
  • Iman Budhi Santosa pada tanggal 28 Maret 1948 di Kauman, Magetan, Jawa Timur, Indonesia.
  • Iman Budhi Santosa meninggal dunia pada tanggal 10 Desember 2020 (pada usia 72 tahun) di Dipowinatan, Yogyakarta, Indonesia.
© Sepenuhnya. All rights reserved.