Z
"Gerangan lagu apa?". Laki-laki itu
Mendengar suara musik dari jauh
Tak kunjung dekat
"Ke tempat itu kamu pergi, Kelana Pandir!"
Dia meneguk minuman kerasnya
Dan bayang-bayangnya memancar
dibawa serangga
"Ke tempat itu kamu pergi!"
"Tapi mengapa tak kunjung dekat?"
Wajahnya masai dim sukar melangkah
"Gerangan apa waktu tak bijak?"
Tanam-tanaman berbunga
Dan merpati-merpati
Membangun sarangnya
Dalam
Kapal
1972
Sumber: Horison (Maret, 1974)
Analisis Puisi:
Puisi “Z” karya Abdul Hadi WM merupakan puisi yang simbolik dan reflektif. Penyair menghadirkan tokoh yang tampak sedang mencari sesuatu yang jauh dan sulit dijangkau. Melalui suasana yang samar, dialog singkat, dan simbol perjalanan, puisi ini menggambarkan kegelisahan manusia dalam mencari tujuan hidup, makna, atau harapan.
Bahasa dalam puisi ini padat dan penuh simbol, sehingga pembaca perlu menafsirkan maknanya secara mendalam. Kehadiran tokoh “Kelana Pandir”, musik yang tak kunjung dekat, serta kapal di akhir puisi memberi nuansa perjalanan spiritual dan pencarian batin.
Tema
Tema utama puisi ini adalah pencarian makna hidup dan kegelisahan batin. Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema perjalanan manusia, harapan yang sulit diraih, dan ketidakpastian waktu.
Puisi ini bercerita tentang seorang laki-laki yang mendengar suara musik dari kejauhan, tetapi suara itu tidak pernah benar-benar mendekat. Ia seperti terpanggil menuju suatu tempat, namun perjalanan itu terasa sulit dan penuh kebingungan.
Tokoh tersebut disebut sebagai “Kelana Pandir”, yaitu sosok pengembara yang terus berjalan mencari sesuatu. Ia meneguk minuman keras, melihat bayang-bayangnya memancar, tetapi tetap tidak mampu mencapai tujuan yang diinginkannya.
Pada bagian akhir, puisi menghadirkan gambaran tanaman berbunga dan merpati yang membangun sarang dalam kapal. Gambaran ini memberi kesan bahwa di tengah perjalanan dan kegelisahan, masih ada kehidupan, harapan, dan tempat untuk bernaung.
Makna Tersirat
Makna tersirat dalam puisi ini adalah bahwa manusia sering berada dalam perjalanan panjang mencari makna hidup, tetapi tujuan itu terasa jauh dan sulit dicapai.
Musik yang “tak kunjung dekat” dapat dimaknai sebagai harapan, kebahagiaan, atau kebenaran yang selalu dicari manusia. Tokoh “Kelana Pandir” melambangkan manusia yang terus berjalan meski penuh kebingungan dan kelelahan.
Selain itu, puisi ini juga menyiratkan bahwa waktu kadang terasa tidak adil atau “tak bijak”, karena manusia tidak selalu mampu mencapai apa yang diinginkannya.
Suasana dalam Puisi
Suasana dalam puisi ini terasa muram, ganjil, dan reflektif. Ada nuansa kesepian dan kebingungan yang kuat, terutama melalui gambaran perjalanan yang tidak jelas arah akhirnya.
Namun, pada bagian akhir muncul suasana yang sedikit lebih tenang dan penuh harapan melalui gambaran bunga dan merpati.
Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi
Pesan yang dapat diambil dari puisi ini adalah bahwa hidup merupakan perjalanan pencarian yang tidak selalu mudah dipahami.
Puisi ini juga mengingatkan bahwa manusia sering merasa jauh dari tujuan hidupnya, tetapi tetap perlu melanjutkan perjalanan dan menjaga harapan.
Selain itu, puisi ini mengajak pembaca untuk merenungkan hubungan antara waktu, harapan, dan perjalanan batin manusia.
Imaji dalam Puisi
Puisi ini memiliki beberapa imaji yang kuat, antara lain:
Imaji pendengaran, misalnya:
“Mendengar suara musik dari jauh”
Pembaca seolah mendengar suara samar yang memanggil dari kejauhan.
Imaji visual, misalnya:
“bayang-bayangnya memancar dibawa serangga”“Tanam-tanaman berbunga dan merpati-merpati”
Larik tersebut menghadirkan gambaran yang simbolik dan imajinatif.
Imaji gerak, misalnya:
“Ke tempat itu kamu pergi!”
Pembaca dapat membayangkan perjalanan seorang pengelana menuju tempat yang tidak pasti.
Imaji perasaan, tampak pada:
“Wajahnya masai dim sukar melangkah”
Ungkapan tersebut menghadirkan rasa lelah dan putus asa.
Majas dalam Puisi
Beberapa majas yang terdapat dalam puisi ini antara lain:
Majas personifikasi, pada larik:
“waktu tak bijak”
Waktu digambarkan seolah memiliki sifat manusia.
Majas simbolik, pada penggunaan:
“musik”, “kapal”, dan “merpati”
Musik melambangkan panggilan atau harapan, kapal melambangkan perjalanan hidup, sedangkan merpati melambangkan kedamaian.
Majas repetisi, pada pengulangan:
“Ke tempat itu kamu pergi!”
Pengulangan ini menegaskan dorongan perjalanan dan pencarian.
Puisi “Z” karya Abdul Hadi WM merupakan puisi simbolik yang menggambarkan perjalanan batin manusia dalam mencari makna hidup. Dengan suasana muram dan penuh simbol, penyair menghadirkan sosok pengelana yang terus bergerak menuju sesuatu yang terasa jauh dan sulit dijangkau. Melalui simbol musik, waktu, dan kapal, puisi ini mengajak pembaca merenungkan harapan, kegelisahan, dan perjalanan manusia dalam kehidupan.
Karya: Abdul Hadi WM
Biodata Abdul Hadi WM:
- Abdul Hadi WM (Abdul Hadi Widji Muthari) lahir di kota Sumenep, Madura, pada tanggal 24 Juni 1946.
- Abdul Hadi WM adalah salah satu tokoh Sastrawan Angkatan '66.
