1981
Sumber: Horison (November-Desember, 1981)
Analisis Puisi:
Puisi “Sajak Gaya Lama Di Makam Seh Siti Jenar” karya Abdul Hadi WM merupakan puisi religius dan sufistik yang memuat refleksi spiritual tentang ketuhanan, cinta, makrifat, dan pertentangan manusia dalam memahami agama. Puisi ini merujuk pada sosok Sunan Sitijenar atau Seh Siti Jenar, seorang tokoh spiritual dalam tradisi Jawa yang sering dikaitkan dengan ajaran tasawuf dan pemahaman mistik tentang hubungan manusia dengan Tuhan.
Melalui bahasa yang simbolik dan bernuansa klasik, penyair mengajak pembaca merenungkan hakikat keimanan dan pentingnya cinta dalam kehidupan spiritual.
Tema
Tema utama puisi ini adalah spiritualitas dan pencarian makrifat. Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema tentang cinta ketuhanan, konflik keagamaan, dan hakikat kehidupan manusia.
Puisi ini bercerita tentang refleksi di makam Seh Siti Jenar, seorang tokoh spiritual yang ajarannya sering dianggap kontroversial. Penyair mengingatkan bahwa mencari Tuhan bukanlah sesuatu yang mudah atau dangkal, melainkan perjalanan batin yang mendalam.
Dalam puisi ini, Seh Siti Jenar digambarkan sebagai sosok yang tetap teguh meskipun dihujat dan dianggap sesat. Ia tidak takut menghadapi kematian karena keyakinannya terhadap Tuhan dan makrifat.
Penyair juga menyinggung bahwa manusia sering bertikai atas nama agama dan keyakinan, padahal Tuhan sendiri tidak terpecah. Pada akhirnya, puisi ini menegaskan bahwa cinta adalah inti dari perjalanan spiritual manusia.
Makna Tersirat
Makna tersirat dalam puisi ini adalah kritik terhadap manusia yang mudah menghakimi keyakinan orang lain tanpa memahami hakikat spiritualitas yang sebenarnya.
Puisi ini juga menyiratkan bahwa hubungan manusia dengan Tuhan tidak dapat diukur hanya melalui aturan lahiriah, tetapi harus dipahami melalui pengalaman batin, cinta, dan kesadaran spiritual.
Makam Seh Siti Jenar menjadi simbol keberanian dalam mempertahankan keyakinan spiritual, sekaligus simbol pengorbanan seorang pencari kebenaran.
Suasana dalam Puisi
Suasana yang terasa dalam puisi ini antara lain:
- Khidmat.
- Kontemplatif.
- Spiritual.
- Melankolis.
- Reflektif.
Nuansa puisi terasa tenang tetapi sarat perenungan mendalam tentang hidup dan ketuhanan.
Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi
Amanat yang dapat dipetik dari puisi ini adalah bahwa manusia seharusnya tidak mudah membenci atau menghakimi sesama dalam urusan keyakinan. Perjalanan menuju Tuhan membutuhkan ketulusan hati dan cinta, bukan sekadar pertikaian.
Puisi ini juga mengajarkan bahwa hakikat spiritualitas terletak pada kesadaran batin dan kasih sayang, bukan pada permusuhan atas nama agama.
Imaji
Puisi ini memiliki beberapa jenis imaji, antara lain:
- Imaji visual: Tampak pada gambaran makam, cawan tumpah, darah ke bumi, cermin laut, pasir, dan nisan.
- Imaji gerak: Terlihat dalam gambaran darah yang membasuh dan buih mimpi yang menepi.
- Imaji pendengaran: Hadir melalui gambaran khotbah dan penyebutan nama Seh Siti Jenar.
Majas
Beberapa majas yang digunakan dalam puisi ini antara lain:
- Majas metafora: “Mencari Tuhan bukan membeli barang di pasar” menjadi metafora bahwa spiritualitas tidak dapat diperoleh secara instan atau dangkal.
- Majas simbolik: Darah wali, makam, nisan, dan cermin laut menjadi simbol perjuangan spiritual dan pencarian hakikat hidup.
- Majas personifikasi: Cermin laut digambarkan dapat “menepi ke pasir”.
- Majas ironi: Manusia bertikai atas nama Tuhan, padahal Tuhan tidak terpecah.
- Majas alusio: Puisi merujuk pada Sunan Sitijenar dan tradisi sufistik Jawa.
Puisi “Sajak Gaya Lama Di Makam Seh Siti Jenar” karya Abdul Hadi WM merupakan puisi sufistik yang membahas hubungan manusia dengan Tuhan melalui simbol spiritual dan refleksi sejarah. Dengan bahasa puitis dan penuh makna, penyair menghadirkan kritik terhadap pertikaian keagamaan sekaligus menegaskan bahwa cinta dan makrifat merupakan inti perjalanan spiritual manusia. Puisi ini mengajak pembaca memahami bahwa pencarian Tuhan adalah perjalanan hati yang mendalam dan penuh kesadaran batin.
Karya: Abdul Hadi WM
Biodata Abdul Hadi WM
- Abdul Hadi WM (Abdul Hadi Widji Muthari) lahir di kota Sumenep, Madura, pada tanggal 24 Juni 1946.
- Abdul Hadi WM adalah salah satu tokoh Sastrawan Angkatan '66.
