Sajak Terakhir
Surga adalah gelembung sabun
Yang penuh udara
Karena dijejali keluh-kesah orang-orang
Pasrah yang malas berusaha.
Di sebuah taman, engkau pernah
Mewariskan hujah yang kini tak lagi cukup
Untuk menumbuhkan sebutir padi
Di dalam petakmu.
"Mencintai sesederhana menerima," katamu.
Aku ingin percaya,
Tapi tubuh yang patah di atas salib itu
Menusukkan cahaya matanya ke celah-celah rusukku.
Aku memberi segala
Yang ada pada diriku
Hingga pemberianku tak lagi
Cukup di hadapanmu.
Pohon yang tumbuh dari sebutir kecil
Iman tak bisa dihinggapi burung
Yang malas terbang dan memasrahkan tubuhnya
Pada aliran udara.
Percayalah, Sayang, surga hanya akan menjelma
Puing-puing bagi doamu yang penuh beban.
Labirin yang berliku tidak akan meloloskanmu
Dengan sendirinya, dan jika engkau memilih
Berhenti bergerak, sulur-sulurnya akan menyeretmu
Ke dalam kegelapan.
Engkau tentu percaya, makanan yang dideretkan
Di atas meja jamuan diubah dari batu-batu
Yang berserakan di padang gurun, meski begitu banyak
Pundi-pundi telah diselipkan ke balik
Jubah-tenunan-tanpa-jahitan milik para imammu.
Naimata, 2014
Sumber: Lelaki Bukan Malaikat (Gramedia Pustaka Utama, 2015)
Analisis Puisi:
Puisi “Sajak Terakhir” karya Mario F. Lawi merupakan puisi reflektif yang memadukan kritik spiritual, pergulatan iman, dan persoalan cinta dalam bahasa yang simbolik dan filosofis. Penyair menggunakan banyak citra religius seperti surga, salib, iman, padang gurun, dan imam untuk menyampaikan kegelisahan terhadap kepasrahan, kemunafikan, serta hubungan manusia dengan keyakinannya.
Puisi ini terasa tajam, kontemplatif, dan penuh pergulatan batin.
Tema
Tema utama puisi ini adalah iman, perjuangan hidup, dan kritik terhadap kepasrahan yang pasif. Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema cinta, pengorbanan, dan pencarian makna spiritual.
Puisi ini bercerita tentang seseorang yang mempertanyakan makna surga, iman, dan cinta di tengah kenyataan hidup yang penuh perjuangan.
Penyair menolak pandangan bahwa surga dapat diperoleh hanya dengan kepasrahan tanpa usaha. Surga digambarkan sebagai “gelembung sabun” yang rapuh karena dipenuhi keluh-kesah orang-orang malas berusaha.
Di sisi lain, penyair juga mengingat kembali ajaran tentang cinta yang sederhana, tetapi ia merasa bahwa pengorbanan dan pemberiannya tetap tidak cukup di hadapan sosok yang dicintainya.
Pada bagian akhir, puisi berubah menjadi kritik sosial dan religius. Penyair menyinggung para imam yang menyimpan “pundi-pundi” di balik jubah mereka, seolah mengkritik kemunafikan atau penyalahgunaan agama demi kepentingan duniawi.
Makna Tersirat
Makna tersirat dalam puisi ini adalah bahwa hidup dan iman memerlukan perjuangan nyata, bukan sekadar kepasrahan tanpa tindakan.
Puisi ini juga menyiratkan kritik terhadap manusia yang terlalu bergantung pada harapan spiritual tanpa mau bergerak dan berusaha memperbaiki kehidupan.
Selain itu, penyair menunjukkan bahwa cinta dan iman sama-sama menuntut pengorbanan, tetapi pengorbanan itu tidak selalu cukup atau dihargai.
Kritik terhadap para imam menunjukkan kegelisahan penyair terhadap praktik keagamaan yang kehilangan ketulusan.
Suasana dalam Puisi
Suasana dalam puisi ini terasa muram, reflektif, tajam, dan penuh pergulatan batin. Ada nuansa kecewa, tetapi juga semangat untuk mempertanyakan dan mencari kebenaran.
Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi
Pesan yang dapat dipetik dari puisi ini adalah bahwa manusia tidak boleh menyerah pada nasib tanpa usaha dan perjuangan.
Puisi ini juga mengajarkan bahwa iman harus diwujudkan melalui tindakan nyata, bukan hanya kata-kata atau kepasrahan kosong.
Selain itu, puisi ini mengingatkan agar manusia tetap kritis terhadap penyimpangan nilai-nilai moral dan spiritual.
Imaji
Puisi ini memiliki banyak imaji yang kuat, antara lain:
- Imaji visual, terlihat pada gambaran gelembung sabun, tubuh di atas salib, pohon iman, labirin, padang gurun, dan meja jamuan.
- Imaji gerak, tampak pada sulur-sulur yang menyeret ke dalam kegelapan dan burung yang malas terbang.
- Imaji perasaan, menghadirkan rasa kecewa, gelisah, pasrah, dan pergulatan iman.
- Imaji suasana, memperlihatkan nuansa suram dan penuh pertanyaan spiritual.
Majas
Beberapa majas yang digunakan dalam puisi ini antara lain:
- Metafora, pada ungkapan “surga adalah gelembung sabun”, “labirin yang berliku”, dan “pohon iman”.
- Personifikasi, terlihat pada “sulur-sulurnya akan menyeretmu ke dalam kegelapan”.
- Simbolisme, salib melambangkan pengorbanan, padang gurun melambangkan ujian hidup, dan surga melambangkan harapan spiritual.
- Ironi, terlihat pada gambaran surga yang justru menjadi rapuh akibat kepasrahan manusia.
- Alusi religius, muncul melalui simbol salib, iman, imam, mukjizat makanan, dan jubah tanpa jahitan.
- Hiperbola, digunakan untuk memperkuat kesan emosional dan spiritual dalam puisi.
Puisi “Sajak Terakhir” karya Mario F. Lawi adalah puisi reflektif yang memadukan kritik sosial, spiritualitas, dan pergulatan cinta dalam bahasa yang simbolik dan mendalam. Penyair mengajak pembaca untuk memahami bahwa iman dan kehidupan memerlukan usaha serta kesadaran, bukan sekadar kepasrahan kosong. Dengan citra religius yang kuat dan metafora yang tajam, puisi ini menghadirkan pengalaman membaca yang emosional sekaligus filosofis.
Karya: Mario F. Lawi
Biodata Mario F. Lawi:
- Mario F. Lawi lahir pada tanggal 18 Februari 1991 di Kupang, NTT.