Analisis Puisi:
Puisi “Sajak Tulang Rusuk” karya Gunoto Saparie merupakan puisi liris yang mengangkat relasi cinta dengan pendekatan reflektif dan simbolik. Dengan skema 2 bait, masing-masing 5 baris, puisi ini menghadirkan dinamika hubungan yang tidak hanya dipenuhi kedekatan, tetapi juga misteri yang sulit dipahami sepenuhnya.
Tema
Tema utama puisi ini adalah cinta dalam hubungan yang intim namun tetap menyimpan misteri dan ketidakpastian.
Puisi ini bercerita tentang hubungan antara penyair dan sosok “kau” yang diibaratkan sebagai “tulang rusuk”—sebuah simbol kedekatan yang sangat dalam. Meskipun keduanya begitu dekat secara fisik dan emosional, penyair mengakui bahwa ia tidak sepenuhnya memahami pasangannya. Ada sisi-sisi yang tetap tersembunyi, bahkan dalam kedekatan yang paling intim sekalipun.
Makna Tersirat
Makna tersirat puisi ini adalah bahwa dalam cinta, kedekatan tidak selalu berarti pemahaman yang utuh. Setiap individu tetap memiliki ruang batin yang tidak sepenuhnya dapat dijangkau oleh orang lain, bahkan oleh orang yang paling dicintai.
Suasana dalam Puisi
Suasana puisi ini terasa intim, reflektif, sekaligus sedikit melankolis. Ada perpaduan antara kehangatan cinta dan kebingungan batin yang halus.
Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi
Puisi ini menyampaikan pesan agar dalam hubungan, kita menerima bahwa pasangan adalah individu yang memiliki misteri dan kedalaman sendiri, sehingga cinta juga membutuhkan pengertian dan kesabaran.
Imaji
Puisi ini mengandung beberapa imaji yang kuat:
- Imaji perasaan: ungkapan kebingungan, keintiman, dan cinta yang mendalam.
- Imaji sentuhan: “meraba”, “mencium bibir sepimu” menghadirkan kedekatan fisik.
- Imaji abstrak: “bayangan bisu dan kegelapanmu” menggambarkan sisi batin yang sulit dipahami.
Majas
Beberapa majas yang digunakan dalam puisi ini:
- Metafora: “tulang rusuk” sebagai simbol pasangan hidup yang sangat dekat dan tak terpisahkan.
- Paradoks: kedekatan fisik yang kuat tetapi diiringi ketidakmampuan memahami sepenuhnya.
- Repetisi: pengulangan kalimat “mungkin kau memang tulang rusukku” untuk menegaskan keyakinan sekaligus keraguan.
- Hiperbola: ungkapan seperti “kureguk cinta fanamu” untuk memperkuat intensitas perasaan.
Puisi “Sajak Tulang Rusuk” menggambarkan kompleksitas hubungan manusia. Gunoto Saparie menghadirkan pemahaman bahwa cinta bukan hanya soal kedekatan, tetapi juga tentang menerima misteri yang melekat dalam diri orang yang kita cintai.
Karya: Gunoto Saparie
BIODATA GUNOTO SAPARIE
Lahir di Kendal, Jawa Tengah, 22 Desember 1955. Pendidikan formal yang ditempuh adalah Sekolah Dasar Kadilangu, Cepiring, Kendal, Sekolah Menengah Pertama Cepiring, Kendal, Sekolah Menengah Ekonomi Atas Kendal, Akademi Uang dan Bank Yogyakarta, dan Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Semarang. Sedangkan pendidikan nonformal Madrasah Ibtidaiyyah Islamiyyah Tlahab, Gemuh, Kendal dan Pondok Pesantren KH Abdul Hamid Tlahab, Gemuh, Kendal.
Selain menulis puisi, ia juga mencipta cerita pendek, kritik sastra, esai, dan kolom, yang dimuat di sejumlah media cetak terbitan Semarang, Solo, Yogyakarta, Surabaya, Jakarta, Brunei Darussalam, Malaysia, Australia, dan Prancis. Kumpulan puisi tunggalnya yang telah terbit adalah Melancholia (Damad, Semarang, 1979), Solitaire (Indragiri, Semarang, 1981), Malam Pertama (Mimbar, Semarang, 1996), Penyair Kamar (Forum Komunikasi Wartawan Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah, Semarang, 2018), dan Mendung, Kabut, dan Lain-lain (Cerah Budaya Indonesia, Jakarta, 2019). Kumpulan esai tunggalnya Islam dalam Kesusastraan Indonesia (Yayasan Arus, Jakarta, 1986). Kumpulan cerita rakyatnya Ki Ageng Pandanaran: Dongeng Terpilih Jawa Tengah (Pusat Bahasa, Jakarta, 2004). Novelnya Selamat Siang, Kekasih dimuat secara bersambung di Mingguan Bahari, Semarang (1978) dan Bau (Pelataran Sastra Kaliwungu, Kendal, 2019) yang menjadi nomine Penghargaan Prasidatama 2020 dari Balai Bahasa Jawa Tengah.
Ia juga pernah menerbitkan antologi puisi bersama Korrie Layun Rampan berjudul Putih! Putih! Putih! (Yogyakarta, 1976) dan Suara Sendawar Kendal (Karawang, 2015). Sejumlah puisi, cerita pendek, dan esainya termuat dalam antologi bersama para penulis lain. Puisinya juga masuk dalam buku Manuel D'Indonesien Volume I terbitan L'asiatheque, Paris, Prancis, Januari 2012. Ia juga menulis puisi berbahasa Jawa (geguritan) di Panjebar Semangat dan Jaya Baya. Ia menjabat Pemimpin Redaksi Kampus Indonesia (Jakarta), Tanahku (Semarang), Delik Hukum Jateng (Semarang) setelah sebelumnya menjabat Redaktur Pelaksana dan Staf Ahli Pemimpin Umum Koran Wawasan (Semarang), Pemimpin Redaksi Radio Gaya FM (Semarang), Redaktur Pelaksana Tabloid Faktual (Semarang), Redaktur Pelaksana Tabloid Otobursa Plus (Semarang), dan Redaktur Legislatif (Jakarta).
Saat ini ia menjabat Ketua Umum Dewan Kesenian Jawa Tengah (DKJT), Fungsionaris Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Wilayah Jawa Tengah, Ketua III Komite Seni Budaya Nusantara (KSBN) Jawa Tengah, dan Ketua Forum Komunikasi Wartawan Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah. Sebelumnya ia pernah menjabat Ketua Kelompok Studi Seni Remaja (KSSR) Kendal, Ketua Pelaksana Dewan Teater Kendal, Sekretaris Forum Komunikasi Studi Mahasiswa Kekaryaan (Fokusmaker) Jawa Tengah, Wakil Ketua Ormas MKGR Jawa Tengah, Fungsionaris DPD Partai Golkar Jawa Tengah, Sekretaris DPD Badan Informasi dan Kehumasan Partai Golkar Jawa Tengah, dan Sekretaris Bidang Kehumasan DPW Partai Nasdem Jawa Tengah.
Sejumlah penghargaan di bidang sastra, kebudayaan, dan jurnalistik telah diterimanya, antara lain dari Kepala Perwakilan PBB di Indonesia, Menteri Perumahan Rakyat, Menteri Penerangan, Menteri Luar Negeri, Pangdam IV/ Diponegoro, dan Kepala Balai Bahasa Jawa Tengah.
