Puisi: Ada yang Tak Kunjung Usai (Karya Nurhayat Arif Permana)

Puisi “Ada yang Tak Kunjung Usai” karya Nurhayat Arif Permana menghadirkan lanskap pesisir yang tidak sekadar menjadi latar fisik, tetapi juga ...

Ada yang Tak Kunjung Usai

ada yang tak kunjung usai kau ceritakan
bagaimana pasir menyerap buih yang dipendarkan ombak
dengan tabah dan amat ikhlas
lalu membiarkan matahari mengeringkannya seperti sediakala

ada yang tak kunjung usai kau kabarkan
bagaimana pepokok kelapa diempas-tarik ombak
lalu dijulurkan ke tepi dengan hati-hati
dengan bahasa mereka yang purba
tanpa rasa marah, tanpa rasa dendam

mereka adalah sekawanan yang diciptakan
untuk tak saling membenci
mengerti cara memberi, mengerti cara menerima
lalu angin mengasuh mereka dan mengabarkan padamu,
katanya:
"buanglah sejenak buku-bukumu itu, ada yang harus kau
baca tanpa membuat sakit punggungmu dan perih matamu.
mereka tak kunjung usai kau ceritakan
karna darahmu telah melaut, menjadi pasir dan buih
menjadi ombak dan pepokok kelapa."

Manna, 01/1996

Sumber: Stanza Lara (Ladang Pustaka, 2011)

Analisis Puisi:

Puisi “Ada yang Tak Kunjung Usai” karya Nurhayat Arif Permana menghadirkan lanskap pesisir yang tidak sekadar menjadi latar fisik, tetapi juga ruang refleksi batin. Unsur alam seperti pasir, ombak, matahari, dan pepohonan kelapa dipakai sebagai medium untuk menyampaikan pengalaman eksistensial yang lebih dalam: tentang penyatuan manusia dengan alam dan siklus kehidupan yang terus berulang.

Tema

Tema utama puisi ini adalah keterhubungan manusia dengan alam serta refleksi eksistensial tentang asal-usul dan penyatuan diri dengan elemen alam. Ada juga tema tambahan berupa penerimaan, ketabahan, dan siklus kehidupan yang tidak pernah selesai.

Puisi ini bercerita tentang proses alam di pesisir pantai—bagaimana pasir, ombak, matahari, dan pohon kelapa berinteraksi dalam siklus yang harmonis dan tanpa konflik. Namun di balik itu, terdapat narasi metaforis bahwa manusia sebenarnya berasal dari dan akan kembali pada alam. Segala yang “tak kunjung usai” merujuk pada siklus abadi tersebut.

Makna Tersirat

Makna tersirat puisi ini adalah bahwa manusia pada hakikatnya adalah bagian dari alam, bukan entitas terpisah. Ungkapan seperti “darahmu telah melaut, menjadi pasir dan buih” menunjukkan proses peleburan identitas manusia ke dalam unsur alam.

Selain itu, puisi ini juga menyiratkan kritik halus terhadap kehidupan manusia modern yang terlalu sibuk dengan “buku-buku” (pengetahuan formal), sehingga melupakan cara membaca alam sebagai sumber kebijaksanaan yang lebih dalam.

Amanat / Pesan yang Disampaikan

Pesan utama puisi ini adalah:
  • Manusia perlu merenungi keterhubungan dirinya dengan alam.
  • Jangan terlalu terpaku pada pengetahuan formal hingga melupakan “bacaan kehidupan” yang lebih luas.
  • Hidup seharusnya dijalani dengan penerimaan, ketenangan, dan tanpa kebencian.
  • Alam dapat menjadi guru yang mengajarkan keseimbangan dan keikhlasan.

Imaji

Puisi ini kuat dalam penggunaan imaji, terutama:
  • Imaji visual: pasir, ombak, matahari yang mengeringkan, pohon kelapa diempas ombak.
  • Imaji gerak: ombak yang mendepak dan menarik, angin yang “mengasuh”.
Imaji-imaji ini membuat pembaca seolah berada langsung di tepi laut yang hidup dan dinamis.

Majas

Beberapa majas yang dominan dalam puisi ini antara lain:
  • Personifikasi: Contoh “angin mengasuh mereka” → Angin diberi sifat manusia sebagai pengasuh.
  • Metafora: Contoh “darahmu telah melaut, menjadi pasir dan buih” → Menggambarkan penyatuan manusia dengan alam secara simbolis.
  • Hiperbola: Penggambaran transformasi diri menjadi unsur alam menunjukkan pembesaran makna yang melampaui realitas literal.
  • Simbolisme: Laut, pasir, ombak, dan kelapa menjadi simbol kehidupan, siklus, dan keabadian.
Puisi “Ada yang Tak Kunjung Usai” menyuguhkan refleksi filosofis tentang hubungan manusia dan alam dalam bentuk yang puitis dan meditatif. Melalui bahasa yang lembut namun dalam, puisi ini mengajak pembaca untuk melihat bahwa kehidupan bukan sekadar perjalanan linear, melainkan siklus yang terus berulang—tempat manusia akhirnya kembali menjadi bagian dari alam itu sendiri.

Nurhayat Arif Permana
Puisi: Ada yang Tak Kunjung Usai
Karya: Nurhayat Arif Permana

Biodata Nurhayat Arif Permana:
  • Nurhayat Arif Permana lahir pada tanggal 23 Oktober 1969 di Palembang.
© Sepenuhnya. All rights reserved.