Puisi: Ada yang Tertembak di Halaman Kita (Karya Aslan Abidin)

Puisi “Ada yang Tertembak di Halaman Kita” karya Aslan Abidin merupakan kritik sosial yang tajam terhadap masyarakat yang semakin terbiasa ...
Ada yang Tertembak di Halaman Kita

suara tembakan di televisi
mengguntur hingga ke jendela. tetapi
terlambat, selalu saja kita terlambat
menutupnya. aroma mesiu dan mayat
terbakar selalu lebih cepat menampar
wajah kita, hingga bibir
kelu membiru.

ada seorang yang melintas
tertatih di halaman, menjerit-miris:
"tolong, aku tertembak!" dan di depan televisi,
kita hanya tersenyum kecut, seperti
dilakukan penonton
televisi yang lain.

Makassar, 1994

Sumber: Bahaya Laten Malam Penganten (Ininnawa, 2008)

Analisis Puisi:

Puisi “Ada yang Tertembak di Halaman Kita” karya Aslan Abidin merupakan puisi pendek yang menyimpan kritik sosial yang tajam. Dengan memanfaatkan citraan kekerasan dan media televisi, penyair menggambarkan bagaimana tragedi kemanusiaan yang terjadi di sekitar kita sering kali hanya menjadi tontonan. Puisi ini mengajak pembaca merenungkan sikap manusia modern yang perlahan kehilangan empati karena terlalu sering menyaksikan penderitaan melalui layar.

Tema

Tema utama puisi ini adalah hilangnya kepekaan sosial terhadap penderitaan sesama akibat pengaruh media dan kebiasaan menjadikan tragedi sebagai tontonan. Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema kekerasan, kemanusiaan, dan sikap apatis masyarakat terhadap korban konflik atau penindasan.

Puisi ini bercerita tentang seseorang atau sekelompok orang yang sedang menyaksikan berita penembakan di televisi.

Suara tembakan yang terdengar dari televisi seolah-olah menembus batas antara layar dan dunia nyata. Kemudian muncul sosok korban yang tertatih-tatih di halaman sambil meminta pertolongan karena tertembak.

Namun, alih-alih memberikan bantuan, orang-orang yang menyaksikan peristiwa tersebut hanya tersenyum kecut sebagaimana penonton televisi pada umumnya. Mereka menjadi simbol masyarakat yang terbiasa melihat penderitaan tanpa tergerak untuk bertindak.

Makna Tersirat

Makna tersirat puisi ini adalah kritik terhadap menurunnya rasa empati manusia dalam menghadapi tragedi kemanusiaan.

Penyair ingin menunjukkan bahwa:
  • Kekerasan yang terus-menerus ditampilkan media dapat membuat masyarakat kebal terhadap penderitaan.
  • Banyak orang lebih memilih menjadi penonton daripada terlibat membantu sesama.
  • Batas antara tragedi yang jauh dan yang dekat semakin kabur, tetapi kepedulian tetap tidak muncul.
  • Manusia sering terlambat menyadari bahaya atau penderitaan sampai semuanya sudah terjadi.
Kalimat “selalu saja kita terlambat menutupnya” dapat dimaknai sebagai keterlambatan manusia dalam mencegah atau merespons berbagai tragedi sosial.

Amanat / Pesan yang Disampaikan

Pesan yang ingin disampaikan penyair antara lain:
  • Jangan kehilangan empati terhadap penderitaan orang lain.
  • Tragedi kemanusiaan bukan sekadar tontonan yang bisa diabaikan.
  • Masyarakat perlu lebih peka dan responsif terhadap ketidakadilan serta kekerasan.
  • Media seharusnya tidak membuat manusia terbiasa dengan kekerasan hingga menganggapnya hal biasa.
  • Kepedulian sosial harus diwujudkan dalam tindakan nyata, bukan sekadar menyaksikan.
Puisi ini mengingatkan bahwa suatu saat penderitaan yang terlihat jauh bisa saja terjadi di “halaman kita” sendiri.

Puisi “Ada yang Tertembak di Halaman Kita” karya Aslan Abidin merupakan kritik sosial yang tajam terhadap masyarakat yang semakin terbiasa menyaksikan penderitaan tanpa menunjukkan kepedulian. Melalui bahasa yang sederhana namun kuat, penyair mengingatkan bahwa tragedi kemanusiaan tidak boleh berhenti sebagai tontonan. Sebaliknya, setiap peristiwa yang melukai sesama manusia seharusnya membangkitkan empati dan tindakan nyata. Puisi ini menjadi refleksi penting tentang bagaimana media, kekerasan, dan sikap apatis dapat membentuk wajah masyarakat modern.

Yudhistira A.N.M. Massardi dan Aslan Abidin
Puisi: Ada yang Tertembak di Halaman Kita
Karya: Aslan Abidin

Biodata Aslan Abidin:
  • Aslan Abidin lahir pada tanggal 31 Mei 1972 di Kabupaten Soppeng, Provinsi Sulawesi Selatan.
© Sepenuhnya. All rights reserved.