Puisi: Aku Melihat Mesjid Berangkat Tua (Karya Ariffin Noor Hasby)

Puisi "Aku Melihat Mesjid Berangkat Tua" karya Ariffin Noor Hasby menjadikan masjid sebagai simbol keteguhan iman yang tetap berdiri di tengah ...

Aku Melihat Mesjid Berangkat Tua

Aku melihat masjid berangkat tua
seperti diriku
di menaranya beribu suara adzan
memanggil gedung-gedung pencakar langit
yang terlelap menunggu kabar manusia

Orang-orang termangu di antara jejak
yang ditinggalkannya di pinggir malam
aku baca di dalamnya ada remukan-remukan hatimu
yang pernah berniat mengalahkan dunia
tapi tak pernah mampu:

Adakah kau pernah melihat dirimu berangkat tua
seperti masjid yang selalu mengajarkan kepadaku
janji sebuah waktu

Banjarbaru, Oktober 1995

Sumber: Salawat Laut (Pustaka Banua, 2013)

Analisis Puisi:

Puisi "Aku Melihat Mesjid Berangkat Tua" karya Ariffin Noor Hasby merupakan puisi religius yang sarat dengan renungan tentang perjalanan waktu, penuaan, dan hubungan manusia dengan Tuhan. Penyair menjadikan masjid sebagai simbol keteguhan iman yang tetap berdiri di tengah perubahan zaman, sekaligus sebagai cermin bagi kehidupan manusia yang terus bergerak menuju usia senja.

Melalui bahasa yang puitis dan penuh simbol, puisi ini mengajak pembaca untuk menyadari bahwa usia yang terus bertambah hendaknya diiringi dengan pertumbuhan spiritual. Masjid bukan hanya bangunan tempat beribadah, tetapi juga menjadi saksi perjalanan manusia dalam menepati janji kepada Sang Pencipta.

Tema

Tema utama puisi ini adalah perjalanan hidup manusia, penuaan, refleksi spiritual, dan kedekatan kepada Tuhan. Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema tentang kefanaan dunia, introspeksi diri, waktu, dan makna kehidupan.

Puisi ini bercerita tentang seseorang yang memandang sebuah masjid sebagai gambaran dirinya sendiri. Masjid digambarkan "berangkat tua", sebuah ungkapan yang menunjukkan bahwa bangunan itu telah lama berdiri, menyaksikan perjalanan manusia dan perubahan zaman.

Dari menara masjid berkumandang azan yang terus memanggil manusia, bahkan gedung-gedung pencakar langit yang menjadi simbol modernitas. Namun, panggilan itu seolah belum sepenuhnya didengar karena banyak manusia masih "terlelap" dalam kehidupan duniawi.

Penyair kemudian mengajak pembaca melihat kembali perjalanan hidupnya sendiri. Ia menyadari bahwa manusia pernah memiliki ambisi besar untuk menaklukkan dunia, tetapi pada akhirnya harus tunduk pada waktu dan kenyataan hidup. Melalui masjid, ia belajar bahwa usia yang bertambah seharusnya membawa manusia semakin dekat kepada Tuhan.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini adalah bahwa usia bukan sekadar pertambahan waktu, melainkan kesempatan untuk memperdalam keimanan dan memperbaiki diri.

Masjid menjadi simbol keteguhan spiritual yang tetap menjalankan fungsinya meskipun zaman berubah. Sebaliknya, manusia sering kali terlena oleh ambisi dunia hingga lupa bahwa hidup memiliki batas.

Pertanyaan pada bagian akhir puisi:

"Adakah kau pernah melihat dirimu berangkat tua / seperti masjid..."

merupakan ajakan untuk bercermin. Penyair mengingatkan bahwa setiap manusia sedang berjalan menuju usia tua dan suatu saat akan mempertanggungjawabkan seluruh perjalanan hidupnya.

Amanat / Pesan yang Disampaikan

Beberapa amanat yang dapat dipetik dari puisi ini antara lain:
  • Jadikan bertambahnya usia sebagai kesempatan untuk semakin mendekat kepada Tuhan.
  • Jangan sampai ambisi dunia membuat kita melupakan tujuan hidup yang sejati.
  • Lakukan introspeksi sebelum waktu terus berlalu.
  • Dengarkan panggilan kebaikan sebagaimana azan yang terus mengingatkan manusia.
  • Kehidupan yang bermakna bukan diukur dari pencapaian duniawi, melainkan dari kualitas iman dan amal.
Puisi "Aku Melihat Mesjid Berangkat Tua" karya Ariffin Noor Hasby merupakan puisi religius yang menghadirkan refleksi mendalam tentang usia, waktu, dan perjalanan spiritual manusia. Dengan menjadikan masjid sebagai simbol keteguhan iman, penyair mengajak pembaca merenungkan bahwa kehidupan tidak hanya diisi oleh ambisi dunia, tetapi juga oleh upaya mendekatkan diri kepada Tuhan.

Puisi ini menegaskan bahwa setiap manusia sedang "berangkat tua". Oleh karena itu, yang terpenting bukan sekadar bertambahnya usia, melainkan bagaimana setiap perjalanan waktu diisi dengan keimanan, kebijaksanaan, dan amal yang bernilai di hadapan Allah.

Ariffin Noor Hasby
Puisi: Aku Melihat Mesjid Berangkat Tua
Karya: Ariffin Noor Hasby

Biodata Ariffin Noor Hasby:
  • Ariffin Noor Hasby lahir pada tanggal 20 Februari 1964 di Marabahan, Kabupaten Batola, Kalimantan Selatan.
© Sepenuhnya. All rights reserved.