Puisi: Album Hijau (Karya Sugiarta Sriwibawa)

Puisi “Album Hijau” karya Sugiarta Sriwibawa menghadirkan keyakinan bahwa hubungan batin yang tulus tidak akan lenyap meskipun dipisahkan oleh ...
Album Hijau

Kapan kita terlahir kembali
Entah di mana, di suatu saat dan di suatu tempat
Saling memandang meski tidak saling mengenal lagi
Kehadiran masing-masing yang fitri

Mungkin di tepi hutan cendana yang rindang
Di ambang dusun kala pohon belimbing berkembang
Atau di antara kebun tebu
antara Surakarta dan Yogyakarta
Timbul tenggelam warna bajumu
hijau pupus, dan ayun anggun lenganmu

Pasti engkaulah itu
Dan telingamu pun tak akan asing
menyaring suara panggilanku

Atau seperti dahulu, di sebuah pesta perkawinan
Karena kita masing-masing diundang
Kala engkau tertegun beberapa jenak, lalu
menyapaku dengan pandang menunggu
dan harap-harap camas
(Ah, setidak-tidaknya demikianlah tafsiranku)
Dan sesaat aku malah mengelak
Tapi seketika pula aku mengenalmu
Setelah berhasil menghapus jarak waktu

Yakin daku, dalam penjelmaanmu nanti
Aku masih melihat lagi
anak rambutmu yang ikal pada lengkung dahi
dan sebuah jerawat suci di bawah pipi

Mungkin aku melihatmu di sebuah toko buku
Tanganmu membalik-balik buku sejarah dan candi
Mungkin pula engkau yang melihatku
dari balik jendela bis kota,
kala aku berjalan layung-layung
dengan setia dan merenung khayali

Mungkin pula nanti aku penyair setengah baya
Dan engkau mahasiswa peminat sastra
Atau barangkali dalam hati bertanya-tanya
Sekali waktu, nun dahulu entah di mana
Kita berdua pernah hidup seusia

Barangkali jua kita telah terlahir beberapa kali
Di suatu benua dan jaman yang bahagia
Sekalipun dengan nama lain dan usia berbeda
Tapi dengan indera dan naluri yang asali

Karena itu, duhai – puisi ini tercipta lagi
Dan bahwasanya kita masih akan terlahir kembali

Jakarta, 1982

Sumber: Garis Putih (1983)

Analisis Puisi:

Puisi “Album Hijau” karya Sugiarta Sriwibawa merupakan puisi liris yang mengangkat tema kenangan, cinta, dan kemungkinan perjumpaan kembali di masa depan. Dengan nuansa romantis dan reflektif, penyair membangun imajinasi tentang dua insan yang pernah saling mengenal, lalu terpisah oleh waktu, tetapi diyakini akan dipertemukan kembali dalam bentuk kehidupan yang lain.

Puisi ini menarik karena tidak hanya berbicara tentang cinta dalam arti hubungan antarmanusia, tetapi juga tentang ingatan yang melampaui ruang dan waktu. Melalui berbagai gambaran tempat, peristiwa, dan kemungkinan penjelmaan kembali, penyair menciptakan suasana nostalgia yang hangat sekaligus penuh harapan.

Tema

Tema utama puisi ini adalah cinta, kenangan, dan keyakinan akan pertemuan kembali yang melampaui batas waktu dan kehidupan. Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema nostalgia, takdir, kerinduan, dan keabadian hubungan batin antar manusia.

Puisi ini bercerita tentang seseorang yang membayangkan kemungkinan bertemu kembali dengan seseorang yang pernah hadir dalam hidupnya. Meskipun waktu telah berlalu dan keadaan berubah, ia percaya bahwa ikatan batin yang pernah ada tidak akan hilang begitu saja.

Penyair membayangkan berbagai kemungkinan pertemuan. Mungkin mereka akan bertemu di tepi hutan cendana, di sebuah pesta perkawinan, di toko buku, atau bahkan dalam kehidupan lain dengan identitas yang berbeda. Meski nama, usia, dan latar belakang berubah, ia yakin masih akan mampu mengenali sosok tersebut melalui naluri dan kenangan yang tersimpan dalam jiwa.

Pada akhirnya, puisi ini menegaskan keyakinan bahwa hubungan manusia yang mendalam tidak mudah terhapus oleh waktu. Bahkan, puisi itu sendiri menjadi bukti bahwa kenangan tersebut masih hidup.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini adalah bahwa cinta sejati dan hubungan batin yang mendalam dapat meninggalkan jejak yang abadi dalam ingatan manusia.

Penyair menyiratkan bahwa perpisahan bukanlah akhir dari segalanya. Waktu boleh berlalu, usia boleh berubah, bahkan kehidupan dapat berganti, tetapi kenangan dan perasaan yang tulus akan tetap hidup dalam kesadaran batin.

Puisi ini juga dapat dimaknai sebagai refleksi tentang harapan. Ketika seseorang kehilangan orang yang dicintai, harapan akan pertemuan kembali menjadi kekuatan yang menjaga kenangan tetap hidup.

Amanat atau Pesan yang Disampaikan

Amanat yang terkandung dalam puisi ini antara lain:
  • Hargailah setiap hubungan yang pernah hadir dalam kehidupan.
  • Kenangan yang indah dapat menjadi kekuatan untuk menjalani masa depan.
  • Jangan kehilangan harapan meskipun harus berpisah dengan orang yang dicintai.
  • Hubungan batin yang tulus tidak mudah hilang oleh waktu dan jarak.
  • Kehidupan selalu menyimpan kemungkinan-kemungkinan yang tidak terduga.
Puisi “Album Hijau” karya Sugiarta Sriwibawa merupakan puisi yang sarat dengan nuansa cinta, nostalgia, dan harapan. Melalui berbagai gambaran puitis, penyair menghadirkan keyakinan bahwa hubungan batin yang tulus tidak akan lenyap meskipun dipisahkan oleh waktu, jarak, atau bahkan kehidupan yang berbeda. Puisi ini mengajak pembaca untuk menghargai kenangan, memelihara harapan, dan percaya bahwa pertemuan kembali selalu mungkin terjadi dalam bentuk yang tak terduga. Dengan bahasa yang lembut dan penuh imajinasi, puisi ini menjadi refleksi indah tentang keabadian cinta dan ingatan manusia.

Puisi Sepenuhnya
Puisi: Album Hijau
Karya: Sugiarta Sriwibawa

Biodata Sugiarta Sriwibawa:
  • Sugiarta Sriwibawa lahir di Surakarta, pada tanggal 31 Maret 1932.
© Sepenuhnya. All rights reserved.