Amsal Daud
Ketika gigi tanggal
Ketika rambut memutih
Kuingat sebuah amsal
Seorang nabi menjelang mati
Sungguh aku bertutur jujur
Bila datang ajal
Biar sesaat kuingin dengar
Burung tekukur bertutur
Burung gagak berteriak
Suara angin bersiul
Angsa-angsa putih merintih
Saat bertelur
dan buah-buah rantu
yang gugur
dan masih ingin, mendengar
rintih mustadafin,
dan fakir miskin
yang lapar
Silakan masuk malaikat maut
Sungguh telah kucerna amsal Daud
Ketika gigi tanggal rambutku putih
Justru dengan banyak terima kasih
atas tanda-tanda yang pasti
Tepat janji. Ketika kau tiba.
Sumber: Aura Para Aulia (1990)
Analisis Puisi:
Puisi "Amsal Daud" karya Motinggo Boesje merupakan puisi reflektif yang mengangkat tema kehidupan, kematian, dan kebijaksanaan spiritual. Melalui sudut pandang seorang manusia yang telah memasuki usia senja, penyair menyampaikan sikap yang tenang dan penuh kesadaran dalam menghadapi datangnya ajal.
Judul puisi ini merujuk pada "Daud", sosok nabi yang dikenal dalam tradisi agama sebagai figur bijaksana dan dekat dengan Tuhan. Penyair menggunakan amsal atau petuah Daud sebagai simbol kebijaksanaan hidup yang telah dipahami dan diterima menjelang akhir kehidupan.
Tema
Tema utama puisi ini adalah penerimaan terhadap kematian sebagai bagian alami dari kehidupan. Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema kebijaksanaan usia tua, kesadaran spiritual, rasa syukur, serta kepedulian terhadap sesama manusia hingga akhir hayat.
Puisi ini bercerita tentang seseorang yang telah memasuki masa tua, ditandai dengan gigi yang tanggal dan rambut yang memutih. Pada fase tersebut, ia teringat sebuah amsal atau petuah yang diwariskan oleh Nabi Daud.
Ketika membayangkan ajal yang semakin dekat, penyair tidak menunjukkan rasa takut. Sebaliknya, ia masih ingin mendengar berbagai suara kehidupan: suara burung, desir angin, suara alam, hingga rintihan kaum miskin dan mereka yang menderita.
Setelah merasa memahami makna kehidupan melalui "amsal Daud", ia menyatakan kesiapan menyambut malaikat maut. Kematian tidak dipandang sebagai ancaman, melainkan sebagai janji Tuhan yang pasti akan tiba pada waktunya.
Makna Tersirat
Makna tersirat dalam puisi ini adalah bahwa kematian merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia. Oleh karena itu, manusia sebaiknya menerimanya dengan kesadaran dan kebijaksanaan, bukan dengan ketakutan yang berlebihan.
Puisi ini juga menyiratkan bahwa seseorang yang telah memahami makna hidup akan tetap memiliki kepedulian terhadap dunia di sekitarnya. Keinginan untuk mendengar suara alam dan rintihan kaum miskin menunjukkan bahwa empati dan rasa kemanusiaan tetap penting hingga akhir hayat.
Selain itu, puisi ini mengajarkan bahwa usia tua bukan sekadar proses fisik menuju kematian, tetapi juga fase pendewasaan spiritual yang membawa manusia pada penerimaan dan rasa syukur.
Amanat / Pesan yang Disampaikan
Amanat yang dapat dipetik dari puisi ini antara lain:
- Kematian adalah kepastian yang harus diterima dengan bijaksana.
- Manusia hendaknya menjalani hidup dengan penuh kesadaran dan rasa syukur.
- Kepedulian terhadap sesama, terutama mereka yang menderita, harus tetap dijaga sepanjang hidup.
- Usia tua sebaiknya dimaknai sebagai kesempatan untuk memperdalam kebijaksanaan dan spiritualitas.
- Kehidupan menjadi lebih bermakna ketika dijalani dengan kesiapan menghadapi segala ketentuan Tuhan.
Puisi "Amsal Daud" karya Motinggo Boesje merupakan puisi yang mengangkat refleksi mendalam tentang kehidupan dan kematian. Melalui gambaran usia tua, suara-suara alam, serta simbol-simbol spiritual, penyair menunjukkan bahwa kematian bukanlah sesuatu yang harus ditakuti, melainkan bagian dari perjalanan hidup yang telah ditetapkan.
Dengan suasana yang tenang, reflektif, dan penuh rasa syukur, puisi ini mengajak pembaca untuk menjalani kehidupan dengan kebijaksanaan, menjaga kepedulian terhadap sesama, serta mempersiapkan diri menghadapi akhir kehidupan dengan hati yang lapang dan penuh keikhlasan.
Karya: Motinggo Boesje
Biodata Motinggo Boesje:
- Motinggo Boesje (Motinggo Busye) lahir di Kupang Kota, pada tanggal 21 November 1937.
- Motinggo Boesje meninggal dunia di Jakarta, pada tanggal 18 Juni 1999 (pada usia 61 tahun).
- Nama lahir Motinggo Boesje adalah Bustami Djalid.
