Anak Hilang
Sudah begitu lama tak dikenalnya lagi kasih manusia
sudah begitu lama
bayi bayi tengkurap tak mengerti muka muka tua berpalingan
sebuah ratap sedih dalam bayang senja menghilang
Manakah itu bapak
yang melepasnya mengenal tanah dan laut
yang melepasnya dari peraman susu ibunda penghabisan
Anak malang hari ini tamasya di bumi Tuhan
ia berkisah tentang kota kota yang dilaluinya
ia bicara tentang orang orang yang dirinduinya
Angin berisik dalam bujukan halus sebuah lagu
pada kesunyian senja berderit hati sendu pilu
melepas sisi dada penuh pemberontakan
Bagai terangkum desir lautan pada matanya
dan kepada ombak ia bisikkan tangis dan rindunya
sekali burung camar berputar tak tahu ke mana angin berpusing
tapi dialah kini yang berlalu
pergi bersama lanun ke laut lepas
tanpa satu ucapan
Sebuah lagu terdengar dari perbatasan
sebuah salam atas kepergian bayangan terakhir
ada jejak putus putus
dan lenyap ke dalam air
Selat Sunda, 17 Maret 1956
Sumber: Nafiri (1983)
Analisis Puisi:
Puisi "Anak Hilang" karya Djamil Suherman merupakan puisi yang menggambarkan kesepian, keterasingan, dan pencarian jati diri seorang anak yang terpisah dari kasih sayang keluarga. Melalui larik-larik yang penuh nuansa melankolis, penyair menghadirkan sosok anak yang hidup dalam pengembaraan, jauh dari orang tua dan lingkungan yang seharusnya menjadi tempatnya bertumbuh.
Puisi ini tidak hanya berbicara tentang kehilangan secara fisik, tetapi juga kehilangan ikatan emosional, kasih sayang, dan rasa memiliki dalam kehidupan manusia.
Tema
Tema utama puisi ini adalah kehilangan, keterasingan, dan kerinduan terhadap kasih sayang keluarga. Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema tentang pengembaraan hidup, pencarian identitas, kesepian, dan hubungan manusia dengan kenangan masa lalu.
Puisi ini bercerita tentang seorang anak yang telah lama hidup jauh dari kasih sayang manusia, terutama dari orang tua yang seharusnya menjadi tempat perlindungannya.
Penyair menggambarkan sosok anak yang mengembara ke berbagai tempat dan kota. Dalam perjalanan hidupnya, ia menyimpan kerinduan terhadap orang-orang yang pernah hadir dalam kehidupannya. Namun, kerinduan itu tidak pernah benar-benar terobati.
Di tengah kesunyian dan kesedihan, anak tersebut terus berjalan mengikuti arus kehidupannya. Pada akhirnya, ia digambarkan pergi ke laut lepas bersama "lanun" tanpa sempat mengucapkan perpisahan, hingga jejaknya perlahan menghilang.
Makna Tersirat
Makna tersirat dalam puisi ini adalah bahwa kehilangan kasih sayang dan perhatian dapat membuat seseorang merasa terasing dari dunia di sekitarnya.
Sosok "anak hilang" dalam puisi dapat dimaknai bukan hanya sebagai anak yang tersesat secara fisik, tetapi juga sebagai simbol manusia yang kehilangan arah hidup, kehilangan keluarga, atau kehilangan tempat untuk pulang.
Puisi ini juga menyiratkan bahwa setiap manusia memiliki kebutuhan mendasar untuk dicintai dan diterima. Ketika kebutuhan tersebut tidak terpenuhi, seseorang dapat menjalani hidup dalam kesepian dan keterasingan yang mendalam.
Amanat / Pesan yang Disampaikan
Amanat yang dapat dipetik dari puisi ini adalah:
- Kasih sayang keluarga memiliki peran penting dalam kehidupan seseorang.
- Jangan mengabaikan orang-orang yang membutuhkan perhatian dan cinta.
- Setiap manusia membutuhkan tempat untuk pulang dan merasa diterima.
- Kehidupan yang dijalani tanpa kasih sayang dapat menimbulkan kesepian yang mendalam.
- Hargailah kebersamaan dengan keluarga dan orang-orang terdekat sebelum kehilangan terjadi.
Puisi ini mengingatkan pembaca bahwa hubungan emosional antarmanusia merupakan kebutuhan yang sangat penting dalam kehidupan.
Puisi "Anak Hilang" karya Djamil Suherman merupakan puisi yang menggambarkan kesepian, pengembaraan, dan kerinduan seorang anak yang terpisah dari kasih sayang keluarga. Melalui simbol-simbol seperti laut, senja, burung camar, dan jejak yang menghilang, penyair menyampaikan refleksi mendalam tentang kebutuhan manusia akan cinta, perhatian, dan tempat untuk pulang. Puisi ini mengajak pembaca untuk lebih menghargai hubungan keluarga serta memahami betapa berharganya kasih sayang dalam membentuk kehidupan seseorang.
Puisi: Anak Hilang
Karya: Djamil Suherman
Biodata Djamil Suherman:
- Djamil Suherman lahir di Surabaya, pada tanggal 24 April 1924.
- Djamil Suherman meninggal dunia di Bandung, pada tanggal 30 November 1985 (pada usia 61 tahun).
- Djamil Suherman adalah salah satu sastrawan angkatan 1966-1970-an.
