Apologia Sepasang Mata
Abdurrahman Wahid
//1//
Di bawah bentangan malam yang semakin memanjang
ke ujung dermaga, dari semenanjung kota-kota tua:
mungkin Batavia, atau barangkali teluk Surabaya
yang kini dipenuhi prasasti, bidadari, berhala, boneka
condominium, dan jangan lupa tahun yang gores
juga seorang pendekar renta yang gelisah memainkan orkes
masih bertahan dalam remang waktu, mengabadikan sunyi
//2//
Tetapi, di tengah gerimis, pendar kegelapan dan percik luka
kita terlanjur gugup, memasuki kota-kota lain yang miskin:
mungkin Negeri Poci, atau gubuk-gubuk pesisir laut utara
yang berserakan di antara pohon api, amis ikan, rawa-rawa
ladang garam, dan yang menggetarkan perahu-perahu bertapa
di atas kerontang dada nelayan, menghadap keheningan cuaca
serpihan hari-hari seperti seratus senja yang berayun letih
//3//
Dan, di bawah bentangan malam, lambaian perih gerimis pagi
kembali kita menemukan sisa-sisa kenangan kota revolusi:
mungkin sebuah metropolitan kecil, atau noktah Serambi Mekah
yang berjuntaian dengan retakan kraton, gratis candi, labirin
benteng-benteng sejarah, semua berpatahan dalam kristal dingin
seperti arkeologi, ada yang ingin menceritakan kisah-kisah purba
kepadamu, yang dituliskan dan dilukiskan pada sepasang mata
Cirebon, 1996
Sumber: Dari Amerika ke Catatan Langit (2005)
Analisis Puisi:
Puisi "Apologia Sepasang Mata" karya Ahmad Syubbanuddin Alwy merupakan puisi reflektif yang memadukan perjalanan ruang, sejarah, dan ingatan dalam satu rangkaian citraan yang kaya. Ditulis di Cirebon pada tahun 1996 dan didedikasikan kepada Abdurrahman Wahid, puisi ini menghadirkan perenungan tentang perjalanan bangsa, kehidupan masyarakat, dan warisan sejarah yang tersimpan dalam ingatan manusia.
Melalui gambaran kota-kota tua, pesisir, pelabuhan, nelayan, benteng sejarah, dan sepasang mata, penyair mengajak pembaca melihat Indonesia sebagai ruang yang menyimpan kenangan, luka, perjuangan, dan identitas yang terus hidup dalam kesadaran kolektif.
Tema
Tema utama puisi ini adalah perenungan terhadap sejarah, identitas bangsa, dan ingatan kolektif yang tersimpan dalam perjalanan waktu. Tema-tema pendukung yang muncul dalam puisi ini meliputi:
- Memori dan kenangan.
- Perjalanan sejarah bangsa.
- Kehidupan masyarakat pesisir.
- Perubahan zaman.
- Hubungan manusia dengan ruang dan masa lalu.
Puisi ini bercerita tentang perjalanan batin seseorang yang menelusuri berbagai ruang dan kenangan di bawah bentangan malam.
Pada bagian pertama, penyair menggambarkan kota-kota tua yang sarat jejak sejarah. Kota-kota tersebut dipenuhi berbagai simbol modernitas dan masa lalu yang berdampingan. Di tengah perubahan zaman, masih ada sosok "pendekar renta" yang menjaga kenangan dan kesunyian sejarah.
Pada bagian kedua, pandangan beralih ke wilayah pesisir dan kehidupan rakyat kecil. Penyair menghadirkan gambaran nelayan, rawa-rawa, ladang garam, dan perahu yang bertahan menghadapi kerasnya kehidupan. Di sini tampak sisi lain bangsa yang jauh dari kemegahan kota.
Pada bagian ketiga, penyair kembali menemukan jejak kota revolusi, benteng sejarah, keraton, dan peninggalan masa lalu. Semua kenangan itu seolah ingin berbicara melalui "sepasang mata" yang menjadi saksi perjalanan sejarah dan kehidupan.
Makna Tersirat
Makna tersirat dalam puisi ini adalah bahwa sejarah tidak pernah benar-benar hilang; ia hidup dalam ingatan manusia, ruang-ruang budaya, dan pengalaman kolektif suatu bangsa.
Penyair menyiratkan bahwa Indonesia dibangun dari berbagai lapisan sejarah: kota-kota tua, masyarakat pesisir, perjuangan rakyat, serta warisan budaya yang terus membentuk identitas bangsa.
"Sepasang mata" dalam puisi ini dapat dimaknai sebagai simbol kesadaran, ingatan, dan kemampuan manusia untuk melihat serta memahami perjalanan sejarah yang sering terlupakan.
Amanat / Pesan yang Disampaikan
Amanat yang dapat dipetik dari puisi ini antara lain:
- Jangan melupakan sejarah dan identitas bangsa.
- Hargailah kehidupan rakyat kecil yang menjadi bagian penting perjalanan bangsa.
- Pahami bahwa masa lalu mengandung pelajaran berharga untuk masa depan.
- Jagalah warisan budaya dan sejarah agar tidak hilang ditelan zaman.
- Gunakan kepekaan batin untuk melihat makna yang tersembunyi di balik perubahan zaman.
Puisi ini mengajak pembaca untuk memandang sejarah bukan sebagai catatan mati, melainkan sebagai bagian hidup yang terus membentuk jati diri manusia dan bangsa.
Puisi "Apologia Sepasang Mata" karya Ahmad Syubbanuddin Alwy merupakan puisi reflektif yang mengangkat tema sejarah, identitas bangsa, dan ingatan kolektif. Melalui perjalanan imajinatif melintasi kota-kota tua, wilayah pesisir, dan situs-situs sejarah, penyair menunjukkan bahwa masa lalu terus hidup dalam kesadaran manusia. Dengan suasana yang melankolis dan kontemplatif, puisi ini mengajak pembaca untuk menghargai sejarah, memahami kehidupan rakyat kecil, serta menjaga warisan budaya sebagai bagian penting dari jati diri bangsa.
Karya: Ahmad Syubbanuddin Alwy
Biodata Ahmad Syubbanuddin Alwy:
- Ahmad Syubbanuddin Alwy lahir pada tanggal 26 Agustus 1962 di Desa Bendungan, Cirebon, Jawa Barat.