Batuk
hari ini rasulmu batuk lagi. udara tidak segar. terik menciptakan lorong
mengalirkan virus dan kuku sampai ke urat nadi. ou gusti. huk-
huk-hieekkk. temperatur meningkat batukku semakin menjadi. to-
long ambilkan syal dan gulungkan di leherku, jagalah suhu.
tapi sekali-sekali jangan pandang mataku yang merah, jangan
pandang hei perempuanku. karena kau melitania didyna akan
serupa daki dan kau papilio glaucus kembali ke ulat lagi.
sungguh gawat keadaan, tubuhku semakin kurus dimakan bintang angan-angan
benar berat kesehatan, dahak semakin kental terbayang sudah tanah peku-
buran pahlawan
sumpah aku tak rela cuma menangkap purple zeppelin melepas dahaganya
dan hati tak tega melepas kursigoyang dari kuasa bijaksana ins-
truksi dan kabar bencana, hidupku masih lama! huk hieekk.
akh, terkutuklah orang yang menyebut aku bagai serigala tua yang meng-
gonggong-gonggong saja. syukur aku masih tahan menderita, wa-
hai topi pet gagah dada dan emas lencana!
biasanya pembesar menderita jantung tapi aku justru tuberculosa
biasanya pembesar berobat ke negeri tetangga tapi mengapa aku cuma ter-
siram teteskuda dicampur sedikit tumbukkan mrica?
rakyat-rakyat, kalian sudah berubah jadi tukang sihir memegang suwuk
membunuh rajamu
tak berbudi kau padahal telah kubela di setiap jaman. lihatlah tangan besi
dan mauku pasti berdarah di setiap simpang jalan, hakmu kem-
bali, walau kau harus menanggung duakali beban
rakyat-rakyat, mengapa kau diam sedang aku butuh pertolonganmu
rakyat-rakyat, kau sudah linglung kau sudah gila kau sudah pingsan karena
terlalu banyak menderita takut dan putus asa?
huk
huk hieekkk.
*
bagai ada yang menyapa di siang hari bolong tubuhku sekarang bak kepompong
aku telah pasrah aku betapa lemah. dunia bengkak matanya dan kembali-
kan batalyon pada yang empunya sementara aku membenahi
dosa-dosa
bagai ada yang melolong di tengah rimba huruhara, giginya meraba dada
melesak rusak keluarlah jantung luka. hiiieeekkkeeqq! apalah
arti kemenangan dunia
rakyat-rakyatku, mengapa kau cakup darah dari mulutku dijadikan saren
dan diumpankan piaraanmu? astaga
*
pagi tidak enak
siang tidak enak
malam pun tidak enak.
kabarnya aku mati di negeri yang tidak anti tuhan. tetapi orang di kota
hanya berbicara soal serigala yang tewas ditembak seorang pem-
buru. dan dikuburkan dekat kandang sapi sambil lidahnya sibuk
menjilati kakinya sendiri?
dan tidak dilihatnya bunga-bunga
dan tidak dilihatnya airduka
dan tidak dilihatnya tangis-tangis wanita api kebudakan prima
tapi seorang pemimpin gila mengunyah kacamatanya sambil bergegas me-
nyembunyikan sisa-sisa batuk ke sisi dunia.
1975
Sumber: Horison (November, 1977)
Catatan:
Dengan sedikit perubahan, puisi ini kemudian hari dimuat di buku Sekumpulan Puisi Pantang Kabur (2022).
Analisis Puisi:
Puisi "Batuk" karya Agus Dermawan T. merupakan puisi satir yang kaya simbol, kritik sosial, dan sindiran politik. Penyair menggambarkan sosok penguasa yang kehilangan kekuasaan, dukungan rakyat, dan kewibawaannya.
Batuk dalam puisi ini bukan sekadar penyakit fisik, melainkan simbol kemunduran, krisis kekuasaan, dan kehancuran seorang pemimpin. Dengan bahasa yang ekspresif, humor gelap, dan ironi yang tajam, puisi ini menghadirkan kritik terhadap hubungan antara penguasa dan rakyat dalam sebuah sistem kekuasaan.
Tema
Tema utama puisi ini adalah keruntuhan kekuasaan dan kritik terhadap kepemimpinan yang otoriter. Tema-tema pendukung yang muncul antara lain:
- Kesombongan penguasa.
- Hubungan antara rakyat dan pemimpin.
- Kematian dan kehancuran kekuasaan.
- Kritik sosial-politik.
- Kesadaran terhadap dosa dan kesalahan masa lalu.
Puisi ini bercerita tentang seseorang yang digambarkan sebagai pemimpin atau penguasa yang sedang sakit parah. Ia mengalami batuk yang terus-menerus, tubuhnya melemah, dan perlahan mendekati kematian.
Dalam kondisi tersebut, ia mengeluhkan nasibnya, mempertanyakan mengapa rakyat tidak lagi membantunya, dan merasa dirinya dikhianati oleh orang-orang yang pernah dipimpinnya. Ia juga mengingat jasa-jasa yang menurutnya telah diberikan kepada rakyat.
Namun, di balik keluhannya, pembaca dapat melihat bahwa tokoh tersebut adalah sosok yang pernah menggunakan kekuasaan secara keras. Hal ini tampak dari pengakuannya mengenai "tangan besi" dan berbagai kebijakan yang membebani rakyat.
Menjelang akhir puisi, kematian tokoh tersebut digambarkan secara simbolis. Namun kematiannya tidak mendapat penghormatan besar. Yang tersisa hanyalah kisah tentang "serigala" yang mati ditembak pemburu, sebuah simbol yang menunjukkan runtuhnya kekuasaan yang dahulu tampak menakutkan.
Makna Tersirat
Makna tersirat dalam puisi ini adalah bahwa kekuasaan yang dibangun melalui ketakutan dan penindasan pada akhirnya akan runtuh.
Batuk yang diderita dapat dimaknai sebagai simbol:
- Krisis moral penguasa.
- Kemunduran kekuasaan.
- Penyakit sosial dan politik.
- Tanda-tanda kejatuhan rezim.
Puisi ini juga menyiratkan bahwa:
- Rakyat yang lama menderita akhirnya kehilangan kepercayaan kepada pemimpin.
- Kekuasaan tidak bersifat abadi.
- Seorang pemimpin akan dinilai berdasarkan dampak tindakannya terhadap rakyat.
- Kematian dapat menghapus status sosial, jabatan, dan kekuasaan yang pernah dimiliki seseorang.
Amanat atau Pesan yang Disampaikan
Beberapa amanat yang dapat dipetik dari puisi ini adalah:
- Kekuasaan tidak akan bertahan selamanya.
- Pemimpin harus memperlakukan rakyat dengan adil dan bijaksana.
- Jangan menggunakan kekuasaan untuk menindas atau membebani masyarakat.
- Kesombongan dan penyalahgunaan wewenang pada akhirnya akan membawa kehancuran.
- Seorang pemimpin harus selalu mengingat bahwa rakyat adalah pihak yang menentukan keberlangsungan kekuasaannya.
- Setiap tindakan akan memiliki konsekuensi yang harus dipertanggungjawabkan.
Puisi "Batuk" karya Agus Dermawan T. merupakan puisi satir yang mengkritik kekuasaan melalui simbol penyakit yang diderita seorang pemimpin. Batuk dalam puisi ini menjadi metafora bagi kemunduran rezim, hilangnya dukungan rakyat, dan runtuhnya kekuasaan yang dibangun dengan tangan besi. Melalui ironi, simbolisme, dan bahasa yang ekspresif, penyair mengingatkan bahwa kekuasaan bersifat sementara, sementara penderitaan rakyat dan konsekuensi tindakan seorang pemimpin akan selalu menjadi bagian dari penilaian sejarah.
Karya: Agus Dermawan T.
Biodata Agus Dermawan T.:
- Agus Dermawan T. lahir pada tanggal 29 April 1952 di Rogojampi, Banyuwangi, Jawa Timur.
