Bila Nanti Tiba Juga Hariku
Sudi Kiranya Sesekali Ingat-Ingatlah Aku
Berkali-kali tak jemu aku
Menekuk-nekuk lipatan hidupku
Ingin terus mencari
Yang tak pernah bisa aku mengerti
Ingin bersembunyi aku tak tahu caranya
Ingin menjauh kian dekat kau taruh hidupku
Kau beri aku matahari
Menjadi bidadariku
Sekian lama sukmaku terlunta
Menghidupkan kembali awal kecilku
Dituntun langit
Kugendong umurku
Bukan sekali kurindu suara ibu
Yang bisa memaksa aku menangis
Pulang menunggu di kamar hari kecilku
Yang menyisa tinggal sekuntum wangi ibu
Kalau nanti hari semakin sunyi
Kepada siapa lagi aku bisa mengadu
Berjalan ada yang memegang tanganku
Kini kutahu hidup ternyata tak sederhana
Berapakah panjang cahaya
Mencapai serambimu
Yang kupunya hanya angin
Menyentuh saja ujung selendangmu
Seberapa rimbunkah ayat
Menuntunku di bawah pohonmu
Memasuki belantara cakrawala
Kala hidup tak sesunyi lagi rahim ibu
Bila datang petang menanti bintang
Runduk aku di khatulistiwamu
Membayangkan betapa besar
Mahligai penghias mahkota hidupku
Terpejam hidupku di antara daunmu
Setiap ingat akan tiba kurunku
Menyongsong liburan panjangku
Beribu pilu sembilu rinduku padamu.
2016
Sumber: Untukmu Aku Bernyanyi (2018)
Analisis Puisi:
Puisi "Bila Nanti Tiba Juga Hariku Sudi Kiranya Sesekali Ingat-Ingatlah Aku" karya Handrawan Nadesul merupakan puisi reflektif yang mengangkat pergulatan batin manusia dalam menghadapi kehidupan, kerinduan kepada sosok ibu, hingga kesadaran akan datangnya kematian. Dengan pilihan kata yang penuh simbol dan nuansa spiritual, penyair mengajak pembaca merenungkan arti kasih sayang, perjalanan hidup, dan tempat manusia akan kembali pada akhirnya.
Judul yang panjang sekaligus menyentuh menjadi penanda bahwa puisi ini berbicara tentang harapan agar seseorang tetap dikenang ketika kelak telah tiada.
Tema
Tema utama puisi ini adalah kerinduan, kasih seorang ibu, perjalanan hidup, dan perenungan terhadap kematian. Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema spiritual, pencarian makna hidup, serta hubungan manusia dengan Sang Pencipta yang diwujudkan melalui berbagai simbol alam dan religius.
Puisi ini bercerita tentang seseorang yang merenungkan perjalanan hidupnya. Ia mengakui bahwa selama ini dirinya terus berusaha memahami kehidupan, namun masih banyak hal yang belum dapat dimengerti.
Di tengah pencarian tersebut, ia menemukan sosok yang memberi cahaya dalam hidupnya. Namun, kerinduannya kepada ibu tetap menjadi bagian paling dalam dari jiwanya. Sosok ibu digambarkan sebagai tempat pulang, sumber kasih sayang, sekaligus kenangan masa kecil yang tak pernah hilang.
Menjelang akhir puisi, penyair mulai berbicara tentang datangnya hari ketika hidup akan berakhir. Ia memandang kematian sebagai "liburan panjang", sebuah perjalanan menuju keabadian. Di balik kesadaran itu tersimpan harapan sederhana agar dirinya tetap dikenang oleh orang-orang yang dicintainya.
Makna Tersirat
Makna tersirat dalam puisi ini adalah bahwa kehidupan merupakan perjalanan panjang yang penuh pencarian, kerinduan, dan proses menerima kenyataan.
Penyair menunjukkan bahwa sebesar apa pun seseorang bertumbuh, kenangan terhadap ibu tetap menjadi tempat kembali secara emosional. Ibu bukan hanya sosok yang melahirkan, tetapi juga lambang cinta tanpa syarat, perlindungan, dan rumah bagi jiwa.
Selain itu, puisi ini menyiratkan bahwa kematian bukan sesuatu yang harus ditakuti, melainkan bagian alami dari kehidupan. Yang paling berarti bukanlah lamanya hidup, melainkan jejak kasih dan kenangan yang ditinggalkan kepada orang lain.
Amanat / Pesan yang Disampaikan
Beberapa amanat yang dapat dipetik dari puisi ini antara lain:
- Hargailah sosok ibu selama masih memiliki kesempatan.
- Kehidupan adalah proses belajar yang tidak pernah selesai.
- Jangan takut menghadapi kematian karena ia merupakan bagian dari siklus kehidupan.
- Sisakan kebaikan dan kasih sayang agar tetap dikenang setelah tiada.
- Bersyukur atas setiap orang yang pernah menjadi cahaya dalam kehidupan kita.
- Mendekatkan diri kepada Tuhan akan membantu manusia memahami makna kehidupan.
Puisi "Bila Nanti Tiba Juga Hariku Sudi Kiranya Sesekali Ingat-Ingatlah Aku" karya Handrawan Nadesul merupakan karya yang sarat dengan refleksi tentang perjalanan hidup, kasih seorang ibu, pencarian makna, dan penerimaan terhadap kematian. Melalui simbol-simbol alam, citraan yang kuat, serta bahasa yang puitis, penyair menghadirkan pergulatan batin yang dekat dengan pengalaman banyak orang.
Puisi ini mengingatkan bahwa manusia hanyalah pengembara di dunia. Kasih ibu, cinta kepada sesama, dan kedekatan kepada Tuhan menjadi bekal yang membuat perjalanan hidup lebih bermakna. Ketika saat perpisahan tiba, yang akan tetap hidup adalah kenangan, kasih sayang, dan jejak kebaikan yang telah ditinggalkan.
Karya: Handrawan Nadesul
Biodata Handrawan Nadesul:
- Dr. Handrawan Nadesul (Gouw Han Goan) lahir pada tanggal 31 Desember 1948 di Karawang, Jawa Barat.
