Puisi: Bila Suatu Hari Nanti (Karya Handrawan Nadesul)

Puisi ini mengajak pembaca untuk menghargai setiap momen bersama orang yang dicintai, menjaga kenangan dengan penuh syukur, dan memahami bahwa ...

Bila Suatu Hari Nanti

Aku Tak Dapat Lagi

Melakukannya Sendiri


Bila suatu hari nanti aku tidak dapat lagi melakukannya sendiri, sekiranya kamu sempat, tolong sisiri rambutku, supaya lebih pantas aku dilihat semua teman dan sahabat, tampil masih seperti dulu ketika pertama kali kita bertemu.

Bila suatu hari nanti aku tidak dapat lagi melakukannya sendiri, sekiranya kamu sempat, tolong pakaikan baju kesayanganku, warna baju terindah seperti yang aku pernah kenakan ketika mula pertama aku melamarmu.

Bila suatu hari nanti aku tidak dapat lagi melakukannya sendiri, sekiranya kamu sempat, tolong pilihkan model sepatu lamaku, yang selalu kupakai ketika kita dulu sering bertemu, mungkin bisa mengingatkan aku betapa sudah begitu jauh jalan kita tempuh.

Bila suatu hari nanti aku tidak dapat lagi melakukannya sendiri, sekiranya kamu sempat, tolong sematkan setangkai mawar merah kesukaanmu di jemari tangan kananku, supaya masih mungkin kukenang, ada sesuatu yang terindah pernah kuberikan kepadamu.

Bila suatu hari nanti aku tidak dapat lagi melakukannya sendiri, sekiranya kamu sempat, tolong simpan semua catatan indah kita, barangkali itu bisa membuatmu tetap ingat, ada sesuatu yang pantas kamu kenang.

2016

Sumber: Untukmu Aku Bernyanyi (2018)

Analisis Puisi:

Puisi "Bila Suatu Hari Nanti Aku Tak Dapat Lagi Melakukannya Sendiri" karya Handrawan Nadesul merupakan puisi yang menyentuh tentang cinta, kesetiaan, dan penerimaan terhadap fase akhir kehidupan. Dengan gaya bahasa yang sederhana dan penuh kehangatan, penyair menyampaikan harapan-harapan kecil kepada orang yang dicintai apabila suatu saat dirinya sudah tidak mampu mengurus diri sendiri.

Melalui permintaan sederhana seperti menyisir rambut, memakaikan baju, memilihkan sepatu, hingga menyimpan kenangan, puisi ini menghadirkan makna mendalam mengenai kasih sayang yang tetap bertahan meskipun usia terus bertambah dan kondisi fisik semakin melemah. Kesederhanaan diksi justru menjadi kekuatan utama yang membuat puisi ini terasa dekat dengan pengalaman banyak orang.

Tema

Tema utama puisi ini adalah cinta sejati, kesetiaan, kenangan, dan penerimaan terhadap masa tua atau akhir kehidupan. Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema tentang penghargaan terhadap perjalanan hidup bersama pasangan. Penyair menunjukkan bahwa cinta bukan hanya hadir pada masa-masa bahagia, tetapi juga ketika seseorang telah kehilangan kemampuan untuk menjalani aktivitas sehari-hari secara mandiri.

Puisi ini bercerita tentang seseorang yang membayangkan suatu hari ketika dirinya tidak lagi mampu melakukan berbagai hal sendiri. Dalam keadaan tersebut, ia berharap orang yang dicintainya bersedia membantunya melakukan hal-hal sederhana, seperti menyisir rambut, memakaikan pakaian, memilihkan sepatu, hingga menjaga kenangan yang telah mereka bangun bersama.

Setiap permintaan tidak hanya berkaitan dengan kebutuhan fisik, tetapi juga memiliki nilai emosional. Baju yang dikenakan saat melamar, sepatu yang menemani perjalanan hidup, mawar merah, dan catatan indah menjadi simbol perjalanan cinta yang ingin terus dikenang.

Melalui rangkaian permintaan itu, penyair sebenarnya sedang mengungkapkan betapa berharganya kebersamaan dan kenangan dalam sebuah hubungan.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini adalah bahwa cinta yang sejati tetap bertahan ketika seseorang tidak lagi berada dalam kondisi terbaiknya. Kasih sayang tidak hanya diwujudkan melalui kata-kata romantis, tetapi juga melalui perhatian terhadap hal-hal kecil yang dilakukan dengan tulus.

Puisi ini juga menyiratkan kesadaran bahwa manusia akan mengalami proses penuaan. Ketika tubuh mulai melemah, yang paling dibutuhkan bukanlah kemewahan, melainkan kehadiran orang-orang terkasih yang tetap setia menemani.

Di sisi lain, penyair mengingatkan bahwa kenangan merupakan warisan emosional yang akan tetap hidup meskipun waktu terus berjalan.

Amanat atau Pesan yang Disampaikan

Amanat atau pesan yang disampaikan dalam puisi ini antara lain:
  • Hargailah orang-orang yang selalu menemani perjalanan hidup kita.
  • Kesetiaan sejati terlihat ketika seseorang tetap mendampingi pasangannya dalam keadaan sulit.
  • Kenangan indah merupakan bagian berharga yang patut dijaga sepanjang hidup.
  • Jangan menunggu hingga kehilangan untuk menunjukkan kasih sayang kepada orang yang dicintai.
  • Kehidupan akan terus berubah, tetapi cinta yang tulus mampu melampaui perubahan usia dan kondisi fisik.
Puisi "Bila Suatu Hari Nanti Aku Tak Dapat Lagi Melakukannya Sendiri" karya Handrawan Nadesul merupakan puisi yang mengangkat tema cinta, kesetiaan, dan penghargaan terhadap kenangan dalam perjalanan hidup bersama pasangan. Melalui permintaan-permintaan sederhana yang sarat makna, penyair menunjukkan bahwa kasih sayang sejati justru tampak dalam perhatian terhadap hal-hal kecil ketika seseorang berada pada masa paling rentan.

Puisi ini mengajak pembaca untuk menghargai setiap momen bersama orang yang dicintai, menjaga kenangan dengan penuh syukur, dan memahami bahwa cinta yang tulus akan tetap hidup meskipun usia dan keadaan terus berubah.

Handrawan Nadesul
Puisi: Bila Suatu Hari Nanti
Karya: Handrawan Nadesul

Biodata Handrawan Nadesul:
  • Dr. Handrawan Nadesul (Gouw Han Goan) lahir pada tanggal 31 Desember 1948 di Karawang, Jawa Barat.
© Sepenuhnya. All rights reserved.