Bukan Bianglala
bisa saja kusaksikan sebentuk pelangi manis melengkung
tapi bukan warna-warni berderet rapi
biasa saja aku mengatakan, ada bianglala hitam lalu abu-abu
tapi setengah mulutku begitu terkunci mati
di saat bianglala kembali bersih memutih
tak dapat kuucapkan kata demi kata
tak kutahu, di saat kubutuh sesuatu,
mengapa bibirku rapat begitu?
1976
Sumber: Horison (Maret, 1979)
Analisis Puisi:
Puisi "Bukan Bianglala" karya Bambang Sarwono merupakan puisi reflektif yang menggambarkan kegamangan batin seseorang ketika berhadapan dengan perasaan, kenyataan, atau situasi yang sulit diungkapkan melalui kata-kata. Dengan memanfaatkan simbol pelangi dan bianglala, penyair menghadirkan gambaran tentang sesuatu yang tampak indah atau jelas di hadapan mata, tetapi justru sulit dijelaskan atau disampaikan.
Penyair memperlihatkan konflik antara apa yang dilihat, dipahami, dan dirasakan dengan kemampuan untuk mengungkapkannya. Di sinilah letak kekuatan puisi ini, yaitu pada kesederhanaan bahasa yang menyimpan lapisan makna psikologis dan emosional.
Tema
Tema utama puisi ini adalah kebungkaman batin dan kesulitan mengungkapkan perasaan atau pikiran. Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema kegelisahan, keraguan, keterasingan diri, dan keterbatasan manusia dalam menyampaikan apa yang sebenarnya dirasakan.
Puisi ini bercerita tentang seseorang yang menyaksikan suatu keadaan yang diibaratkan sebagai pelangi atau bianglala. Namun, apa yang dilihatnya tidak sesuai dengan gambaran pelangi yang biasanya penuh warna dan keindahan.
Penyair mencoba memahami dan menjelaskan apa yang ada di hadapannya. Ia bahkan ingin menyebut adanya "bianglala hitam lalu abu-abu". Akan tetapi, keinginan itu terhambat oleh ketidakmampuannya untuk berbicara. Bibirnya seolah terkunci dan kata-kata tidak dapat keluar.
Pada akhirnya, puisi ini menggambarkan seseorang yang mengalami kesulitan mengungkapkan sesuatu yang penting, terutama ketika ia sangat membutuhkan kemampuan untuk berbicara dan menjelaskan apa yang dirasakannya.
Makna Tersirat
Makna tersirat dalam puisi ini adalah bahwa tidak semua pengalaman hidup dapat dengan mudah diungkapkan melalui bahasa. Ada perasaan, luka, kebingungan, atau kenyataan tertentu yang begitu rumit sehingga kata-kata menjadi tidak memadai.
Simbol bianglala yang berubah warna dari hitam, abu-abu, hingga putih dapat dimaknai sebagai perubahan emosi, perjalanan batin, atau pergulatan pikiran yang dialami seseorang. Meskipun perubahan itu terjadi dengan jelas, penyair tetap tidak mampu menjelaskan apa yang sesungguhnya dirasakan.
Puisi ini juga menyiratkan bahwa manusia sering kali mengalami kebisuan emosional, yaitu keadaan ketika hati ingin berbicara tetapi mulut tidak mampu menyampaikan isi batin.
Amanat / Pesan yang Disampaikan
Amanat yang dapat dipetik dari puisi ini antara lain:
- Tidak semua hal dalam kehidupan dapat dijelaskan dengan mudah melalui kata-kata.
- Manusia perlu belajar memahami perasaannya sendiri sebelum mengungkapkannya kepada orang lain.
- Kesulitan berkomunikasi dapat menjadi sumber kegelisahan batin.
- Kejujuran terhadap diri sendiri penting untuk membantu menemukan cara mengungkapkan apa yang dirasakan.
- Kadang-kadang diam bukan karena tidak memiliki sesuatu untuk dikatakan, melainkan karena perasaan yang terlalu kompleks untuk diungkapkan.
Puisi "Bukan Bianglala" karya Bambang Sarwono merupakan puisi yang menggambarkan kebungkaman batin seseorang ketika menghadapi pengalaman atau perasaan yang sulit diungkapkan. Melalui simbol pelangi dan bianglala, penyair menunjukkan bahwa tidak semua hal yang terlihat dapat dengan mudah dijelaskan melalui bahasa.
Puisi ini mengajak pembaca memahami bahwa diam sering kali menyimpan pergulatan batin yang jauh lebih kompleks daripada yang tampak di permukaan.
