Cinta di Ujung Akad
Pada selimut kabut malam
Aku terpaku
Rasa yang kuendapkan
Menjejal keluar
Sudah kucoba biar sirna
Tapi sebetah itu ia
Bertemu denganmu kuncupku seri
Nyatanya ku simpan sendiri
Dari kota berakar rindu menuju ke kotamu
Pagiku, kata–kata berhambur tak terkendali
Padamu aku mengakui
AKU MENCINTAIMU
Sampai besok bertemu di akadku
Rasaku tetap lekat
Hingga kini kubuat jembatan untuk bertemu
Dalam sunyi do’aku
Cikembulan, 13 Juni 2026
Analisis Puisi:
Puisi “Cinta di Ujung Akad” karya Devi Wakhyuningtiyas mengisahkan perasaan cinta yang tulus dan mendalam menjelang sebuah ikatan pernikahan. Melalui bahasa yang sederhana namun penuh emosi, penyair menggambarkan perjalanan batin seseorang yang menyimpan rasa cinta, mengakuinya, lalu menggantungkan harapan dalam doa hingga tiba saat akad berlangsung.
Puisi ini menghadirkan nuansa romantis yang dipadukan dengan ketulusan dan nilai spiritual, sehingga cinta tidak hanya dipandang sebagai perasaan, tetapi juga sebagai harapan yang diserahkan kepada Tuhan.
Tema
Tema utama puisi ini adalah cinta yang tulus menjelang pernikahan. Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema tentang penantian, harapan, pengakuan cinta, dan doa sebagai jalan menuju penyatuan dua hati.
Puisi ini bercerita tentang seseorang yang menyimpan perasaan cinta kepada orang yang dicintainya. Rasa itu telah lama dipendam dan diusahakan untuk dilupakan, tetapi tetap bertahan di dalam hati.
Pertemuan dengan sosok yang dicintai membuat perasaan tersebut semakin tumbuh dan berkembang. Pada akhirnya, penyair berani mengakui cintanya secara langsung melalui ungkapan "Aku mencintaimu."
Namun, cinta dalam puisi ini tidak berhenti pada pengakuan semata. Penyair menaruh harapan besar untuk bertemu kembali dalam ikatan yang sah, yaitu akad pernikahan. Selama menunggu saat itu tiba, ia membangun "jembatan" melalui doa-doa yang dipanjatkan dalam kesunyian.
Makna Tersirat
Makna tersirat puisi ini adalah bahwa cinta sejati tidak hanya diwujudkan melalui kata-kata, tetapi juga melalui kesabaran, komitmen, dan doa.
Penyair menunjukkan bahwa rasa cinta yang tulus akan tetap bertahan meskipun menghadapi jarak, waktu, atau ketidakpastian. Selain itu, puisi ini menyiratkan bahwa pernikahan merupakan tujuan mulia dari sebuah hubungan yang dibangun atas dasar cinta dan kesungguhan.
Doa yang disebutkan dalam bait terakhir juga mengandung pesan bahwa manusia boleh berharap, tetapi tetap menyerahkan hasil akhirnya kepada kehendak Tuhan.
Amanat atau Pesan yang Disampaikan
Beberapa amanat yang dapat dipetik dari puisi ini adalah:
- Cinta yang tulus perlu dijaga dengan kesabaran dan kejujuran.
- Jangan takut mengungkapkan perasaan yang baik dan penuh kesungguhan.
- Hubungan yang dibangun dengan niat baik hendaknya diarahkan menuju komitmen yang jelas.
- Doa merupakan salah satu bentuk ikhtiar dalam mewujudkan harapan.
- Pernikahan bukan hanya penyatuan dua insan, tetapi juga penyatuan harapan dan cita-cita bersama.
Puisi “Cinta di Ujung Akad” karya Devi Wakhyuningtiyas merupakan puisi romantis yang menggambarkan perjalanan cinta yang tulus menuju pernikahan. Penyair menampilkan kisah tentang perasaan yang lama dipendam, keberanian untuk mengungkapkannya, serta harapan untuk bertemu dalam ikatan akad yang sah. Melalui suasana romantis, syahdu, dan penuh harapan, puisi ini menyampaikan bahwa cinta sejati membutuhkan kesabaran, komitmen, dan doa.
Karya: Devi Wakhyuningtiyas
Biodata Devi Wakhyuningtiyas:
- Devi Wakhyuningtiyas lahir di Banyumas. Seorang Ibu rumah tangga yang sedang belajar meramu aksara menjadi bermakna dan nikmat dibaca. Sekarang sedang belajar di Kelas Puisi Jadi Cuan, Sekolah Kepenulisan Kosana Publisher @kosanapublisher bersama @intanhafidahnh sebagai mentor kelas.