Dalam Deru Waktu
dalam deru waktu, dulu, air di ladangmu membasuh
luka usia. Bulir-bulir padi musim panen
sayur mayur, juga hatimu, merunduk ke hening tanah
pada mekar kata yang tumbuh di lenguh kerbau
dan larik pantun — ibadah yang membumbung
ke lelang gunung. Dulu di sini bunyi hujan
dan gerak cangkul bersahutan dengan detak jantung
zikir yang meningkahi kecapi — menerjemahkan sepi
dari balik jerami atau mimpi menjelang pagi
kini mengalir percakapan liar di luar secangkir kopi
sepi pun mengerang diantara gelepar pipit
dan gelegar diam dari traktor yang meradang
sejak itu siang tak lagi panjang, malam renta
diseret jadwal kerja. Di ladangmu tanah lalu
berkisah Kain dan Habil saat risau mengaum
di sungai kering. Sepi menepi, lengang menegang
membayangkan yang mungkin hilang
dalam deru waktu, di bentangan luka mata kata
tak ada lagi kecapi — kini sepi menyanyi sendiri
tertatih-tatih mengeja huruf-huruf di langit
yang menguap dari sumur air mata petani
2001
Sumber: Sebelum Senja Selesai (2002)
Analisis Puisi:
Puisi "Dalam Deru Waktu" karya Moh. Wan Anwar merupakan refleksi puitis tentang perubahan zaman yang memengaruhi kehidupan pedesaan dan para petani. Melalui perbandingan antara masa lalu dan masa kini, penyair menggambarkan bagaimana modernisasi perlahan menggeser nilai-nilai tradisional, kebersamaan, dan keharmonisan yang dahulu melekat pada kehidupan agraris. Puisi ini tidak hanya berbicara tentang perubahan alat kerja dari cangkul ke traktor, tetapi juga tentang perubahan cara hidup, hubungan manusia dengan alam, serta nasib petani yang semakin terpinggirkan oleh arus waktu.
Tema
Tema utama puisi ini adalah perubahan kehidupan agraris akibat perkembangan zaman dan modernisasi. Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema:
- Kerinduan terhadap kehidupan desa yang sederhana.
- Pergeseran nilai-nilai tradisional.
- Kehidupan dan perjuangan petani.
- Hubungan manusia dengan alam.
- Dampak sosial dari kemajuan teknologi.
Puisi ini bercerita tentang sebuah ladang yang menjadi saksi perubahan zaman. Pada masa lalu, kehidupan di ladang dipenuhi keharmonisan antara manusia, alam, dan spiritualitas. Air mengalir di sawah, padi tumbuh subur, kerbau membajak tanah, dan lantunan pantun serta zikir menyatu dengan aktivitas para petani.
Namun, seiring berjalannya waktu, suasana tersebut berubah. Kehadiran teknologi pertanian modern seperti traktor menggantikan peran kerbau dan cangkul. Ritme kehidupan menjadi lebih cepat, jadwal kerja semakin padat, dan hubungan manusia dengan alam tidak lagi seerat dahulu.
Perubahan tersebut membawa kegelisahan. Penyair menggambarkan bahwa di balik kemajuan, ada sesuatu yang hilang, yaitu ketenangan, kebersamaan, dan nilai-nilai kemanusiaan yang dulu tumbuh di lingkungan pertanian. Pada akhirnya, puisi berujung pada gambaran kesedihan petani yang harus menghadapi berbagai tantangan hidup di tengah perubahan zaman.
Makna Tersirat
Makna tersirat dalam puisi ini adalah kritik terhadap modernisasi yang tidak selalu membawa kebahagiaan. Kemajuan teknologi memang dapat meningkatkan produktivitas, tetapi juga dapat menghilangkan tradisi, nilai budaya, dan kedekatan manusia dengan alam.
Penyair menyiratkan bahwa kehidupan masa lalu yang sederhana memiliki kekayaan batin yang sering kali tidak ditemukan dalam kehidupan modern. Keharmonisan antara pekerjaan, alam, dan spiritualitas perlahan tergantikan oleh rutinitas yang serba cepat dan berorientasi pada hasil.
Selain itu, puisi ini juga menyuarakan kegelisahan terhadap nasib petani. Mereka menjadi kelompok yang sering menanggung beban perubahan sosial dan ekonomi, sementara kesejahteraan yang dijanjikan modernisasi tidak selalu mereka rasakan.
Amanat / Pesan yang Disampaikan
Beberapa amanat yang dapat dipetik dari puisi ini adalah:
- Kemajuan teknologi sebaiknya tidak membuat manusia melupakan nilai-nilai kemanusiaan dan tradisi.
- Keharmonisan antara manusia dan alam perlu dijaga.
- Kehidupan sederhana sering kali menyimpan kebijaksanaan yang berharga.
- Masyarakat hendaknya lebih menghargai peran petani sebagai penyedia kebutuhan pangan.
- Perubahan zaman harus disikapi secara bijaksana agar tidak menghilangkan identitas budaya dan sosial masyarakat.
Puisi "Dalam Deru Waktu" karya Moh. Wan Anwar merupakan puisi reflektif yang menggambarkan perubahan kehidupan pedesaan akibat arus modernisasi. Melalui perbandingan antara masa lalu yang harmonis dan masa kini yang serba cepat, penyair menyampaikan kritik sosial terhadap hilangnya nilai-nilai tradisional dan semakin beratnya kehidupan petani. Dengan penggunaan simbol, metafora, dan imaji yang kuat, puisi ini mengajak pembaca untuk menghargai alam, menjaga warisan budaya, serta lebih peduli terhadap nasib para petani yang menjadi penopang kehidupan masyarakat.
Karya: Moh. Wan Anwar
Biodata Moh. Wan Anwar
- Moh. Wan Anwar lahir pada tanggal 13 Maret 1970 di Cianjur, Jawa Barat.
- Moh. Wan Anwar meninggal dunia pada tanggal 23 November 2009 (pada usia 39 tahun) di Serang, Banten.
