Dalam Rimba Bayang-Bayang
Aku adalah hologram
Yang dikutuk sejuta nyata
Akulah bayang-bayang yang terus menjerit
Dalam siklus padam-kerlip
Dalam situs-situs berhala. Di Jakarta. Di New York. Di Bengalore
Dalam kanvas Dali. Dalam waktu lunglai
Kita tak lagi saling menatap. Dari balik baju-baju zirah
Bersama Ben Gurion dan Arafat
Bersama Madonna, Dalai Lama, dan Bin Laden
Bersama Jenderal Schwartzkoff dan Bill Gates
Bersama George Bush dan mesin-mesin pembunuh
Kita saling tikam dan tebas
Maka pencakar-pencakar langit pun mengabu seketika
Setelah malam-malam di padang-padang sahara
Menderukan jelaga
Tak perlu lagi nama
Di tengah seliweran laser, chips, dan sinerama
Di tengah beton-beton dan burung-burung
Di tengah balon-balon raksasa dan bunga-bunga api
Yang terus menjarah ruang
Dan meruakkan anyir darah
Di Amboina, duhai... duhai tanahku
Di Irlandia. Di Jalur Gaza
Di Jafna dan Bosnia-Herzegovina. Di mana-mana
Sepanjang-panjang sejarah mahajagal itu telah menjarah
Dari tentara Romawi ke Diaspora ke Eropa ke Israel ke Palestina
Dari Palestina ke Saudi Arabia ke Menara Kembar ke Tora Bora
Ke seluruh Afghanistan. Dendam terus menderaskan bara
Begitu lihai setan. Menjerat anak-cucu Ibrahim
Begitu sarat rindu menjelma neraka
Begitu luas genangan darah orang-orang malang
Begitu lengket peradaban dengan kebiadaban
Maka senja pun ditelan lava. Menggelegak ke tatasurya
Begitulah, saudaraku, para rasul itu
Mereka program sedari awal. Untuk dikubur
Dalam rimba bayang-bayang
Desember, 2001
Sumber: Rimba Bayang-Bayang (2003)
Analisis Puisi:
Puisi "Dalam Rimba Bayang-Bayang" karya Mochtar Pabottingi merangkum kompleksitas dunia modern, globalisasi, dan konflik-konflik berkepanjangan yang melibatkan banyak pihak.
Simbolisme Hologram dan Bayang-Bayang: Penggunaan simbolisme "hologram" menggambarkan eksistensi yang terfragmentasi dan tak nyata. Hologram sering dihubungkan dengan representasi yang cacat dari realitas. "Bayang-bayang" merujuk pada keberadaan yang ada di luar cahaya, menciptakan kontras antara kehidupan sehari-hari dan realitas yang tersembunyi.
Jeritan dalam Siklus Padam-Kerlip: "Padam-kerlip" menyoroti ketidakstabilan dan ketidakpastian kehidupan. Jeritan yang terus-menerus menggambarkan ketidakpuasan, penderitaan, dan kecemasan yang tidak berkesudahan.
Globalisasi dan Identitas: Puisi merentang dari Jakarta hingga New York, menyoroti dampak globalisasi. Identitas dan keberadaan manusia semakin tercerai berai dalam aliran informasi dan budaya yang tak terbatas.
Konflik dan Pertumpahan Darah: Referensi terhadap konflik di sepanjang sejarah, seperti di Amboina, Irlandia, Jalur Gaza, dan Bosnia-Herzegovina, menunjukkan kekerasan dan pertumpahan darah yang melekat pada perjalanan sejarah manusia.
Perlambatan Kemajuan dengan Jeritan dan Pertumpahan Darah: Pabottingi mengekspresikan kekhawatiran terhadap perkembangan teknologi dan peradaban manusia yang lambat. Meskipun kemajuan teknologi terjadi, jeritan dan pertumpahan darah terus meredamnya.
Kritik terhadap Kekerasan dan Perang: Penyair mencermati kebrutalan dan kebiadaban yang melekat dalam sejarah dan konflik-konflik kontemporer. Pabottingi menyampaikan kritik terhadap kekerasan dan perang, menggambarkan bahwa konflik-konflik ini hanya menghasilkan penderitaan.
Konklusi dalam Rimba Bayang-Bayang: Puisi ini mengakhiri dengan ungkapan "Dalam rimba bayang-bayang," yang menunjukkan bahwa dalam kompleksitas dan kegelapan dunia modern, manusia seringkali terperangkap dan hilang dalam ketidakpastian dan kegelapan.
Puisi "Dalam Rimba Bayang-Bayang" menciptakan citra yang kuat tentang ketidakpastian dan kekerasan dalam perjalanan sejarah manusia. Puisi ini bukan hanya sebuah kritik terhadap konflik global, tetapi juga refleksi tentang kompleksitas manusia yang terjebak dalam rimba bayang-bayang kehidupan modern. Pabottingi menggambarkan dunia sebagai tempat di mana hologram nyata dan bayang-bayang sejarah saling melibatkan dalam siklus tak berkesudahan.
