Puisi: Demikianlah Waktu Bicara (Karya Moh. Wan Anwar)

Puisi “Demikianlah Waktu Bicara” karya Moh. Wan Anwar memperlihatkan bagaimana waktu menjadi saksi sekaligus penentu perjalanan sebuah hubungan.
Demikianlah Waktu Bicara

demikianlah waktu bicara, bersepakat dengan kita
kuil itu biarkan tetap suci
aku sekarat di barat kaulebur di timur
kau memilih semak aku mengembara di belantara
dan dari luar pagar, di antara sengat matahari
malam yang diguyur wiski
kupandangi lagi kuil itu, kukenang celah
pintu — memang cinta telah tertanam
kuperam meski cuma menjadi cuka

demikianlah jalan berbatu
tanah tergores, pada luka yang ditoreh
ada janji mengekal
dinding retak tak terbaca, harap lindap
di antara sumpah dan kutukan

mestinya kita berakhir di pelaminan
menganyam duka jadi mosaik
tapi aku tak berhasil menyelami samuderamu
kaugagal menangkap kalimat-kalimatku
mari kini melupa, menjadi bijak dan tua
melukis air mata di akhir bab yang duka ini

Serang, 1999

Sumber: Sebelum Senja Selesai (2002)

Analisis Puisi:

Puisi “Demikianlah Waktu Bicara” karya Moh. Wan Anwar merupakan puisi liris yang mengangkat tema cinta, perpisahan, dan penerimaan terhadap takdir. Melalui bahasa yang kaya metafora dan simbol, penyair menggambarkan hubungan dua insan yang pernah saling mencintai, namun pada akhirnya harus berjalan di jalan yang berbeda.

Puisi ini memperlihatkan bagaimana waktu menjadi saksi sekaligus penentu perjalanan sebuah hubungan. Harapan yang pernah tumbuh, janji yang pernah diucapkan, dan impian yang pernah dibangun bersama akhirnya harus berhadapan dengan kenyataan yang tidak selalu sesuai dengan keinginan.

Tema

Tema utama puisi ini adalah cinta yang tidak sampai pada penyatuan dan penerimaan terhadap perpisahan.

Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema:
  • Kegagalan hubungan cinta.
  • Kenangan masa lalu.
  • Takdir dan perjalanan hidup.
  • Kedewasaan dalam menghadapi kehilangan.
  • Waktu sebagai penentu perubahan.
Puisi ini bercerita tentang dua orang yang pernah memiliki hubungan yang mendalam dan saling mencintai. Mereka memiliki harapan dan impian bersama, bahkan membayangkan masa depan yang berakhir di pelaminan.

Namun, perjalanan hidup membawa mereka ke arah yang berbeda. Penyair menggambarkan dirinya dan orang yang dicintainya memilih jalan masing-masing:

"aku sekarat di barat kaulebur di timur"

Perbedaan arah tersebut menjadi simbol perpisahan yang tidak dapat dihindari.

Meskipun cinta pernah tumbuh dan tertanam kuat, hubungan itu tidak mampu bertahan. Penyair masih mengenang masa lalu, tetapi juga menyadari bahwa kenangan tersebut perlahan berubah menjadi luka dan penyesalan.

Pada akhirnya, puisi ditutup dengan ajakan untuk menerima kenyataan:

"mari kini melupa, menjadi bijak dan tua"

Ungkapan ini menunjukkan proses pendewasaan, yaitu menerima kegagalan cinta sebagai bagian dari perjalanan hidup.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini adalah bahwa tidak semua cinta berakhir dengan kebersamaan, tetapi setiap pengalaman cinta tetap memberikan pelajaran berharga bagi kehidupan.

Kegagalan hubungan dalam puisi bukan digambarkan sebagai akhir yang penuh kebencian, melainkan sebagai proses belajar untuk memahami diri sendiri dan orang lain.

Penyair juga menyiratkan bahwa waktu memiliki kekuatan untuk mengubah perasaan, menyembuhkan luka, dan mengajarkan kebijaksanaan. Kenangan yang dahulu menyakitkan pada akhirnya dapat diterima sebagai bagian dari perjalanan menuju kedewasaan.

Selain itu, puisi ini menunjukkan bahwa perpisahan sering terjadi bukan karena tidak adanya cinta, melainkan karena ketidakmampuan dua orang untuk benar-benar saling memahami.

Amanat / Pesan yang Disampaikan

Puisi ini menyampaikan beberapa pesan penting, yaitu:
  • Tidak semua cinta akan berakhir sesuai harapan.
  • Kegagalan dalam hubungan bukan berarti kehidupan harus berhenti.
  • Waktu dapat membantu manusia menerima luka dan kehilangan.
  • Hubungan yang baik membutuhkan kemampuan untuk saling memahami.
  • Kenangan masa lalu sebaiknya dijadikan pelajaran, bukan penjara bagi kehidupan saat ini.
  • Kedewasaan ditunjukkan melalui kemampuan menerima kenyataan dengan lapang hati.
Puisi “Demikianlah Waktu Bicara” karya Moh. Wan Anwar merupakan puisi yang menggambarkan kisah cinta yang tidak berakhir dengan kebersamaan. Melalui simbol-simbol seperti kuil, jalan berbatu, pelaminan, dan waktu, penyair menunjukkan bahwa cinta sering kali harus berhadapan dengan kenyataan yang tidak sesuai harapan. Meskipun dipenuhi kesedihan dan kenangan, puisi ini tidak berakhir dalam keputusasaan, melainkan dalam sikap menerima dan menjadi lebih bijaksana. Dengan demikian, puisi ini mengajarkan bahwa perpisahan bukanlah akhir dari segalanya, melainkan bagian dari proses pendewasaan dalam kehidupan manusia.

Moh. Wan Anwar
Puisi: Demikianlah Waktu Bicara
Karya: Moh. Wan Anwar

Biodata Moh. Wan Anwar
  • Moh. Wan Anwar lahir pada tanggal 13 Maret 1970 di Cianjur, Jawa Barat.
  • Moh. Wan Anwar meninggal dunia pada tanggal 23 November 2009 (pada usia 39 tahun) di Serang, Banten.
© Sepenuhnya. All rights reserved.