Puisi: Di Loksado Kudengar Seribu Pohon Bernyanyi (Karya Handrawan Nadesul)

Puisi "Di Loksado Kudengar Seribu Pohon Bernyanyi" karya Handrawan Nadesul mengingatkan bahwa meskipun kehidupan dipenuhi keindahan dan nyanyian ...

Di Loksado Kudengar

Seribu Pohon Bernyanyi


Terkesima aku pada semak pohon dan ilalang
Ribuan tahun bertekun merangkai lereng Meratus
Memberi hijau pada sepetak tanah kelahiran
Di dusun Loksado
Akulah tamu kehidupan mencarimu bertemu
Bagaikan burung pulang menemukan sarang
Terpukau aku pada rumah di rimba
Di balik sekotak jendela kayu merbau
Pagi yang permai menyelinap di tangkai cempaka
Di ranting ulin angin bergegas mengajak bicara
Seakan sedang membentang kebun hidupku

Selamat pagi kupu-kupu pelipur sunyi
Engkaulah penghuni rimba raya semesta
Izinkan aku berkunjung menuju kepompongmu
Mencari bunga liar kesukaan kekasihku
Kutitipkan nanti kepada setiap angin
Mudah-mudahan terkirim dedaunan keringku
Pun kepada lebah rimba yang baik budi
Sisihkan sedikit madumu
Agar kembali mekar semua kenanganku
Menyala di setiap ranting pohonmu

Wahai kayu dahan ranting dan daun-daun
Pada bambu kau ikat adat jagat semesta
Pada bukit kau simpan nyanyian suci
Dalam doa leluhur selalu kau sebut Amandit
Sungai selatan yang menghidupi
Menyeberang jeram Riang Barajang
Desa permai seribu pohon
Kudengar suara angin berdendang
Merintih memekik dan meracau
Seperti itu galibnya kehidupan

Rumah kami rebah di rimba
Segenap pohon angin daun dan bunga
Menyirami kami setiap musim
Ketika mekar bunga kopi Desa Malaris
Tercium harum damar dan kayumanis
Suara seribu satwa burung dan serangga
Riuh mengalun bagaikan simfoni senja
Menyanyikan semua musik hutan
Seperti itu kaharingan kehidupan
Semua menari dan menyanyi
Akhirnya kita harus menangis juga.

2017

Sumber: Untukmu Aku Bernyanyi (2018)

Analisis Puisi:

Puisi "Di Loksado Kudengar Seribu Pohon Bernyanyi" karya Handrawan Nadesul merupakan puisi yang memadukan kekaguman terhadap keindahan alam dengan penghormatan terhadap budaya lokal dan kehidupan yang selaras dengan lingkungan. Melalui latar kawasan Loksado di Pegunungan Meratus, penyair menghadirkan panorama hutan yang hidup, lengkap dengan pepohonan, sungai, satwa, dan masyarakat adat yang menjaganya.

Puisi ini bukan sekadar menggambarkan keindahan alam, tetapi juga mengandung pesan ekologis dan spiritual bahwa manusia merupakan bagian dari alam, bukan penguasanya. Oleh karena itu, hubungan harmonis antara manusia dan lingkungan menjadi inti dari keseluruhan puisi.

Tema

Tema utama puisi ini adalah kecintaan terhadap alam, keharmonisan manusia dengan lingkungan, serta penghormatan terhadap kearifan lokal. Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema pelestarian alam, spiritualitas, kehidupan masyarakat adat, dan kesadaran bahwa kehidupan manusia tidak dapat dipisahkan dari alam.

Puisi ini bercerita tentang pengalaman seseorang yang berkunjung ke Loksado dan merasakan kedekatan yang begitu mendalam dengan alam. Ia mengagumi hutan Meratus yang telah menjaga kehidupan selama ribuan tahun, menikmati kesejukan pepohonan, mendengar nyanyian angin, serta menyaksikan harmoni antara manusia, tumbuhan, dan satwa.

Dalam perjalanannya, penyair menyapa kupu-kupu, lebah, pohon, bambu, sungai, dan seluruh penghuni hutan layaknya sahabat. Alam tidak hanya dipandang sebagai objek yang indah, tetapi sebagai makhluk hidup yang memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan kehidupan.

Pada bagian akhir puisi, penyair mengingatkan bahwa meskipun kehidupan dipenuhi keindahan dan nyanyian alam, pada akhirnya manusia tetap akan menghadapi kesedihan dan kefanaan. Hal tersebut menjadi pengingat bahwa hidup harus dijalani dengan rasa syukur dan penghormatan terhadap alam.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini adalah bahwa alam merupakan sumber kehidupan sekaligus warisan yang harus dijaga bersama.

Pepohonan yang "bernyanyi" melambangkan kehidupan yang terus berlangsung dan memberikan manfaat bagi seluruh makhluk hidup. Nyanyian tersebut dapat dipahami sebagai suara alam yang mengajak manusia untuk hidup selaras dengan lingkungan.

Selain itu, penyebutan adat, doa leluhur, Sungai Amandit, dan kehidupan masyarakat Loksado menunjukkan bahwa budaya lokal memiliki hubungan yang erat dengan kelestarian alam. Ketika alam dirawat, kehidupan manusia pun akan tetap lestari.

Kalimat penutup, "Akhirnya kita harus menangis juga," mengandung makna bahwa setiap kehidupan memiliki akhir. Oleh sebab itu, manusia hendaknya memanfaatkan hidup untuk menjaga bumi yang menjadi tempat tinggal bersama.

Amanat / Pesan yang Disampaikan

Beberapa amanat yang dapat dipetik dari puisi ini antara lain:
  • Jagalah alam karena alam adalah sumber kehidupan bagi semua makhluk.
  • Hormati budaya dan kearifan lokal yang telah lama hidup berdampingan dengan lingkungan.
  • Manusia bukan penguasa alam, melainkan bagian dari ekosistem yang saling membutuhkan.
  • Bersyukurlah atas keindahan alam dan manfaat yang diberikan setiap hari.
  • Ingatlah bahwa kehidupan bersifat sementara sehingga sudah semestinya meninggalkan warisan berupa lingkungan yang tetap lestari bagi generasi berikutnya.
Puisi "Di Loksado Kudengar Seribu Pohon Bernyanyi" karya Handrawan Nadesul merupakan puisi yang mengangkat keindahan alam Loksado sebagai simbol harmoni antara manusia, budaya, dan lingkungan. Melalui deskripsi hutan, sungai, pepohonan, satwa, serta adat masyarakat setempat, penyair menyampaikan bahwa alam adalah sahabat sekaligus sumber kehidupan yang harus dijaga.

Puisi ini mengajak pembaca untuk lebih mencintai alam, menghormati kearifan lokal, dan menyadari bahwa seluruh makhluk hidup saling terhubung dalam satu kesatuan kehidupan.

Handrawan Nadesul
Puisi: Di Loksado Kudengar Seribu Pohon Bernyanyi
Karya: Handrawan Nadesul

Biodata Handrawan Nadesul:
  • Dr. Handrawan Nadesul (Gouw Han Goan) lahir pada tanggal 31 Desember 1948 di Karawang, Jawa Barat.
© Sepenuhnya. All rights reserved.