Puisi: Di Sudut Kalender Tua (Karya Soekoso DM)

Puisi “Di Sudut Kalender Tua” karya Soekoso DM memperlihatkan bagaimana waktu mencatat berbagai peristiwa penting dalam kehidupan, tetapi tidak ...
Di Sudut Kalender Tua

di sudut kalender tua tercatat
    saat mula kau kuangkat
    ke ranjang pengantin
di sudut kalender tua tercatat
    sebelas kali bumi yang penat
    kitari matahari
di sudut kalender tua tercatat
    bakal nama-bakal nama bocah-lincah
    persis kau persis aku

    tapi mengapa tak juga mereka
    tiba, itulah duka yang tak tercatat
di sudut kalender tua

1975

Sumber: Horison (Maret, 1977)

Analisis Puisi:

Puisi “Di Sudut Kalender Tua” karya Soekoso DM merupakan puisi yang mengangkat tema kehidupan rumah tangga, harapan akan kehadiran anak, dan kesedihan yang lahir dari kenyataan yang tidak sesuai dengan impian. Dengan bahasa yang sederhana namun menyentuh, penyair menggambarkan perjalanan sebuah pasangan suami istri yang telah lama menanti buah hati, tetapi penantian tersebut belum juga terwujud.

Kalender tua yang menjadi simbol utama dalam puisi ini berfungsi sebagai saksi perjalanan waktu, kenangan, harapan, sekaligus duka yang tersimpan dalam kehidupan pasangan tersebut.

Tema

Tema utama puisi ini adalah harapan dan kesedihan dalam kehidupan rumah tangga akibat belum hadirnya anak yang dinantikan.

Tema pendukung yang juga tampak dalam puisi ini meliputi:
  • Penantian yang panjang.
  • Perjalanan waktu.
  • Cinta dalam pernikahan.
  • Impian keluarga.
  • Duka yang tersembunyi.
Puisi ini bercerita tentang sepasang suami istri yang mengenang perjalanan rumah tangga mereka melalui catatan waktu yang tersimpan dalam sebuah kalender tua.

Kalender itu mencatat berbagai peristiwa penting dalam hidup mereka, mulai dari hari pernikahan:

"saat mula kau kuangkat
ke ranjang pengantin"

hingga perjalanan sebelas tahun usia pernikahan:

"sebelas kali bumi yang penat
kitari matahari"

Selama bertahun-tahun itu, mereka telah membayangkan kehadiran anak-anak yang akan menjadi penerus keluarga. Bahkan, nama-nama calon anak telah mereka persiapkan.

Namun, harapan tersebut belum juga menjadi kenyataan. Pada bagian akhir puisi, muncul ungkapan yang menjadi puncak kesedihan:

"tapi mengapa tak juga mereka
tiba"

Kehadiran anak yang selalu dinanti ternyata menjadi duka yang tidak pernah tercatat secara tertulis dalam kalender, tetapi tersimpan dalam hati mereka.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini adalah bahwa tidak semua harapan manusia dapat terwujud meskipun telah ditunggu dan diusahakan dalam waktu yang lama.

Kalender tua melambangkan perjalanan waktu yang terus bergerak. Berbagai peristiwa bahagia dapat dicatat dengan jelas, tetapi rasa kehilangan, kesedihan, dan harapan yang tidak terpenuhi sering kali tidak tercatat dalam bentuk apa pun selain dalam hati manusia.

Puisi ini juga menyiratkan bahwa kebahagiaan rumah tangga tidak selalu berjalan sesuai harapan. Ada pasangan yang harus menghadapi ujian berupa penantian panjang terhadap sesuatu yang sangat mereka dambakan.

Selain itu, puisi ini menunjukkan bahwa cinta dan kebersamaan tetap bertahan meskipun kehidupan menghadirkan kekurangan atau kesedihan tertentu.

Amanat / Pesan yang Disampaikan

Puisi ini menyampaikan beberapa pesan penting, yaitu:
  • Tidak semua harapan dapat terwujud sesuai keinginan manusia.
  • Kesabaran merupakan sikap penting dalam menghadapi ujian kehidupan.
  • Kebahagiaan rumah tangga tidak hanya ditentukan oleh terpenuhi atau tidaknya suatu harapan.
  • Waktu akan terus berjalan, tetapi manusia perlu tetap menjaga cinta dan keteguhan hati.
  • Setiap orang memiliki duka yang mungkin tidak terlihat oleh orang lain.
  • Kehidupan perlu dijalani dengan keikhlasan terhadap takdir yang diberikan.
Puisi “Di Sudut Kalender Tua” karya Soekoso DM merupakan puisi yang menggambarkan perjalanan rumah tangga yang penuh cinta sekaligus penantian. Melalui simbol kalender tua, penyair memperlihatkan bagaimana waktu mencatat berbagai peristiwa penting dalam kehidupan, tetapi tidak mampu mencatat seluruh kesedihan yang tersimpan dalam hati manusia. Dengan suasana haru, melankolis, dan reflektif, puisi ini mengajak pembaca memahami bahwa harapan yang belum terwujud merupakan bagian dari perjalanan hidup yang harus dihadapi dengan kesabaran, keteguhan, dan keikhlasan.

Puisi: Di Sudut Kalender Tua
Puisi: Di Sudut Kalender Tua
Karya: Soekoso DM

Biodata Soekoso DM:
  • Soekoso DM, lahir di Purworejo, 17 Juli 1949.
© Sepenuhnya. All rights reserved.