Puisi: Dia Datang dari Datang (Karya Abdul Wachid B. S.)

Puisi "Dia Datang dari Datang" karya Abdul Wachid B. S. menggambarkan bahwa segala sesuatu yang hadir di dunia merupakan bagian dari rahmat dan ...
Dia Datang dari Datang

dia datang dari datang
yang tak harap dan pengharapan

lekat lewat mimpi fajar
ngurai kekaguman pagi
matahari nyata di mana-mana

dua makhluk khusuk
tetesi embun paling akhir
bunga setaman berkembang
atau justru mati
kembali pada datang mula

dia datang dari datang
tak yakin hilang
sebab ia rahmat
sebab dia kodrat
takdir atasmu atasku

dia datang dari datang
segala tahu segala sembunyi
hidup ini dua jalur
satu lurus terputus
lain liku dan indah

yang satu lepas tuntas
hidup pengembaraan nuju pintu-Nya
yang lain sebagai
makmum dan imam dalam sembahyang

lihat!
aku doa untuk
dia datang dari datang
yang tak harap dan pengharapan
bunga taman berkembang dan
alam adalah sketsa peribadatan.

Oktober, 1985

Sumber: Nun (Cinta Buku, 2018)

Analisis Puisi:

Puisi "Dia Datang dari Datang" karya Abdul Wachid B. S. merupakan puisi religius bernuansa sufistik yang mengajak pembaca merenungkan asal-usul kehidupan, kehendak Tuhan, dan perjalanan manusia menuju Sang Pencipta. Dengan diksi yang simbolis dan kontemplatif, penyair menggambarkan bahwa segala sesuatu yang hadir di dunia merupakan bagian dari rahmat dan kodrat Tuhan.

Melalui pengulangan frasa "dia datang dari datang", penyair menekankan bahwa kehidupan adalah anugerah yang berasal dari kehendak Ilahi. Kehadiran manusia bukan sekadar peristiwa biologis, melainkan bagian dari takdir yang telah ditentukan sejak awal.

Tema

Tema utama puisi ini adalah perjalanan spiritual manusia sebagai bagian dari kehendak dan rahmat Tuhan. Tema-tema pendukung yang muncul dalam puisi ini meliputi:
  • Ketuhanan.
  • Takdir dan kodrat.
  • Kehidupan sebagai anugerah.
  • Ibadah dan penghambaan.
  • Perjalanan menuju Tuhan.
Puisi ini bercerita tentang kehadiran manusia yang berasal dari kehendak Tuhan dan menjalani kehidupan sebagai perjalanan spiritual menuju-Nya.

Pada bagian awal, penyair menggambarkan datangnya seseorang atau sesuatu yang berasal dari "datang", yakni asal yang tidak sepenuhnya dapat dipahami manusia. Kehadiran tersebut membawa harapan sekaligus menjadi bagian dari rahmat Tuhan.

Selanjutnya, puisi melukiskan suasana pagi, embun, bunga, dan matahari sebagai simbol kehidupan yang terus berkembang. Namun, penyair juga mengingatkan bahwa segala yang hidup pada akhirnya akan kembali kepada asalnya.

Pada bait-bait berikutnya, penyair menegaskan bahwa kehidupan memiliki dua jalur. Ada jalan yang lurus menuju Tuhan dan ada pula jalan yang penuh liku namun tetap menjadi bagian dari perjalanan hidup manusia.

Puisi ditutup dengan doa dan kesadaran bahwa seluruh alam merupakan "sketsa peribadatan", yakni tempat manusia belajar mengenal dan menyembah Tuhan.

Makna Tersirat

Makna tersirat puisi ini adalah bahwa seluruh kehidupan berasal dari Tuhan, berlangsung atas kehendak-Nya, dan pada akhirnya akan kembali kepada-Nya.

Frasa:

"dia datang dari datang"

menjadi simbol asal-usul kehidupan yang bersumber dari Tuhan. Penyair sengaja menggunakan ungkapan yang berulang untuk menegaskan bahwa manusia tidak pernah hadir atas kehendaknya sendiri.

Ungkapan:

"sebab ia rahmat, sebab dia kodrat"

menunjukkan bahwa kehidupan adalah karunia sekaligus ketetapan Ilahi yang harus diterima dengan penuh syukur.

Sementara itu, larik:

"alam adalah sketsa peribadatan"

mengandung makna bahwa seluruh alam semesta merupakan media bagi manusia untuk mengenal kebesaran Tuhan dan menjalankan pengabdian kepada-Nya.

Amanat atau Pesan yang Disampaikan

Beberapa amanat yang dapat dipetik dari puisi ini adalah:
  • Kehidupan merupakan anugerah Tuhan yang patut disyukuri.
  • Manusia hendaknya menerima takdir dengan penuh keikhlasan.
  • Seluruh perjalanan hidup seharusnya menjadi jalan untuk semakin mendekat kepada Tuhan.
  • Alam semesta merupakan tanda kebesaran Tuhan yang harus dijaga dan direnungkan.
  • Ibadah tidak hanya dilakukan melalui ritual, tetapi juga melalui cara menjalani kehidupan dengan baik.
Puisi "Dia Datang dari Datang" karya Abdul Wachid B. S. merupakan puisi religius yang mengangkat refleksi tentang asal-usul kehidupan, takdir, dan perjalanan manusia menuju Tuhan. Melalui bahasa yang simbolis dan penuh nuansa sufistik, penyair menegaskan bahwa kehidupan adalah rahmat sekaligus amanah yang harus dijalani dengan penuh kesadaran spiritual.

Puisi ini mengajak pembaca menyadari bahwa seluruh alam adalah ruang ibadah, dan setiap langkah kehidupan merupakan bagian dari perjalanan kembali kepada Sang Pencipta.

Abdul Wachid B. S.
Puisi: Dia Datang dari Datang
Karya: Abdul Wachid B. S.
© Sepenuhnya. All rights reserved.