Diskusi Para Datu
memungut kata-kata berserak
di lantai tanah berpijak
menyusuri jejak
di ketinggian jarak
kita tidak sedang terjaga
sebab di ujung kepedulian
hilang sapa
orang-orang di luar terlalu sibuk
mencari lupa
aku di balik kamar
kehilangan air mata
puah mantra datu-datu
lenyap ke mana
ketika berwujud aksara
Juni 2004-Januari 2015
Sumber: Buku Setengah Tiang (Fram Publishing, 2015)
Analisis Puisi:
Puisi "Diskusi Para Datu" karya Ali Syamsudin Arsi merupakan puisi reflektif yang mengangkat persoalan hilangnya kebijaksanaan, kepedulian, dan nilai-nilai luhur dalam kehidupan masyarakat. Melalui simbol datu—tokoh yang identik dengan kebijaksanaan dan pengetahuan dalam tradisi Nusantara—penyair mempertanyakan ke mana perginya petuah dan mantra para leluhur ketika kehidupan modern justru dipenuhi kesibukan, lupa, dan hilangnya empati.
Dengan pilihan kata yang padat dan simbolis, puisi ini mengajak pembaca merenungkan pentingnya menjaga warisan nilai budaya agar tidak hanya menjadi rangkaian aksara tanpa makna.
Tema
Tema utama puisi ini adalah hilangnya kebijaksanaan dan kepedulian dalam kehidupan modern. Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema tentang pelestarian nilai budaya, pencarian makna hidup, kesunyian batin, refleksi sosial, dan pentingnya menjaga warisan leluhur.
Puisi ini bercerita tentang seseorang yang berusaha mengumpulkan kembali "kata-kata berserak", yaitu simbol dari nilai-nilai, petuah, atau kebijaksanaan yang mulai tercerai-berai dalam kehidupan.
Di tengah perjalanan tersebut, penyair menyadari bahwa manusia sebenarnya tidak benar-benar terjaga. Kepedulian telah memudar sehingga sapaan antarsesama pun menghilang. Orang-orang di luar sibuk mengejar berbagai kepentingan hingga lupa terhadap nilai-nilai kemanusiaan, sementara penyair justru tenggelam dalam kesunyian dan kehilangan kemampuan untuk merasakan duka.
Pada bagian akhir, penyair mempertanyakan ke mana perginya mantra datu-datu, yakni ajaran para leluhur, ketika semua itu hanya tinggal tulisan atau aksara yang kehilangan daya hidupnya.
Makna Tersirat
Makna tersirat dalam puisi ini adalah bahwa kebijaksanaan tidak cukup hanya diwariskan dalam bentuk tulisan atau cerita. Nilai-nilai luhur harus terus dihidupkan melalui sikap, kepedulian, dan tindakan nyata.
Puisi ini juga menyiratkan kritik terhadap kehidupan modern yang membuat manusia semakin sibuk mengejar kepentingan pribadi hingga melupakan hubungan sosial dan nilai kemanusiaan.
Selain itu, sosok datu menjadi simbol kearifan lokal yang mulai terlupakan. Penyair mengingatkan bahwa hilangnya warisan kebijaksanaan dapat menyebabkan manusia kehilangan arah dalam menjalani kehidupan.
Amanat atau Pesan yang Disampaikan
Amanat atau pesan yang disampaikan dalam puisi ini antara lain:
- Jagalah nilai-nilai kebijaksanaan yang diwariskan para leluhur.
- Jangan sampai kesibukan membuat manusia kehilangan kepedulian terhadap sesama.
- Pengetahuan dan petuah akan kehilangan makna jika tidak diterapkan dalam kehidupan.
- Peliharalah empati agar hubungan antarmanusia tetap hangat.
- Warisan budaya hendaknya tidak hanya dikenang, tetapi juga diamalkan.
Puisi "Diskusi Para Datu" karya Ali Syamsudin Arsi merupakan puisi reflektif yang mengkritik lunturnya kepedulian dan kebijaksanaan di tengah kehidupan modern. Melalui simbol para datu, mantra, jejak, dan aksara, penyair mengingatkan bahwa nilai-nilai luhur tidak boleh berhenti sebagai warisan tertulis, tetapi harus terus dihidupkan dalam perilaku sehari-hari.
Puisi ini menghadirkan renungan mendalam tentang pentingnya menjaga kearifan budaya, memperkuat empati, dan menghidupkan kembali makna kebijaksanaan dalam kehidupan bermasyarakat.
Karya: Ali Syamsudin Arsi
Biodata Ali Syamsudin Arsi:
- Ali Syamsudin Arsi (ASA) lahir pada tanggal 5 Juni 1964 di Barabai, Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Provinsi Kalimantan Selatan.