Dongeng Perempuan Bergaun Kuning
Di Bawah Pohon Beringin
di bawah rerindang pohon beringin
engkau sering berdiri
menghitung kelepak hari
bersama guguran reranting kering
yang jatuh terlunta di antara
runcing sepatumu
cahaya siang yang terik patah
terhalang batang-batang perkasa
dan kau masih saja betah berdiri
seraya merapalkan ribuan mantra
serta menggantungkannya
pada sulur-sulur jenggotnya
di matamu
bulan telah lama karam
pun tak ada burung-burung singgah
di sepasang alismu yang semu
dan gerimis yang sering datang tiba-tiba
bagai nyanyian menjelang tidur
mudah tertepis oleh suara dengkur
di bawah rerindang pohon beringin
yang mungkin suatu saat tumbang
engkau membangun singgasana
dan bermimpi abadi mendudukinya
meski empat batang kakinya
teramat rapuh dan siap rubuh
Serpong Utara, Januari 2010
Sumber: Empat Amanat Hujan (Gramedia, 2010)
Analisis Puisi:
Puisi “Dongeng Perempuan Bergaun Kuning di Bawah Pohon Beringin” karya Husnul Khuluqi menghadirkan kisah simbolik tentang seseorang yang terjebak dalam angan-angan, harapan, dan ambisi yang tampak megah, tetapi sesungguhnya rapuh. Melalui citraan pohon beringin, perempuan bergaun kuning, serta singgasana yang dibangun di bawahnya, penyair menyampaikan refleksi tentang kekuasaan, penantian, dan ilusi yang dapat menyesatkan manusia.
Tema
Tema utama puisi ini adalah harapan, ambisi, dan ilusi kekuasaan yang dibangun di atas fondasi yang rapuh. Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema kesendirian, penantian, serta kecenderungan manusia untuk mempertahankan mimpi yang mungkin tidak sesuai dengan kenyataan.
Puisi ini bercerita tentang seorang perempuan yang terus berdiri di bawah pohon beringin, seolah menunggu sesuatu yang tak pasti sambil memelihara harapan dan mimpinya sendiri.
Perempuan tersebut digambarkan:
- Menghitung perjalanan waktu yang terus berlalu.
- Tetap bertahan meskipun tidak ada tanda-tanda harapannya akan terwujud.
- Membangun "singgasana" dan bermimpi akan mendudukinya selamanya.
- Mengabaikan kenyataan bahwa dasar tempat ia berpijak sangat rapuh.
Kisah ini dapat dimaknai sebagai dongeng tentang manusia yang terlalu larut dalam ambisi atau ilusi hingga lupa melihat realitas.
Makna Tersirat
Makna tersirat yang dapat ditemukan dalam puisi ini antara lain:
- Penantian yang terlalu panjang dapat membuat seseorang terjebak dalam dunia khayalnya sendiri.
- Kekuasaan, kedudukan, atau impian besar sering kali dibangun di atas fondasi yang tidak kokoh.
- Manusia kerap mengabaikan tanda-tanda keruntuhan karena terlalu percaya pada mimpi yang diciptakannya.
- Pohon beringin yang besar dan kuat dapat menjadi simbol kekuasaan, perlindungan, atau tradisi yang suatu saat tetap bisa tumbang.
Pada bagian akhir puisi, penyair mengingatkan bahwa segala sesuatu yang tampak kokoh tidak selalu abadi.
Amanat / Pesan yang Disampaikan
Beberapa pesan yang dapat dipetik dari puisi ini adalah:
- Jangan membangun harapan atau ambisi tanpa memperhatikan kenyataan yang ada.
- Kekuasaan dan kedudukan bukanlah sesuatu yang abadi.
- Manusia perlu menyadari keterbatasan dirinya dan tidak terjebak dalam ilusi.
- Segala sesuatu yang tampak kuat dan kokoh dapat runtuh sewaktu-waktu.
- Kebijaksanaan lahir dari kemampuan menyeimbangkan mimpi dengan realitas.
Puisi “Dongeng Perempuan Bergaun Kuning di Bawah Pohon Beringin” merupakan karya yang sarat simbol dan refleksi kehidupan. Husnul Khuluqi menggambarkan sosok yang terus memelihara harapan dan ambisi di bawah bayang-bayang kekuatan yang tampak kokoh, padahal sewaktu-waktu dapat runtuh. Melalui puisi ini, pembaca diajak untuk merenungkan hubungan antara mimpi, kekuasaan, kenyataan, dan kefanaan yang menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia.
Karya: Husnul Khuluqi
Biodata Husnul Khuluqi:
- Husnul Khuluqi lahir pada tanggal 12 Januari 1969 di Kampung Krapyak, Kecamatan Lumbir, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah.