Puisi: Ekstase Kota (Karya Ariffin Noor Hasby)

Puisi "Ekstase Kota" karya Ariffin Noor Hasby menegaskan bahwa kemajuan tidak akan berarti apabila manusia kehilangan kepekaan, keyakinan, dan ...

Ekstase Kota

menerjemahkan mabuk kota dalam igauan manusia
huruf-huruf jiwa menyala di belantara jalan
jejak-jejak suara menirukan gerak fikiran

barangkali kita mesti meluruskan keyakinan
keterasingan bukanlah bahasa taman hiburan
tapi isyarat yang dibentuk dalam rahasia tatapan
dan gairah pertemuan

memihak pada siapakah cakrawala, o matahari
bila keyakinan kita dimabukkan kesempatan
mereguk darah kota yang meluap di jalan-jalan

menerjemahkan mabuk kota dalam igauan manusia
huruf-huruf ingatan berlompatan di luar percakapan
orang-orang pun diam-diam ditusuk kesimpulan
kota masih mabuk dalam perjalanan!

Banjarbaru, Maret 1991

Sumber: Kota yang Bersiul (Tuas Media, Kertak Hanyar, 2012)

Analisis Puisi:

Puisi "Ekstase Kota" karya Ariffin Noor Hasby menggambarkan kehidupan perkotaan yang penuh dinamika, kegelisahan, dan paradoks. Melalui bahasa yang simbolis, penyair menghadirkan kota sebagai ruang yang bukan hanya dipenuhi bangunan dan jalan raya, tetapi juga dipenuhi ambisi, keterasingan, dan pencarian makna hidup.

Pilihan diksi seperti mabuk kota, huruf-huruf jiwa, dan darah kota menunjukkan bahwa puisi ini tidak sekadar melukiskan suasana kota secara fisik, melainkan juga mengungkap kondisi batin manusia yang hidup di dalamnya.

Tema

Tema utama puisi ini adalah kehidupan manusia di tengah hiruk-pikuk kota yang dipenuhi ambisi, keterasingan, dan pencarian jati diri. Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema tentang perubahan nilai kehidupan, kegelisahan sosial, serta hubungan antara manusia dengan lingkungan perkotaan yang semakin kompleks.

Puisi ini bercerita tentang manusia yang hidup di tengah kehidupan kota yang begitu sibuk hingga seolah kehilangan kesadaran akan nilai-nilai kemanusiaan. Kota digambarkan seperti memiliki kekuatan yang memabukkan sehingga manusia larut dalam ambisi, kesempatan, dan rutinitas.

Di balik keramaian tersebut, muncul rasa keterasingan yang justru menjadi ciri kehidupan modern. Penyair kemudian mengajak pembaca merenungkan kembali keyakinan, arah kehidupan, dan makna perjumpaan antarmanusia yang mulai memudar di tengah gemerlap kota.

Pada bagian akhir, penyair menegaskan bahwa "kota masih mabuk dalam perjalanan", sebuah gambaran bahwa kondisi tersebut terus berlangsung dan belum menemukan titik penyelesaiannya.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini adalah kritik terhadap kehidupan masyarakat modern yang terlalu mengejar kepentingan duniawi hingga kehilangan kepekaan terhadap sesama.

Istilah "mabuk kota" melambangkan manusia yang terlena oleh gemerlap kehidupan perkotaan, seperti kekuasaan, materi, jabatan, maupun berbagai peluang yang menggiurkan. Akibatnya, hubungan antarmanusia menjadi semakin renggang dan muncul rasa keterasingan meskipun hidup di tengah keramaian.

Penyair juga mengingatkan bahwa kesempatan dan kemajuan tidak selalu membawa kebahagiaan apabila manusia kehilangan arah, keyakinan, dan nilai-nilai kemanusiaannya.

Amanat / Pesan yang Disampaikan

Amanat yang disampaikan dalam puisi ini antara lain:
  • Jangan sampai kehidupan modern membuat manusia kehilangan nilai-nilai kemanusiaan.
  • Tetap menjaga keyakinan dan prinsip hidup di tengah derasnya arus perubahan.
  • Kehidupan yang sibuk tidak boleh menghilangkan kepedulian terhadap sesama.
  • Renungkan kembali tujuan hidup agar tidak sekadar mengikuti arus kehidupan kota.
  • Kemajuan seharusnya diimbangi dengan kebijaksanaan dan kepekaan sosial.
Melalui puisinya, penyair mengajak pembaca untuk tidak terjebak dalam "kemabukan" kehidupan modern yang dapat menjauhkan manusia dari makna kehidupan yang sesungguhnya.

Puisi "Ekstase Kota" karya Ariffin Noor Hasby merupakan refleksi mendalam mengenai kehidupan masyarakat modern. Kota digambarkan sebagai ruang yang penuh peluang sekaligus menyimpan berbagai persoalan, seperti keterasingan, ambisi, dan hilangnya nilai-nilai kemanusiaan.

Penyair mengajak pembaca untuk merenungkan kembali arah kehidupan di tengah derasnya arus modernisasi. Puisi ini menegaskan bahwa kemajuan tidak akan berarti apabila manusia kehilangan kepekaan, keyakinan, dan hubungan yang tulus dengan sesamanya.

Ariffin Noor Hasby
Puisi: Ekstase Kota
Karya: Ariffin Noor Hasby

Biodata Ariffin Noor Hasby:
  • Ariffin Noor Hasby lahir pada tanggal 20 Februari 1964 di Marabahan, Kabupaten Batola, Kalimantan Selatan.
© Sepenuhnya. All rights reserved.