Gadis Kurban
- sejak ayahnya
ditemukan telungkup di atas tubuhnya,
ia tak pernah lagi dapat bicara -
gadis bisu berbaju biru, bibirmu ungu
nasibmu haru.
kita bertemu tak sengaja di sebuah
pagi pemotongan kurban yang gerah.
aku mengisahkan padamu
tentang ibrahim, bapak agung dari
ur. "tuhan pernah nyaris membuatnya jadi
pembunuh anak sendiri."
kau menatapku miris,
matamu membendung begitu banyak tangis.
kisah panjang kemuliaan
kaummu menjadikan kau sesembahan,
juga bencana dari pualam tubuhmu saat dijadikan
jadi altar persembahan.
celakalah lelaki karena menyatu cinta
dan birahinya, ia penyembah juga pemangsa.
begitu pula aku yang terus terkenang
pada matamu: seperti telaga yang menimang
wajah bulan di malam-malam purnama.
gadis bisu berbaju biru, bibirmu ungu
nasibmu haru
daging kurban di tanganmu, untuk siapa?
2003
Sumber: Bahaya Laten Malam Penganten (Ininnawa, 2008)
Catatan:
ur, konon negeri muasal ibrahim, sekarang masuk wilayah irak.
Analisis Puisi:
Puisi “Gadis Kurban” karya Aslan Abidin merupakan puisi yang mengangkat persoalan kekerasan terhadap perempuan melalui simbol-simbol religius dan kemanusiaan. Dengan memadukan kisah kurban Nabi Ibrahim dan realitas pahit yang dialami seorang gadis, penyair menghadirkan kritik terhadap budaya yang menjadikan perempuan sebagai objek pemujaan sekaligus korban.
Puisi ini tidak hanya berbicara tentang penderitaan individu, tetapi juga tentang relasi kuasa, hasrat, dan ketidakadilan yang dialami perempuan dalam masyarakat.
Tema
Tema utama puisi ini adalah penderitaan perempuan akibat kekerasan dan objektifikasi, serta kritik terhadap perilaku manusia yang mengorbankan sesamanya demi hasrat dan kepentingan pribadi. Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema kemanusiaan, trauma, cinta, dan ironi pengorbanan.
Puisi ini bercerita tentang seorang gadis bisu yang mengalami trauma mendalam setelah mengalami peristiwa tragis yang berkaitan dengan ayahnya.
Penyair bertemu dengan gadis tersebut pada pagi hari saat pelaksanaan kurban. Dalam pertemuan itu, ia mengisahkan cerita Nabi Ibrahim yang hampir mengorbankan anaknya atas perintah Tuhan.
Namun, kisah religius tersebut berkelindan dengan kisah hidup sang gadis yang seolah menjadi “kurban” dalam kehidupan nyata. Ia bukan hanya kehilangan suara, tetapi juga kehilangan kebahagiaan dan kebebasan akibat pengalaman pahit yang membekas dalam hidupnya.
Pada akhir puisi, pertanyaan “daging kurban di tanganmu, untuk siapa?” menjadi penutup yang menyimpan makna mendalam tentang siapa sesungguhnya yang menjadi korban dalam kehidupan.
Makna Tersirat
Makna tersirat puisi ini sangat kuat dan berlapis. Beberapa makna yang dapat ditangkap antara lain:
- Perempuan sering dijadikan objek pemujaan sekaligus objek eksploitasi.
- Kekerasan terhadap perempuan meninggalkan luka yang jauh lebih dalam daripada luka fisik.
- Kisah pengorbanan dalam agama dipertentangkan dengan kenyataan bahwa manusia masih sering mengorbankan sesamanya.
- Hasrat yang tidak terkendali dapat mengubah manusia menjadi pemangsa.
- Trauma dapat membungkam seseorang, baik secara harfiah maupun batiniah.
Ungkapan “ia penyembah juga pemangsa” menjadi kritik terhadap paradoks manusia yang mengaku mencintai, tetapi sekaligus melukai.
Amanat / Pesan yang Disampaikan
Pesan yang ingin disampaikan penyair antara lain:
- Perempuan harus dihormati sebagai manusia, bukan dijadikan objek hasrat atau pengorbanan.
- Kekerasan meninggalkan luka batin yang panjang dan mendalam.
- Manusia perlu mengendalikan nafsu dan kekuasaan agar tidak menyakiti sesamanya.
- Nilai-nilai pengorbanan dalam agama seharusnya melahirkan kasih sayang, bukan penderitaan.
- Empati terhadap korban kekerasan adalah bagian penting dari kemanusiaan.
Puisi ini juga mengajak pembaca untuk melihat bahwa korban sering kali tetap memikul beban hidup meskipun peristiwa tragis telah lama berlalu.
Puisi “Gadis Kurban” karya Aslan Abidin merupakan refleksi mendalam tentang penderitaan perempuan yang menjadi korban kekerasan dan objektifikasi. Dengan menghubungkan kisah religius Nabi Ibrahim dengan realitas sosial, penyair menghadirkan kritik yang kuat terhadap perilaku manusia yang menjadikan sesama sebagai korban demi hasrat dan kepentingannya sendiri.
Melalui sosok gadis bisu berbaju biru, puisi ini menyuarakan luka yang sering tidak terdengar, sekaligus mengingatkan pentingnya empati, penghormatan terhadap perempuan, dan kemanusiaan yang sejati.
Puisi: Gadis Kurban
Karya: Aslan Abidin
Biodata Aslan Abidin:
- Aslan Abidin lahir pada tanggal 31 Mei 1972 di Kabupaten Soppeng, Provinsi Sulawesi Selatan.