Hari Berangkat Dewasa
lihatlah hari berangkat dewasa
matahari mengajari kita agar tak berdusta
membagikan kasih sayangnya kepada setiap cinta
lihatlah jiwa kita yang terengah-engah
mendaki seluruh perjalanan. Menatap pada
kehidupan yang buram dan menyakitkan
"Peristiwa-peristiwa siang ini bukanlah
mimpi!" seru seseorang di pinggir jalan
tapi perjalanan ini penuh dengan borok
dan luka. Kulit tubuh kian melepuh
dan kita menjadi kelu bila bicara
kota menjadi pucat. Gedung-gedung membisu
kita membutuhkan bara untuk membakar
tubuh-tubuh yang terlanjur terbaring kaku
Bandung, 1993
Sumber: Sebelum Senja Selesai (2002)
Analisis Puisi:
Puisi "Hari Berangkat Dewasa" karya Moh. Wan Anwar menghadirkan refleksi mendalam tentang perjalanan hidup manusia menuju kedewasaan. Penyair menggambarkan bahwa proses menjadi dewasa bukanlah perjalanan yang mudah, melainkan penuh tantangan, luka, dan kenyataan pahit yang harus dihadapi. Melalui berbagai simbol dan citraan yang kuat, puisi ini mengajak pembaca untuk melihat realitas kehidupan secara lebih jujur dan bijaksana.
Tema
Tema utama puisi ini adalah perjalanan menuju kedewasaan dan pergulatan manusia dalam menghadapi realitas kehidupan. Kedewasaan digambarkan sebagai sebuah proses panjang yang menuntut keberanian, keteguhan hati, serta kemampuan menerima berbagai kenyataan yang tidak selalu indah.
Puisi ini bercerita tentang manusia yang sedang menempuh perjalanan hidup menuju kedewasaan. Dalam perjalanan tersebut, mereka belajar dari kehidupan sebagaimana matahari mengajarkan kejujuran dan kasih sayang kepada semua makhluk tanpa membeda-bedakan.
Namun, perjalanan menuju kedewasaan tidak selalu berjalan mulus. Penyair menunjukkan adanya penderitaan, luka, kelelahan, serta berbagai persoalan sosial yang membuat kehidupan tampak buram dan menyakitkan. Di tengah berbagai kesulitan itu, manusia tetap harus melangkah dan menghadapi kenyataan yang ada.
Makna Tersirat
Makna tersirat yang terkandung dalam puisi ini adalah bahwa kedewasaan sejati lahir dari pengalaman menghadapi kesulitan hidup. Seseorang tidak menjadi dewasa hanya karena bertambah usia, melainkan karena mampu memahami kenyataan, menerima luka kehidupan, dan tetap memiliki semangat untuk memperbaiki keadaan.
Selain itu, puisi ini juga menyiratkan kritik terhadap kondisi sosial yang penuh penderitaan, ketidakpedulian, dan kemerosotan nilai-nilai kemanusiaan. Gambaran kota yang pucat dan gedung-gedung yang membisu menunjukkan adanya suasana kehidupan yang kehilangan kehangatan dan kepedulian.
Amanat / Pesan yang Disampaikan
Amanat yang ingin disampaikan penyair antara lain:
- Manusia harus belajar bersikap jujur dan penuh kasih sebagaimana matahari yang menerangi semua tanpa pilih kasih.
- Kedewasaan membutuhkan proses panjang yang sering kali dipenuhi kesulitan dan penderitaan.
- Jangan menutup mata terhadap realitas sosial yang terjadi di sekitar kita.
- Tetaplah memiliki semangat dan keberanian untuk menghadapi tantangan hidup.
- Kepedulian terhadap sesama sangat dibutuhkan agar kehidupan tidak menjadi dingin dan kehilangan makna kemanusiaan.
Puisi "Hari Berangkat Dewasa" karya Moh. Wan Anwar menggambarkan perjalanan manusia menuju kedewasaan yang penuh tantangan dan penderitaan. Melalui simbol, imaji, dan majas yang kuat, penyair menunjukkan bahwa kehidupan tidak selalu berjalan sesuai harapan. Namun, dari berbagai luka dan kesulitan itulah manusia dapat belajar menjadi pribadi yang lebih matang, jujur, dan peduli terhadap sesama. Puisi ini juga menjadi refleksi sosial yang mengingatkan pembaca untuk tidak mengabaikan berbagai persoalan kemanusiaan yang terjadi di sekitar mereka.
Karya: Moh. Wan Anwar
Biodata Moh. Wan Anwar
- Moh. Wan Anwar lahir pada tanggal 13 Maret 1970 di Cianjur, Jawa Barat.
- Moh. Wan Anwar meninggal dunia pada tanggal 23 November 2009 (pada usia 39 tahun) di Serang, Banten.
