Jendela yang Kita Baca
susunan papan berkeping luruh itu semakin lusuh
di hamparan pasir
engkau dan teman-teman lainnya menenggelamkan
kapal di tengah
lautan semakin bergelombang semakin gemuruh;
pasir bergelora
sudah kita rangkai sejumlah kata, dalam catatan sejarah usang
atas nama peristiwa yang semakin bergejolak, jendela
patah penyangga
jendela berlubang-lubang, tembus cahaya pagi siang sore
juga malam
ada banyak riak atas gelombang, ada banyak memang
ada yang tak pernah tuntas kita renungkan,
ada banyak memang
maaf, bila hanya sekedar mewakilkan kalian
di satu wilayah yang tak seharusnya kalian tempati
karena ucap dan laku tak ubahnya luka berkepanjangan
jendela yang kita baca, seperti kobaran api di sekam-sekam
Banjarbaru, Desember 2013
Sumber: Gemuruh (Fram Publishing, 2014)
Analisis Puisi:
Puisi "Jendela yang Kita Baca" karya Ali Syamsudin Arsi merupakan puisi reflektif yang memadukan simbol-simbol benda, alam, dan sejarah untuk menyampaikan kritik terhadap kehidupan sosial. Jendela dalam puisi ini tidak hanya berfungsi sebagai bagian dari sebuah bangunan, tetapi menjadi metafora cara manusia memandang kenyataan, membaca sejarah, dan memahami berbagai peristiwa yang terus berulang.
Melalui bahasa yang padat dan simbolik, penyair mengajak pembaca merenungkan luka-luka kolektif yang belum selesai, sekaligus mempertanyakan bagaimana manusia menyikapi pengalaman masa lalu. Puisi ini memperlihatkan bahwa sejarah tidak sekadar untuk dikenang, tetapi harus dibaca agar kesalahan yang sama tidak terus terulang.
Tema
Tema utama puisi ini adalah perenungan terhadap sejarah, luka sosial, dan cara manusia memahami kenyataan melalui pengalaman masa lalu. Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema tentang tanggung jawab, ingatan kolektif, konflik, serta pentingnya refleksi dalam menghadapi kehidupan.
Puisi ini bercerita tentang sebuah jendela tua yang telah rapuh dan berlubang. Jendela tersebut menjadi saksi perjalanan waktu, berbagai peristiwa, dan perubahan yang terjadi dalam kehidupan manusia.
Penyair menggambarkan seseorang bersama teman-temannya yang seolah sedang memainkan atau menenggelamkan kapal di tengah lautan yang bergelombang. Gambaran tersebut berkembang menjadi simbol berbagai konflik dan pergolakan yang terus muncul dalam sejarah.
Selanjutnya, penyair mengakui bahwa masih banyak persoalan yang belum selesai direnungkan. Ia menyampaikan permohonan maaf karena merasa hanya mampu mewakili sebagian suara yang sebenarnya lebih kompleks daripada yang dapat diungkapkan.
Pada akhir puisi, jendela diibaratkan seperti kobaran api di dalam sekam. Artinya, di balik sesuatu yang tampak tenang, tersimpan persoalan besar yang sewaktu-waktu dapat kembali muncul.
Makna Tersirat
Makna tersirat dalam puisi ini adalah bahwa sejarah dan pengalaman hidup merupakan "jendela" yang membantu manusia memahami masa kini. Namun, apabila manusia gagal membaca pelajaran dari masa lalu, konflik dan luka akan terus berulang.
Jendela yang rapuh juga melambangkan cara pandang manusia yang mulai rusak atau tidak lagi utuh dalam melihat kenyataan. Sementara api dalam sekam menyiratkan bahwa persoalan sosial sering kali tetap hidup meskipun tampak telah selesai.
Puisi ini mengajak pembaca untuk lebih jujur dalam menghadapi sejarah dan berani mengakui luka-luka yang belum benar-benar sembuh.
Amanat / Pesan yang Disampaikan
Beberapa amanat yang dapat dipetik dari puisi ini antara lain:
- Belajarlah dari sejarah agar kesalahan yang sama tidak terus terulang.
- Jangan menutupi persoalan yang sebenarnya masih menyimpan potensi konflik.
- Kejujuran dalam melihat kenyataan merupakan langkah awal menuju perubahan.
- Setiap pengalaman hidup memiliki pelajaran yang perlu direnungkan.
- Luka sosial hanya dapat disembuhkan apabila diakui dan dihadapi bersama.
Puisi "Jendela yang Kita Baca" karya Ali Syamsudin Arsi merupakan puisi reflektif yang mengajak pembaca melihat sejarah sebagai jendela untuk memahami kehidupan. Melalui simbol jendela, kapal, laut, dan api dalam sekam, penyair menyampaikan bahwa banyak persoalan sosial yang belum benar-benar selesai dan masih memerlukan keberanian untuk dihadapi.
Puisi ini mengingatkan bahwa membaca sejarah bukan hanya mengenang masa lalu, tetapi juga belajar agar mampu membangun masa depan yang lebih adil, bijaksana, dan manusiawi.
Karya: Ali Syamsudin Arsi
Biodata Ali Syamsudin Arsi:
- Ali Syamsudin Arsi (ASA) lahir pada tanggal 5 Juni 1964 di Barabai, Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Provinsi Kalimantan Selatan.