Jumlah-Jumlah
Marilah jangan bicara
soal jumlah
Karena
Akulah Jumlah
Yang membuat semua jumlah
Jadi genap
Berapa jumlah angin?
Berapa jumlah hujan?
Yang jatuh di bumi,
jadi intan?
jadi padi?
Semua jadi genap.
Sumber: Aura Para Aulia (1990)
Analisis Puisi:
Puisi "Jumlah-Jumlah" karya Motinggo Boesje merupakan puisi pendek yang sarat dengan perenungan filosofis. Melalui penggunaan kata "jumlah", penyair tidak sekadar berbicara tentang hitungan atau angka, melainkan tentang keberadaan suatu kekuatan yang melengkapi dan menyempurnakan kehidupan.
Dengan bahasa yang sederhana namun penuh simbol, puisi ini mengajak pembaca untuk memikirkan hal-hal yang tidak dapat diukur secara matematis, seperti alam, kehidupan, dan keberadaan yang membuat segala sesuatu menjadi utuh.
Tema
Tema utama puisi ini adalah hakikat kehidupan, kesempurnaan, dan keberadaan yang melengkapi segala sesuatu. Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema tentang hubungan manusia dengan alam, makna keberadaan, serta keterbatasan manusia dalam memahami seluruh rahasia kehidupan.
Puisi ini bercerita tentang seseorang yang menyatakan dirinya sebagai "Jumlah". Ia mengajak pembaca untuk tidak terjebak pada persoalan angka atau kuantitas semata.
Penyair kemudian mempertanyakan jumlah angin dan jumlah hujan, dua hal yang sulit atau bahkan mustahil dihitung secara pasti. Hujan yang jatuh ke bumi dapat menghasilkan berbagai manfaat, seperti menjadi padi yang memberi kehidupan atau bahkan menjadi sesuatu yang sangat berharga yang disimbolkan dengan intan.
Melalui pernyataan bahwa "semua jadi genap", penyair menegaskan bahwa ada kekuatan yang membuat kehidupan menjadi lengkap dan bermakna meskipun tidak selalu dapat dijelaskan melalui hitungan angka.
Makna Tersirat
Makna tersirat dalam puisi ini adalah bahwa tidak semua hal dalam kehidupan dapat diukur dengan angka, jumlah, atau ukuran materi.
Angin dan hujan merupakan simbol anugerah alam yang manfaatnya jauh lebih penting daripada sekadar jumlahnya. Penyair seolah mengkritik cara pandang manusia yang sering menilai segala sesuatu berdasarkan kuantitas tanpa memperhatikan makna dan manfaatnya.
Penyair yang menyebut dirinya sebagai "Jumlah" dapat dimaknai sebagai simbol kekuatan penciptaan, kehidupan, atau bahkan Tuhan yang menjadikan segala sesuatu lengkap dan sempurna.
Puisi ini juga mengandung gagasan bahwa kehidupan menjadi berarti bukan karena banyak atau sedikitnya sesuatu, melainkan karena peran dan manfaat yang dihasilkannya.
Amanat / Pesan yang Disampaikan
Amanat yang dapat dipetik dari puisi ini antara lain:
- Jangan menilai segala sesuatu hanya berdasarkan jumlah atau kuantitas.
- Hargailah manfaat dan makna yang terkandung dalam setiap hal.
- Kehidupan memiliki banyak misteri yang tidak dapat dijelaskan hanya dengan logika atau perhitungan.
- Alam memberikan banyak anugerah yang tidak ternilai harganya.
- Kesempurnaan hidup sering kali berasal dari hal-hal yang tidak dapat dihitung secara pasti.
Puisi ini mengajarkan bahwa kualitas dan makna sering kali lebih penting daripada sekadar angka.
Puisi "Jumlah-Jumlah" karya Motinggo Boesje merupakan puisi filosofis yang mengajak pembaca merenungkan makna keberadaan dan kesempurnaan hidup. Melalui simbol angin, hujan, intan, dan padi, penyair menunjukkan bahwa tidak semua hal penting dalam kehidupan dapat diukur dengan angka. Yang lebih penting adalah manfaat, makna, dan peran yang dihasilkan.
Puisi ini menjadi refleksi tentang bagaimana manusia seharusnya memandang kehidupan secara lebih mendalam, tidak hanya berdasarkan kuantitas, tetapi juga kualitas dan nilai yang terkandung di dalamnya.
Karya: Motinggo Boesje
Biodata Motinggo Boesje:
- Motinggo Boesje (Motinggo Busye) lahir di Kupang Kota, pada tanggal 21 November 1937.
- Motinggo Boesje meninggal dunia di Jakarta, pada tanggal 18 Juni 1999 (pada usia 61 tahun).
- Nama lahir Motinggo Boesje adalah Bustami Djalid.
