Puisi: Kalimantan, Biarkan Kami yang Bicara (Karya Ali Syamsudin Arsi)

Puisi "Kalimantan, Biarkan Kami yang Bicara" karya Ali Syamsudin Arsi merupakan kritik sosial yang menyuarakan keresahan masyarakat Kalimantan ...

Kalimantan, Biarkan Kami yang Bicara

berharap yang lain bicara, tak ada suara
orang lain di luar sana telah bicara dengan lapisan hutan
daun rindang
belantara, sementara
kita di dalam raya kata raya aroma raya cuaca raya langit
hijau warna
masih saja, ya masih saja mencoba lepaskan gerah
dan kering cahaya
hiruk-pikuk di gamang-gamang lapisan subur berkubang
jejak lubang,
lubang-lubang sampai ke batas nganga, dan nganga itu
telah pula
hadirkan rupa-rupa wajah pendatang, sementara kita
melepas jerat saja tak mampu di cercah gelak dan tawa,
senyum kita terkunci,
terkunci oleh kebodohan diri sendiri, tak tak tak,
 – tak mampu menepis buta,
buta bahwa kita masih dilena dalam kungkung dan buai
morgana, morgana
dalam sekap-sekap pendar cahaya

di puncak pucuk daun kerontang kita lihat ujung monas
yang tajam,
tajam menghujam,
dan kisah rimba raya, kisah hutan-hutan penuh misteri;
lenyap tanpa cerita
kalimantan, biarkan kami yang bicara
bicara di antara debu dan degup jantung berpacu

berharap yang lain bicara, tak ada suara, dan sungguh,
tak ada suara
kalimantan, biarkan kami yang bicara
bicara dengan senyum terkunci

ketidak-adilan itu tetap saja ada di sini

Banjarbaru, 14 Juli 2013

Sumber: Gemuruh (Fram Publishing, 2014)

Analisis Puisi:

Puisi "Kalimantan, Biarkan Kami yang Bicara" karya Ali Syamsudin Arsi merupakan puisi kritik sosial yang menyuarakan keresahan masyarakat Kalimantan terhadap ketidakadilan, eksploitasi alam, dan terpinggirkannya suara masyarakat lokal. Penyair memanfaatkan simbol hutan, lubang-lubang tambang, serta citra Kalimantan sebagai ruang hidup yang terus mengalami perubahan akibat kepentingan ekonomi dan politik.

Melalui gaya bahasa yang repetitif dan penuh tekanan emosional, puisi ini menjadi seruan agar masyarakat Kalimantan tidak lagi hanya menjadi penonton, tetapi berani berbicara atas nama tanah, hutan, dan kehidupan mereka sendiri.

Tema

Tema utama puisi ini adalah perjuangan masyarakat Kalimantan dalam menyuarakan keadilan di tengah kerusakan lingkungan dan ketimpangan sosial. Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema tentang identitas daerah, kesadaran kolektif, eksploitasi sumber daya alam, serta kritik terhadap kekuasaan yang mengabaikan suara masyarakat.

Puisi ini bercerita tentang kegelisahan seorang penyair yang melihat banyak pihak berbicara mengenai Kalimantan, tetapi suara masyarakat yang benar-benar hidup di dalamnya justru jarang didengar.

Penyair menggambarkan Kalimantan sebagai wilayah yang kaya akan hutan, alam, dan kehidupan. Namun, kekayaan tersebut perlahan berubah menjadi hamparan lubang-lubang akibat eksploitasi. Kedatangan para pendatang yang membawa kepentingan baru semakin memperumit keadaan, sementara masyarakat lokal merasa terbelenggu oleh ketidakberdayaan.

Pada bagian selanjutnya, penyair menghadirkan simbol Monas sebagai representasi pusat kekuasaan yang terasa jauh dari realitas Kalimantan. Hutan-hutan yang dahulu penuh misteri kini lenyap tanpa banyak perhatian.

Puisi ditutup dengan seruan yang kuat: "Kalimantan, biarkan kami yang bicara." Seruan ini menjadi tuntutan agar masyarakat lokal memperoleh ruang untuk menyampaikan pengalaman, penderitaan, dan harapan mereka sendiri.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini adalah bahwa persoalan Kalimantan tidak dapat dipahami sepenuhnya oleh pihak luar tanpa mendengarkan suara masyarakat yang mengalaminya secara langsung.

Lubang-lubang yang disebutkan dalam puisi bukan hanya menggambarkan bekas tambang secara fisik, tetapi juga melambangkan luka sosial, budaya, dan ekonomi yang ditinggalkan oleh eksploitasi.

Puisi ini juga menyiratkan kritik terhadap sikap pasif masyarakat yang terlena oleh berbagai janji dan ilusi. Penyair mengajak masyarakat untuk membangun kesadaran agar tidak terus-menerus menjadi korban ketidakadilan.

Amanat / Pesan yang Disampaikan

Beberapa amanat yang dapat dipetik dari puisi ini antara lain:
  • Masyarakat harus berani menyuarakan hak dan kepentingannya sendiri.
  • Jangan membiarkan eksploitasi alam berlangsung tanpa kritik dan pengawasan.
  • Kesadaran terhadap kondisi lingkungan harus dimulai dari masyarakat yang hidup di dalamnya.
  • Ketidakadilan harus dilawan dengan keberanian untuk bersuara.
  • Kekayaan alam hendaknya dijaga demi keberlangsungan generasi mendatang.
Puisi "Kalimantan, Biarkan Kami yang Bicara" karya Ali Syamsudin Arsi merupakan puisi kritik sosial yang menyuarakan keresahan masyarakat Kalimantan terhadap kerusakan lingkungan, eksploitasi sumber daya alam, dan ketidakadilan yang mereka alami. Melalui simbol-simbol hutan, lubang tambang, Monas, dan senyum yang terkunci, penyair memperlihatkan benturan antara kekayaan alam dengan kepentingan ekonomi dan politik.

Puisi ini mengajak pembaca untuk mendengarkan suara masyarakat lokal, menjaga kelestarian alam, dan memperjuangkan keadilan agar Kalimantan tidak hanya menjadi objek pembangunan, tetapi juga subjek yang menentukan masa depannya sendiri.

Ali Syamsudin Arsi
Puisi: Kalimantan, Biarkan Kami yang Bicara
Karya: Ali Syamsudin Arsi

Biodata Ali Syamsudin Arsi:
  • Ali Syamsudin Arsi (ASA) lahir pada tanggal 5 Juni 1964 di Barabai, Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Provinsi Kalimantan Selatan.
© Sepenuhnya. All rights reserved.