Puisi: Kamar (Karya Motinggo Boesje)

Puisi "Kamar" karya Motinggo Boesje mengajarkan bahwa hubungan yang sempat renggang atau terhalang oleh waktu masih dapat dipulihkan apabila ada ...
Kamar
Buat album Eny d fonni

antara tingkap loteng batas dua jendela
persiapan kertas hangus rabu dan jaring laba-laba
sekeliling
tawa keras si gadis mengetuk pintu
serta mata penuh tanya

semalaman kutunggu kau sampai ia larut
membatas kelesuan lampu dinding kepandangan cerita
jemu
album kotor sekali dibuka tali rabu
putus-putus

putus-putus,

ketibaan gadis dipandang dua berat mata
kusutnya jaring lelaba serta album yang dingin
masuklah kekasih
tunggu tidurku sampai pagi
sepagi album putih di meja menarik tali rabu
bersambung-sambung
surat cinta

Sumber: Majalah Mingguan Membimbing (10 Februari 1955)

Analisis Puisi:

Puisi "Kamar" karya Motinggo Boesje menghadirkan suasana yang intim, melankolis, dan penuh penantian. Melalui gambaran sebuah kamar dengan jaring laba-laba, lampu dinding, album, dan surat cinta, penyair menampilkan kisah tentang kerinduan, harapan, serta pertemuan yang dinanti-nantikan.

Tema

Tema utama puisi ini adalah cinta dan penantian. Penyair menggambarkan seseorang yang menunggu kehadiran kekasihnya di tengah suasana kamar yang sepi dan penuh kenangan.

Puisi ini bercerita tentang seseorang yang menunggu kedatangan seseorang yang dicintainya. Penantian tersebut berlangsung dalam sebuah kamar yang digambarkan dengan berbagai benda yang menyimpan kesan waktu dan kenangan, seperti album lama, lampu dinding, serta jaring laba-laba.

Pada awal puisi, suasana terasa sunyi dan dipenuhi tanda-tanda kejenuhan akibat penantian yang panjang. Namun, pada bagian akhir, suasana berubah ketika sang gadis akhirnya datang. Kehadirannya membawa harapan baru, mengubah sesuatu yang sebelumnya "putus-putus" menjadi "bersambung-sambung", yang ditandai dengan hadirnya surat cinta.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini berkaitan dengan harapan yang tetap hidup meskipun harus melewati masa penantian yang panjang dan melelahkan.

Album yang awalnya kotor dan tali yang putus-putus dapat dimaknai sebagai hubungan atau kenangan yang mulai pudar karena waktu. Namun ketika kekasih datang, album menjadi putih dan tali kembali bersambung. Hal ini melambangkan pulihnya hubungan, tumbuhnya harapan, dan hadirnya kembali kasih sayang.

Puisi ini juga menunjukkan bahwa cinta mampu menghidupkan kembali semangat yang sempat redup akibat kesepian dan kerinduan.

Amanat / Pesan yang Disampaikan

Amanat yang dapat dipetik dari puisi ini adalah bahwa kesetiaan dan kesabaran dalam menunggu sesuatu yang berharga sering kali akan berbuah kebahagiaan. Puisi ini juga mengajarkan bahwa hubungan yang sempat renggang atau terhalang oleh waktu masih dapat dipulihkan apabila ada ketulusan, kasih sayang, dan keinginan untuk kembali saling memahami.

Puisi "Kamar" karya Motinggo Boesje menggambarkan perjalanan emosi seseorang yang menanti kedatangan kekasihnya. Dengan memanfaatkan simbol-simbol seperti kamar, album, jaring laba-laba, dan surat cinta, penyair menghadirkan kisah tentang kerinduan, kesabaran, serta harapan yang akhirnya menemukan titik terang. Puisi ini menunjukkan bahwa cinta memiliki kekuatan untuk menghubungkan kembali apa yang sempat terputus dan menghidupkan kembali kenangan yang hampir pudar.

Motinggo Boesje
Puisi: Kamar
Karya: Motinggo Boesje

Biodata Motinggo Boesje:
  • Motinggo Boesje (Motinggo Busye) lahir di Kupang Kota, pada tanggal 21 November 1937.
  • Motinggo Boesje meninggal dunia di Jakarta, pada tanggal 18 Juni 1999 (pada usia 61 tahun).
  • Nama lahir Motinggo Boesje adalah Bustami Djalid.
© Sepenuhnya. All rights reserved.