Puisi: Kekasih yang Satu (Karya Abdul Wachid B. S.)

Puisi "Kekasih yang Satu" karya Abdul Wachid B. S. mengeksplorasi tema sakit, kasih sayang, dan perjalanan hidup. Melalui bahasa puitisnya, penyair ..
Kekasih yang Satu

jika lama terbaring dalam sakit
apa yang mesti dikatakan pada
sepasang mata bening yang
mengerjap menyebut kau, "ibu!"
seorang lelaki berkarib pada batu-batu
tapi surga lebih mendekat pada ujung
jemari wanita yang mengerti dirinya siapa
dari situ tangga-tangga menjulang
menyusun bahasa kasih-sayang
sampai si bocah tak tersesat jalan pulang

begini tak lagi ada yang menerbangkan
merpati putih
tinggal kepak sayap yang menggema ke ruang mimpi
ayat alam yang terbentang itu butuh
jembatan, yakni hatimu
yang melesatkan anak kau dan aku
sampai rumah dirinya sendiri
sebelum senja menyusutkan kau dan aku
dan para lelaki sepertiku cumalah bangsa batu
dan perlu bahasa wanita
sampai tak tersesat di sebuah taman yang
bernama dunia

tapi
jika lama kau terbaring dalam sakit
apa aku juga si bocah bisa mencabut belati
yang menancap di daging puisi?

kekasih yang satu, dari adamu aku mengerti
ciptaan, Tuhan dan diri siapa.

1995

Analisis Puisi:

Puisi "Kekasih yang Satu" karya Abdul Wachid B. S. adalah karya sastra yang penuh dengan kedalaman dan makna. Melalui bahasa yang puitis dan gambaran yang kuat, penyair membahas tema tentang kehidupan, kasih sayang, dan hubungan antara manusia.

Tema Sakit dan Kekasihan Ibu: Puisi ini dibuka dengan gambaran tentang seseorang yang terbaring dalam sakit dan memanggil "ibu". Tema sakit menghadirkan momen kelemahan dan ketidakpastian dalam hidup, sementara panggilan "ibu" menyoroti peran ibu sebagai figur penyokong dan pelindung dalam kehidupan seseorang. Ini mengeksplorasi rasa aman dan kasih sayang yang diberikan oleh seorang ibu, terutama dalam situasi sulit.

Puisi sebagai Ekspresi Perjalanan Hidup: Penyair menggambarkan seorang lelaki yang berkarib pada batu-batu, tetapi surga lebih dekat pada ujung jemari wanita yang mengerti dirinya. Ini menciptakan kontras antara kekerasan dunia dan kelembutan hubungan antara pria dan wanita. Puisi menggambarkan perjalanan hidup yang penuh dengan kompleksitas, di mana bahasa kasih-sayang disusun melalui tangga-tangga menuju pemahaman dan ketenangan.

Simbolisme Alam dan Jembatan Hati: Penggunaan merpati putih sebagai simbol alam yang menghilang dan kebutuhan akan jembatan (hati) menciptakan gambaran tentang hubungan yang rusak antara manusia dan alam. Jembatan hati menjadi penghubung untuk melepaskan anak-anak dan kita menuju rumah mereka sendiri, menyoroti pentingnya kasih sayang, pengertian, dan hubungan antarmanusia.

Pencarian Makna Hidup dan Kemanusiaan: Puisi ini mencakup pencarian makna hidup dan kemanusiaan. Pertanyaan apakah seseorang bisa mencabut belati yang menancap di daging puisi menunjukkan keinginan untuk membebaskan diri dari penderitaan dan rasa sakit yang dihadapi dalam kehidupan. Kekasih yang satu, dari Adam, diangkat sebagai sumber pemahaman tentang ciptaan, Tuhan, dan identitas diri.

Kedalaman Puitis dan Kebijaksanaan: Penyair menggunakan bahasa puitis yang mendalam untuk menyampaikan pemikiran dan perasaan. Puisi ini tidak hanya menggambarkan kehidupan manusia, tetapi juga menyentuh makna hidup, kasih sayang, dan perjalanan manusia dalam pencarian identitas dan makna kemanusiaan.

Puisi "Kekasih yang Satu" karya Abdul Wachid B. S. adalah karya yang sarat makna, mengeksplorasi tema sakit, kasih sayang, dan perjalanan hidup. Melalui bahasa puitisnya, penyair menciptakan gambaran tentang hubungan manusia dengan alam, ibu, dan kekemanusiaan. Puisi ini menggambarkan kerumitan dan keindahan kehidupan manusia, sambil menyoroti kekuatan kasih sayang dan kebijaksanaan dalam menghadapi tantangan hidup.

Abdul Wachid B. S.
Puisi: Kekasih yang Satu
Karya: Abdul Wachid B. S.
© Sepenuhnya. All rights reserved.