Puisi Kematian
tiga orang masa lalu bersimpuh
membaca puisi kematiannya
di depan batu-batu nisan
yang bertepuk tangan mendengarkannya
di depan cermin kita tak sempat berkaca
padahal jalan kembali terus kita ziarahi
dalam keyakinan yang terus menatap
garis tepi kehidupan
tiga orang masa lalu itu
terus memelihara irama suaranya
meskipun gelombang sunyi
lelah mengulum mulut mereka
sepanjang jalan tuhan
barangkali kelak kaupun akan sampai
pada takdir kemahapastian itu
membaca puisi kematian
dengan suara yang bergema tanpa ruang dan
waktu
Banjarbaru, 2003
Sumber: Salawat Laut (Pustaka Banua, 2013)
Analisis Puisi:
Puisi "Puisi Kematian" karya Ariffin Noor Hasby merupakan puisi kontemplatif yang mengajak pembaca merenungkan kematian sebagai kepastian hidup yang tidak dapat dihindari. Dengan simbol-simbol seperti nisan, cermin, ziarah, dan jalan Tuhan, penyair menyampaikan bahwa kehidupan di dunia hanyalah perjalanan sementara menuju keabadian.
Puisi ini tidak memandang kematian sebagai sesuatu yang menakutkan, melainkan sebagai kenyataan yang pasti akan dialami setiap manusia. Oleh karena itu, pembaca diajak untuk melakukan introspeksi dan mempersiapkan diri sebelum tiba pada "garis tepi kehidupan".
Tema
Tema utama puisi ini adalah kematian sebagai kepastian hidup dan ajakan untuk melakukan perenungan diri. Tema-tema pendukung yang muncul dalam puisi ini meliputi:
- Kefanaan manusia.
- Introspeksi diri.
- Perjalanan spiritual.
- Keimanan.
- Kehidupan setelah kematian.
Puisi ini bercerita tentang manusia yang merenungkan kematian sebagai bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan.
Pada bait pertama, penyair menghadirkan tiga sosok dari masa lalu yang seolah membaca "puisi kematiannya" di depan batu-batu nisan. Gambaran ini menunjukkan bahwa mereka telah melewati kehidupan dunia dan kini menjadi bagian dari kenangan sekaligus pengingat bagi yang masih hidup.
Pada bait berikutnya, penyair menyatakan bahwa manusia sering tidak sempat "berkaca" atau mengintrospeksi diri, padahal perjalanan menuju kematian terus berlangsung setiap hari.
Selanjutnya, tiga sosok masa lalu tetap menjaga suaranya meskipun kesunyian telah menyelimuti mereka. Hal ini melambangkan bahwa nilai-nilai kehidupan seseorang akan tetap dikenang meski raganya telah tiada.
Puisi ditutup dengan pengingat bahwa suatu hari setiap manusia akan mencapai takdir yang sama, yaitu membaca "puisi kematian" masing-masing ketika memasuki kehidupan yang abadi.
Makna Tersirat
Makna tersirat puisi ini adalah bahwa kematian merupakan kepastian yang seharusnya mendorong manusia untuk lebih banyak melakukan introspeksi, memperbaiki diri, dan mempersiapkan bekal kehidupan setelah dunia.
Ungkapan:
"di depan cermin kita tak sempat berkaca"
menyiratkan bahwa manusia sering sibuk dengan urusan dunia hingga lupa menilai dirinya sendiri.
Sementara itu, larik:
"jalan kembali terus kita ziarahi"
mengandung makna bahwa setiap hari manusia sebenarnya sedang berjalan menuju kematian, meskipun sering tidak menyadarinya.
Puisi ini juga mengingatkan bahwa nama, amal, dan jejak kehidupan seseorang akan tetap bergema setelah dirinya meninggal dunia.
Amanat atau Pesan yang Disampaikan
Beberapa amanat yang dapat dipetik dari puisi ini adalah:
- Kematian merupakan kepastian yang akan dialami setiap manusia.
- Manusia hendaknya menggunakan hidup untuk memperbaiki diri sebelum ajal tiba.
- Introspeksi diri sangat penting agar kehidupan memiliki makna.
- Amal dan kebaikan akan menjadi warisan yang terus dikenang setelah seseorang meninggal.
- Kesadaran akan kematian seharusnya membuat manusia lebih rendah hati dan lebih dekat kepada Tuhan.
Puisi "Puisi Kematian" karya Ariffin Noor Hasby merupakan puisi reflektif yang mengangkat kematian sebagai kepastian sekaligus pengingat agar manusia menjalani hidup dengan penuh kesadaran. Penyair mengajak pembaca untuk tidak hanya memikirkan kehidupan dunia, tetapi juga mempersiapkan diri menghadapi perjalanan menuju Tuhan.
Puisi ini menegaskan bahwa setiap manusia akan sampai pada akhir perjalanan, sehingga yang paling penting adalah meninggalkan jejak kebaikan yang akan terus bergema meskipun ruang dan waktu telah berlalu.
Karya: Ariffin Noor Hasby
Biodata Ariffin Noor Hasby:
- Ariffin Noor Hasby lahir pada tanggal 20 Februari 1964 di Marabahan, Kabupaten Batola, Kalimantan Selatan.